HR. At-Tirmidzi : "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak."
Alamat Akun
http://suswoyo.kotasantri.com
Bergabung
12 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Purwokerto - Jawa Tengah
Pekerjaan
Swasta
Sus Woyo adalah mantan TKI di Brunei Darussalam. Sekarang tinggal di Baturraden, Purwokerto, Jawa Tengah.
Tulisan Sus Lainnya
Pemabuk Cinta
4 Juni 2009 pukul 16:09 WIB
Ayat-Ayat Cinta
14 Mei 2009 pukul 16:00 WIB
Ada Apa dengan Mertua?
25 April 2009 pukul 17:20 WIB
Pesan Tauhid dari Jatinegara
23 April 2009 pukul 16:00 WIB
Dzikir untuk Sang Bupati
10 April 2009 pukul 15:23 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 11 Juni 2009 pukul 15:30 WIB

Pribadi Sukses

Penulis : Sus Woyo

Tidak ada jalan menuju sukses, baik dunia maupun akhirat, selain dengan mengatur diri dengan baik. Dan tidak ada jalan lain yang akan menerangi kita, kecuali dengan cara menggali diri kita sendiri.

Seorang lelaki 30-an, mantan TKI di sebuah negeri jiran itu sedang merenungi perjalanan dirinya beberapa waktu yang lalu, saat ia masih ada di rantau. Ia mengingat betapa pekerjaan yang ia hadapi, adalah suatu episode kehidupan yang baginya adalah sangat memilukan.

Pukul tiga dini hari, ia harus bangun dan sudah harus memulai sebuah pekerjaan. Sementara teman yang lain masih bisa memperpanjang tidurnya sampai adzan subuh berkumandang.

Pagi hari, saat teman yang lain bisa menikmati kopi sambil nonton TV, dia harus sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk kepentingan anak-anak sang majikan yang mau berangkat ke sekolah.

Dan masih banyak lagi hal-hal yang sangat tidak ia sukai selama dua tahun bekerja di sebuah rumah majikan yang tidak begitu memperhatikan hak-hak pekerjanya. Bahkan ia sering muak dengan itu semua, jika ia mengingatnya.

Beberapa waktu kemudian, saat ia sudah ada di tanah air, lambat laun perasaan itu mulai hilang. Apalagi setelah mengingat bahwa, tak ada sesuatu pun di dunia ini yang tidak berhikmah.

Empat belas jam kerja tanpa dihitung lembur, jelas perilaku biadab yang tidak manusiawi. Namun ia sadari, bahwa kenapa mau-maunya pergi ke luar negeri, jika hanya perlakuan seperti itu yang ia terima?

Sekarang laki-laki itu balas dendam. Bukan kepada majikannya yang memperlakukan jahat seperti itu. Tapi ia dendam terhadap dirinya sendiri. Setelah merasa dibodohkan, ia tidak mau mengulang hal yang demikian lagi di luar negeri.

Suasana kerja yang begitu menyengsarakan, tak begitu saja bisa lupa dari ingatannya. Lagi-lagi ia selalu terngiang tentang hukum sebab akibat, aksi reaksi, dan yang lebih lagi adalah tentang menejemen hikmah.

Laki-laki itu, sekembalinya ke tanah air, tetap mencoba mengatur waktu seperti yang ia lakukan di negeri orang dan untuk majikannya. Bangun jam tiga, dan terus mengerjakan sesuatu yang bisa ia kerjakan untuk menambah masukan (income) untuk keluarganya. Sekarang, ia tidak bekerja untuk orang lain, tetapi untuk dirinya sendiri. Kalau dulu ia sebagai employee, meminjam istilah Robert T. Kiyosaki, tetapi ia sekarang menjadi pebisnis. Usaha untuk dirinya sendiri.

Ia merasa sangat puas. Ia merasa menjadi raja bagi dirinya sendiri dan tidak ada yang mengatur-atur seperti bekerja pada seorang majikan. Ia terus bekerja sampai pukul enam sore.

Apa yang sekarang ia peroleh dari hikmah itu? Ia merasa puas. Merasa tertantang untuk memaksimalkan kinerjanya. Ia makin semangat, karena hasilnya untuk sendiri, bukan untuk majikan.

Laki-laki itu sekarang telah menjadi pengusaha. Ia merasa telah menjadi pribadi yang sukses, walau usahanya belum sesukses Bob Sadino atau dinasti Bakrie. Ia telah merasa sukses karena telah berhasil memenej dirinya sendiri. Minimal cara pandang terhadap kehidupannya, makin hari makin lain. Motivasinya untuk berwirausaha sendiri lebih besar ketimbang menjadi seorang yang mempunyai ketergantungan kepada majikan.

Sekarang, ia sangat menghargai apa yang namanya waktu. Tak ada sedetik pun waktu yang ia sia-siakan. Pelajaran di rantau, benar-benar ia ambil hikmahnya untuk memacu dirinya. Ia terus menggali potensi dirinya.

Ia merasa bersyukur kepada Tuhan, bahwa ia ditemukan dengan anak muda shaleh yang selalu mendampinginya untuk terus memotivasi usahanya. Cara pandangnya terhadap kehidupan juga sudah mulai berubah.

Ia ingin menjadi orang sukses. Ia tidak menginginkan kelak anaknya sengsara dan menggantungkan gaji kepada orang lain, apalagi ke luar negeri sebagai kuli kasar seperti dirinya. Laki-laki itu sedang menapaki episode kehidupan untuk menjadi seorang usahawan sejati.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sus Woyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

agung sutrisno | PNS
Isinya bagus, ringan, gampang dibaca, dan menyentuh kehidupan sehari-hari. Keep on good works!!!

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1182 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels