
Pelangi » Refleksi | Jum'at, 24 Juli 2009 pukul 15:00 WIB
Penulis : Setta SS
Satu.
Pernahkah Anda membaca lembar persembahan di sebuah Skripsi atau Tesis?
Karya kecil ini kupersembahkan untuk yang terkasih, tersayang, dan tercinta …
Dia menuliskan nama ayah dan ibunya, nama kakak, adik-adiknya, juga nama keponakan semata wayangnya. Dan tak ketinggalan, kekasih hatiku X. X adalah nama lengkap kekasih hatinya (baca : pacarnya) saat itu.
Tetapi, tahukah Anda, dua setengah tahun kemudian sang penulis yang menulis di lembar persembahan itu menikah dengan siapa?
Tepat sekali, ia menikah dengan orang lain yang justru baru dikenalnya di tempat kerjanya. Begitulah takdir berbicara.
Dua.
Sabtu pagi itu, selepas shalat Shubuh, saya bergegas mandi. Lalu mengisi botol aqua dengan air dari galon. Memakai deker di kedua lutut. Memasukkan sepasang sepatu Diadora warna biru tua yang didesain khusus untuk futsal dan dua pasang kaos kaki warna putih ke dalam tas.
Sabtu pagi jam enam sampai jam delapan adalah jadwal rutin saya latihan futsal bersama teman-teman sehobi. Saya sangat menyukai olah raga yang satu ini selain sepakbola. Dan karenanya, Sabtu pagi adalah waktu yang selalu saya tunggu-tunggu kehadirannya dengan penuh antusias.
Pelle, tempat kami rutin ‘mencari keringat’ itu cukup jauh jaraknya dari pondokan saya. Jika ditempuh dengan sepeda motor sekitar 20 menit perjalanan, namun jika harus naik angkutan umum, satu jam belum tentu sampai ke Pelle. Selain tidak dilewati rute angkutan umum dan harus naik angkot dua kali sebelum ditempuh dengan jalan kaki, jam setengah enam pagi di Yogyakarta angkutan umum belum beroperasi.
Malam sebelumnya, seorang teman sudah berjanji akan menjemput saya ke pondokan. Tetapi, hingga tiga puluh menit lewat dari pukul enam pagi, ia belum juga tiba. Saya pun was-was. SMS yang saya kirim pending karena ponselnya ternyata tidak aktif. Beberapa teman yang lain, ponsel mereka aktif saat dihubungi, tapi tak ada seorang pun yang mengangkatnya. Bah!
Maaf, tadi pagi ketiduran lagi setelah shalat Shubuh …
Pesan pendek itu masuk ke ponsel saya di sore hari. Sejujurnya, saya masih dongkol pada si pengirim saat membaca SMS-nya itu. Karena pagi itu saya tidak jadi bermain futsal.
Ya, guratan tanganNya tak jarang meleset jauh dari apa yang sudah kita rencanakan dengan matang dan seksama. Terkadang lebih sering melenceng dari jangkauan akal dan perkiraan logika sederhana kita. Ia hanya cukup mengatakan, kun fayakun! untuk mengunci berbagai kemungkinan kejadian menjadi nihil adanya. Hingga tak seorang pun kuasa untuk menolaknya.
Tiga.
Begitu pun dengan kabar kedatangan salah satu tim sepakbola raksasa Eropa, Manchester United, ke Jakarta untuk sebuah pertandingan bertajuk Asian Tour 2009 Manchester United melawan tim Indonesia All-Star yang sudah digembor-gemborkan lewat berbagai iklan di media sejak tiga bulan silam. Senin malam lalu, 20 Juli 2009, pukul 19.00 WIB, kick-off kedua tim dijadwalkan berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno dan akan disaksikan langsung oleh tak kurang 70.000 pasang mata pemilik tiket yang sudah tak sabar menantikannya.
Namun, realita yang diharapkan segera terwujud itu seketika pudar dan tinggal menyisakan puing-puing kekecewaan di dada para fans. Hanya berselang beberapa saat setelah bom bunuh diri meledak di Hotel Ritz Carlton pada Jum’at pagi, 17 Juli 2009, kesepakatan hitam di atas putih pun langsung dibatalkan sepihak oleh manajemen Manchester United lewat situs resmi mereka karena alasan keamanan. Tentu bukan sebuah kebetulan belaka jika sasaran bom bunuh diri adalah Hotel Ritz Carlton, tempat dimana tim dan official Manchester United akan menginap selama tinggal beberapa hari di Jakarta. Yakinlah, Tangan Tuhan pun terlibat di sana.
Maka, seperti kata pepatah, man proposes, but God disposes, manusia merencanakan, tetapi Tuhanlah yang menentukan segalanya. Setiap orang berhak memiliki perencanaan hidup, akan tetapi harus tetap disertai kesadaran penuh bahwa semua perencanaan itu baru sebatas wacana. Dan hanya Dia di atas sana yang berhak memutuskan terlaksana atau tidaknya setiap rencana-rencana itu pada akhirnya.
***
2o Juli 2oo9 o4:o8 p.m.
KotaSantri.com © 2002-2026