Umar bin Abdul Aziz : "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika engkau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."

Uji Coba Versi Baru

Saran dan masukan silahkan disampaikan melalui Form Kontak.
Alamat Akun
http://setta.kotasantri.com
Bergabung
12 Februari 2009 pukul 06:00 WIB
Domisili
Lubuk Linggau - Sumatera Selatan
Pekerjaan
Hope being a Scientist
Setta SS. Pria kelahiran Lubuk Linggau, Sumatera Selatan, 22 Desember 1981. Sulung dari empat bersaudara pasangan Hendy UP dan Bunda Sopiah. Menghabiskan masa kanak-kanak hingga lulus SMA di Karang Kandri, sebuah kampung kecil di ujung barat Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Mantan Pemimpin Redaksi medi@com, 2oo3, sebuah media ajang kreativitas menulis …
http://setta81.multiply.com
setta_81@yahoo.com
setta_81@yahoo.com
Tulisan Setta Lainnya
Jilbab Kondangan
22 Juni 2009 pukul 09:30 WIB
Awas : Fitnah!
12 Juni 2009 pukul 08:33 WIB
Berempati pada MakhlukNya
6 Juni 2009 pukul 08:08 WIB
Menunggu Hujan Reda
31 Mei 2009 pukul 08:08 WIB
Einstein di Surga atau Neraka?
24 Mei 2009 pukul 09:30 WIB
Santri
Ibnu Muttaqin
Mahasiswa
Purwokerto
Rahmat Hidayat
Guru
Deli Serdang
hafid isma
programer
jember
Forum
Suara
septyawaty : Mau tanya dong maksud dari: "oleh sebab itu , barang siapa yang menyerang kamu,maka seranglah mereka sebagaimana mereka menyerang kamu" (Al-Baqarah ;194)
gerhana : pagi ini mnyenangkan..... +++++ alhamdulillah.... g percuma masak air pagi2
ida : Aku kotor...bagai kertas bernoda yg penuh debu.."aku sibuk membicarakan kekurangan org lain namun lalai atas kekuranganku"
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Senin, 29 Juni 2009 pukul 08:08 WIB

Saya Belajar dari Ayah

Penulis : Setta SS

Genap lima belas hari yang lalu, ayah saya menyempatkan mampir ke Yogyakarta sebelum bertolak ke Batu, Malang, untuk keperluan dinas dari kantornya. Beliau sampai dengan taksi selepas ‘Ashar, setelah sehari sebelumnya menjenguk kedua orangtuanya, nenek kakek saya, di Cilacap. Sekarang Ayah masih bertugas di sebuah instansi plat merah di kota kelahiran saya di tanah Andalas.

Sabtu malam itu, sepulang dari TB Togamas, Ayah mengajak saya makan malam di warung makan tenda tak jauh dari tempat saya tinggal. Kami memesan dua porsi nasi goreng dan dua gelas jeruk hangat.

Sambil menunggu pesanan tersaji, saya membaca-baca sekilas sebuah buku non-fiksi baru yang dibeli dari TB Togamas. Tak lama berselang, nasi goreng pesanan kami tiba. Saya letakkan buku baru itu di atas meja tepat di depan saya. Dan akan mulai mencicipi nasi goreng bagian saya.

Warna dan ilustrasi cover buku itu ternyata menarik perhatian seorang mahasiswa yang duduk tepat bersebrangan dengan meja saya. Tanpa sungkan, ia minta izin meminjamnya sebentar. Ia membuka lembar demi lembar buku itu penuh minat. Hingga kemudian terciptalah dialog di antara kami, saya dan dia, seputar isi buku, memecah kebekuan yang gagu. Belakangan ayah saya juga ikut nimbrung.

Mahasiswa supel itu lahir di Purwokerto, sebuah kota di Jawa Tengah dimana terdapat Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) di dalamnya. Dan, kebetulan ayah saya menghabiskan sekolah menengahnya di kota itu, pertengahan dekade tahun 1970-an, hingga masih hafal betul seluk beluk tata kotanya meski sudah jauh berkembang saat ini. Saya yang tidak begitu akrab dengan Purwokerto, cukup menjadi pendengar yang baik saja. Hanya sesekali menimpali obrolan hangat mereka.

Dan, tibalah satu lagi episode yang saya kagumi dari pribadi ayah saya. Saat mahasiswa itu pamitan untuk pulang lebih dulu dan hendak membayar uang makannya, dengan sigap ayah saya bilang, “Biar saya yang bayar.”

Mahasiswa itu tampak sungkan dan berusaha mati-matian untuk membayarnya sendiri. Tapi, tak kalah antusias, ayah saya meyakinkannya dan si pemilik kedai tenda untuk menolak uang yang disodorkan kepadanya oleh si mahasiswa tadi.

Saya tersenyum diam-diam menyaksikan adegan itu. Dan itu bukan kali pertama saya melihatnya saat-saat bersama Ayah.

Ayah suka berbagi dengan orang lain, bahkan pada mereka yang baru beberapa menit dikenalnya. Jiwa philanthropist-nya cukup potensial untuk diwariskan pada kami, empat orang anak-anaknya.

Saya pun masih ingat, ketika terjadi invasi brutal Israel ke Jalur Gaza di penghujung Desember 2008 silam. Saat itu saya mengirim sebuah SMS berisi sebuah nomer rekening lembaga penyalur dana kemanusiaan ke Gaza.

Beberapa hari kemudian, Ayah membalas SMS itu, “Pagi ini sudah ditransfer sejumlah uang ke rekening itu. Semoga berkah.”

Begitulah, ayah saya telah mengajarkan sesuatu yang berharga lewat perbuatan nyata tanpa banyak berkata-kata.

***

28 Juni 2oo9 o2:21 a.m.

Seni seviyorum, Dad!

--- Suka ---

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Setta SS sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Tulisan Favorit
rainbow | Karyawan Swasta
KSC makin keren sekarang, fitur-fiturnya udah kaya FB aja. ;)
KotaSantri.com © 2002 - 2010
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1238 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels