HR. Muslim : "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada sosokmu dan hartamu, tetapi Dia akan melihat kepada hatimu dan amalanmu."
Alamat Akun
http://suswoyo.kotasantri.com
Bergabung
12 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Purwokerto - Jawa Tengah
Pekerjaan
Swasta
Sus Woyo adalah mantan TKI di Brunei Darussalam. Sekarang tinggal di Baturraden, Purwokerto, Jawa Tengah.
Tulisan Sus Lainnya
Ayat-Ayat Cinta
14 Mei 2009 pukul 16:00 WIB
Ada Apa dengan Mertua?
25 April 2009 pukul 17:20 WIB
Pesan Tauhid dari Jatinegara
23 April 2009 pukul 16:00 WIB
Dzikir untuk Sang Bupati
10 April 2009 pukul 15:23 WIB
Ikatlah Untamu, dan Pasrahlah padaNya
22 Maret 2009 pukul 18:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 4 Juni 2009 pukul 16:09 WIB

Pemabuk Cinta

Penulis : Sus Woyo

Seorang teman, setiap hari menerima SMS dan telepon berkali-kali dari pacarnya yang sedang bekerja di Singapura. Menjelang tidur, ponsel mulai berdering sampai malam. Pagi hari pun, dia masih sering menerimanya, biar pun malam hari sudah berkali-kali SMS-an. Yang jelas, dia yang di negeri Singa itu tak pernah bosan untuk memulainya terlebih dahulu. Baik dalam bentuk 'short message', ataupun telepon.

Laki-laki itu selalu melayaninya juga. Tak peduli apakah itu jam kerja ataupun jam tidur. Jika SMS dan telepon itu datang dari yang dikasihinya, ia akan tetap menjawab biar pun ia dalam kondisi yang kadang merepotkan. Demi cinta, halangan akan menjelma menjadi kemudahan.

Saya tak begitu heran dengan perilaku semacam itu. Sebab setiap orang pun pernah mengalami hal yang demikan. Seseorang yang sedang menyenangi sesuatu, cenderung akan menyerahkan segala-galanya kepada yang disenangi. Minimal akan sangat mudah untuk berkorban.

Saat Ramadhan waktu itu, saya sempat memperhatikan dengan seksama waktu-waktu perempuan itu mulai SMS ke Brunei. Dimulai sejak membangunkan sahur, kemudian saat makan sahur, menjelang imsak, dan ia juga masih mengingatkan agar jangan sampai lupa subuh.

Petang hari biasanya mulai lagi. Dari hanya mengucapkan 'selamat berbuka puasa'. Mengingatkan agar jangan sampai ketinggalan tarawih, dan sampai menjelang tidur lagi. Mereka tak bosan-bosan untuk terus berkomunikasi.

Saat akan berangkat bekerja, perempuan itu masih terus mengingatkan agar selalu hati-hati di jalan dan selalu ingat Allah. Sang lelaki juga makin cinta, karena perhatian dari kekasihnya luar biasa.

Jika mau dikalkulasi dengan rupiah, entah berapa rupiah pulsa yang ia terbangkan ke Brunei setiap harinya. Seorang teman bahkan pernah berkelakar, "Gaji kekasihmu bekerja di Singapura nanti habis hanya untuk membeli pulsa."

Si laki-laki sempat khawatir juga disinggung seperti itu. Ia bahkan berkali-kali mengingatkan agar supaya tak terlalu sering SMS ataupun telepon. Namun himbauan itu tak pernah diindahkan.

Tak ada yang bisa membendung tindakannya. Semua itu berasal dari sesuatu yang bernama cinta. Kalau sudah kata itu yang bicara, makanan tidak enak pun rasanya menjadi enak. Tahi kucing pun serasa coklat. Apalagi jika benar-benar coklat, pasti terasa segala-galanya. Pendek kata, cinta sering membawa kita kepada tindakan yang tidak berlogika.

Perempuan itu memang sedang dimabuk cinta. Batas-batas kenegaraan yang berupa laut, dengan jarak yang jutaan kilometer, tak menghalangi dia untuk terus eksis berkomunikasi. Berapa pun pulsa yang dia habiskan, itu semua tak menjadi soal. Yang penting cinta.

Saya menjadi menghayal sendiri. Jika cinta itu kita tujukan kepada sang Pencipta. Seandainya rasa cinta kita, kita praktekan dalam hubungannya dengan sang pembuat kehidupan ini. Tentu, akan mendapat sambutan yang luar biasa.

Seandainya kita terus belajar untuk memupuk cinta kita kepada Allah. Seandainya hidup kita, mati kita, ibadah kita, langkah kita hanya karena ingin dicintai Allah, betapa besarnya balasan cinta Dia kepada kita.

Sayang, hamba yang lemah ini, masih amat suka memupuk cinta kepada sesuatu yang sesaat. Kita sering lupa untuk memupuk cinta yang sejati, cinta yang abadi. Sehingga untuk mengorbankan waktu saja, demi cintanya kepadaNya, kita sering berpikir berkali-kali.

Tak ada salahnya jika kita mau belajar tentang aplikasi cintanya orang-orang shaleh kepada sang Pencipta. Korban waktu, tenaga, harta bukanlah sesuatu yang memberatkan bagi pemabuk cinta Illahi. Jangankan harta, nyawa pun akan diserahkan padaNya.

Tak berlogika? Sekilas bisa seperti itu, tapi lagi-lagi kita harus sadar, bahwa anugerah cinta memang harus kita kelola dalam diri sebaik mungkin. Agar kata itu bisa menjelma menjadi kekuatan yang berakibat baik bagi diri sendiri dan sesama.

Power cinta bisa melahirkan tindakan positif yang luar biasa bila manajemen keimanan mendampinginya. Ringan tangan, mudah berbagi, tak menghindar dari berjuang, adalah hal-hal positif yang bisa kita awali dari sebuah rasa cinta kita terhadap hidup, kehidupan, dan yang membuat kita hidup.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sus Woyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Akhmad Muhaimin Azzet | Penulis
Membaca-baca di KotaSantri.com, di samping memetik motivasi dan inspirasi, betapa terasa damai di dada. Sungguh. Beginilah bila akhlak mulia yang dijunjung dan dijaga. Alhamdulillah...

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1092 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels