Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
Alamat Akun
http://setta.kotasantri.com
Bergabung
12 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Mampang Prapatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Analis Industri
Penikmat sastra, admin situs Cerpen Koran Minggu di http://lakonhidup.wordpress.com
http://lakonhidup.wordpress.com
setta_81@yahoo.com
setta_81@yahoo.com
Tulisan Setta Lainnya
Awas : Fitnah!
12 Juni 2009 pukul 15:33 WIB
Berempati pada MakhlukNya
6 Juni 2009 pukul 15:08 WIB
Menunggu Hujan Reda
31 Mei 2009 pukul 15:08 WIB
Einstein di Surga atau Neraka?
24 Mei 2009 pukul 16:30 WIB
Aku Mencintaimu
18 Mei 2009 pukul 15:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Senin, 22 Juni 2009 pukul 16:30 WIB

Jilbab Kondangan

Penulis : Setta SS

Andai saya boleh berandai-andai. Andai setiap hari adalah hari kondangan. Tapi saya yakin, akan ada banyak orang yang protes. Karena kondangan berarti menghadiri acara syukuran khitanan atau resepsi pernikahan atas undangan dari keluarga dekat, sahabat, tetangga sekampung, atasan atau bawahan di kantor, dan ada kalanya undangan itu datang dari orang yang tidak kita kenal sebelumnya. Seperti undangan secara lisan dengan metode kolenang, yaitu satu kampung diundang semua tanpa memperhatikan apakah orang yang diundang itu mengenal si empunya hajat atau tidak.

Dan, tentu saja, kita datang tidak semata dengan tangan kosong. Meskipun di kartu undangan atau yang diucapkan secara lisan oleh orang yang dipercaya menyampaikan undangan dengan sangat jelas hanya menyebutkan “mohon do'a dan restu”. Tetap saja, kita merasa tidak enak kalau datang hanya untuk mencicipi hidangan yang disediakan dan kemudian pamit pulang tanpa memberikan apa-apa.

Sehingga pada akhirnya, seperti yang sudah menjadi tradisi, ada yang ngamplop, memberikan kado, membawa beras, dan berbagai jenis makanan lainnya. Ada juga yang membawa seekor ayam jago seperti tradisi di kampung kelahiran saya di Sumatera sana. Yang jika diringkas, intinya adalah kondangan berarti menyumbang.

Tapi bukan hal itu yang ingin saya bahas pada kesempatan ini. Namun, tentang hal lain yang jauh lebih urgent untuk kita gali sebagai sebuah wacana.

Seperti pagi ini, saya duduk-duduk di teras rumah memperhatikan ibu-ibu muda, setengah baya dan beberapa gadis remaja berangkat kondangan. Beriringan menuju rumah tetangga dekat yang sedang mengadakan syukuran pernikahan. Dari ratusan warga kampung saya dan kampung sebelah yang berangkat kondangan, hanya ada satu-dua yang tidak mengenakan busana muslimah.

Ya, kampung kecil saya berubah menjadi Kota Santri pagi ini. Alhamdulillah, syukur saya sambil diam-diam berdo'a semoga hari-hari berikutnya tetap seperti pagi ini.

Ternyata harapan tinggal harapan. Bahkan tidak perlu menunggu hari esok tiba. Sepulang dari acara kondangan itu, mereka, para wanita di kampung saya, sudah menanggalkan kembali busana muslimah yang mereka pakai. Dan bangga hanya dengan mengenakan pakaian ala kadarnya seperti hari-hari sebelumnya. Begitulah fakta yang ada.

Saya jadi teringat saat seorang pembicara kultum shalat Tarawih menyatakan rasa syukurnya tentang fenomena maraknya pemakai jilbab, khususnya ibu-ibu yang sudah lanjut usia, di lingkungan warga kami. Beliau menyebutnya sebagai tradisi yang baik. Tanpa menegaskan bahwa sesungguhnya memakai jilbab adalah sebuah kewajiban bagi setiap muslimah yang sudah kedatangan haid.

Bahwa jilbab harus dipakai tidak hanya saat mendatangi pengajian di masjid, pergi kondangan, bertakziah, dan saat pergi ke sekolah atau kampus yang ‘mewajibkan’ para siswi dan mahasiswinya mengenakan jilbab saja. Tetapi di mana pun dan kapan pun.

Saya merasa terpanggil untuk menjelaskan kembali hal ini kepada mereka, para wanita di kampung saya. Sehingga saat giliran kultum saya tiba, saya mencoba meluruskan kembali pandangan mereka tentang jilbab dengan mengutip terjemah Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 59 dan surat An-Nuur ayat 31. Juga beberapa hadits yang membahas tentang kewajiban untuk memakainya.

Bagaimana hasilnya?

Memang tidak ada perubahan signifikan. Mereka masih tetap nyaman dengan pakaian keseharian mereka seperti biasanya. Akan tetapi, saya merasa sedikit lega, setidaknya saya sudah menyampaikan sebuah kebenaran dengan apa adanya pada mereka. Dan adalah hak mereka sepenuhnya untuk memilih sekaligus bertanggung jawab atas pilihan mereka sendiri.

Bukankah hanya sebatas itu kewajiban saya?

Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. (Q.S. Al-Ghaasyiyah [88] : 21-22).

Bagaimana dengan para wanita di kampung Anda?

***

24 Januari 2oo6 11:5o a.m.

http://lakonhidup.wordpress.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Setta SS sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Wuri Handayani | Mahasiswi
Tulisan teman-teman di KSC senantiasa selalu menjadi bahan inspirasi tarbiyah aku. Jazakillah khair.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.2525 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels