|
QS. Ali Imran : 3 : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. "
|
|
|
http://hifizahn.multiply.com |





Rabu, 8 Juli 2009 pukul 16:49 WIB
Penulis : Hifizah Nur
Setelah 2 bulan melalui hari-hari sebagai ryuugakusei (siswa asing) di Tokai University, ada satu pelajaran yang paling berharga bagi saya, yaitu belajar menikmati perbedaan. Di kelas saya, para muridnya berasal dari berbagai negara yang berbeda. Indonesia, Nepal, Thailand, Cina, Rusia, Amerika, Korea, dan Norwegia. Dengan berbagai karakter yang berbeda, para sensei berusaha untuk membuat kami berbaur, berdiskusi, meskipun hanya seputar mengerjakan soal-soal bahasa Jepang atau membahas materi presentasi. Tapi, buat saya, yang sangat menonjol perbedaannya dari mereka, karena jilbab saya, sangat berkesan.
Dahulu, saya termasuk orang yang eksklusif. Tidak terlalu banyak bergaul dengan teman-teman semasa kuliah. Tapi di sini, ketika saya menjadi minoritas, saya jadi tahu bagaimana rasanya menjadi orang yang "berbeda" dari yang lain. Di kampus pun sama, dengan berusaha meningkatkan rasa PD, saya berusaha berinteraksi dengan teman-teman dari berbagai negara dengan tanpa mengorbankan prinsip-prinsip saya sebagai muslim. Tetap berusaha shalat di kelas, meskipun sambil diperhatikan teman-teman yang sedang makan siang. Mungkin mereka pikir, "Ini orang kok PD banget menjalankan ibadah di keramaian." Lama-lama mereka terbiasa juga dengan ritual saya itu.
Pernah ketika ada program jalan-jalan, saya pernah meminta bantuan sensei (dosen) untuk mencari tempat shalat. Dan responnya, subhanallah, tanpa sungkan atau bertanya ini itu, sensei yang juga wali kelas saya, mencarikan tempat plus alas shalat untuk saya.
Saya jadi merenung, mungkin kalau saya menjadi ryuugakusei beberapa tahun yang lalu, atau ketika saya S1, saya tidak akan mampu menikmati perbedaan ini. Mengingat sikap kaku saya terhadap teman-teman kampus dulu. Tetapi alhamdulillah, manusia diberi kesempatan untuk berkembang dan tumbuh dewasa. Dewasa dalam hal pemahaman (pemikiran) maupun emosi. Dengan proses yang panjang, sejalan dengan pemahaman Islam saya yang semakin bertambah, tingkat ke-PD-an saya memegang teguh Islam ini, tanpa diikuti sikap kaku, bisa dikembangkan.
Hal ini bukan berarti saya sudah sempurna sebagai manusia, juga sebagi muslim. Bukan. Saat ini saya hanya belajar bagaimana agar saya bisa hidup dalam perbedaan, dan enjoy di dalamnya. Hal lain yang perlu saya pelajari adalah bagaimana menjaga kesetimbangan peran-peran saya yang sudah mulai goyang saat ini, ditelan kesibukan belajar yang ternyata jauh lebih sulit dari yang saya bayangkan. PR yang harus diselesaikan secepatnya.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Hifizah Nur sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.