
Pelangi » Refleksi | Kamis, 14 Mei 2009 pukul 16:00 WIB
Penulis : Sus Woyo
Tak terhitung sudah Allah SWT berfirman lewat ayat-ayat 'kauniahNya'. Dalam beberapa tahun terakhir ini, serasa tak mampu kami menghitung berapa kali kejadian alam yang terjadi di dunia ini, termasuk di Indonesia. Dari angin ribut, tanah longsor, banjir, kebakaran hutan, gunung meletus, gempa biasa, sampai gempa di dasar laut sana yang disertai dengan gelombang tsunami.
Adakah yang perlu disalahkan dalam musibah ini? Adakah yang perlu dikambinghitamkankan dalam kejadian yang tak diinginkan ini? Tentu tidak ada. Tidak pak lurah, camat, bupati, gubernur, presiden, dan tidak juga para insinyur Geologi dan pakar gempa yang belum bisa mengantisipasi lebih cepat tentang akan adanya gempa atau musibah lainnya.
Jika sudah sampai ke batas itu, maka tak mungkin ada kesia-siaan dari segala kejadian yang menimpa kita, walaupun pada dasarnya betapa sulit kita menafsirkan apa di balik kejadian itu semua, karena betapa minimnya ilmu kita.
Orang-orang mengucap istighfar, termasuk yang sedang terlupa. Orang-orang menunduk untuk sementara waktu, karena Allah sedang berfirman lewat alam. Dan jika Sang Pencipta sudah berfirman dengan alam semesta ini, tak ada satu makhluk pun di dunia ini yang tidak tercengang. Maka sudah selayaknyalah kita cepat-cepat untuk mengagungkanNya. Jangan sampai kita pelit untuk membaca takbir, tahmid, dan tahlil.
Sekedar sebuah 'ibrah', barangkali bisa menjadi sebuah cermin bagi kita. Ada sebuah cerita yang saya temukan di sebuah pagi. Saya mendapati tetangga saya, baru saja memberi pelajaran kepada anaknya. Anak yang baru kelas dua itu menangis di sudut kamarnya. Saya melihat tangannya kebiruan karena ditampar dengan sandal. Dan katanya ia juga baru saja dimasukan ke dalam bak karena malas mandi.
Tak lama kemudian, ayahnya bicara dengan saya, bahwa ia sudah berkali-kali menyuruhnya untuk pergi ngaji, berbagai kata-kata serapah sering ia keluarkan demi kebaikan sang anak. Namun kata-kata dari ayahnya tidak pernah diindahkan. Akhirnya ia terpaksa, demi kasih sayangnya kepada sang anak, ia bertindak lebih keras. Karena dengan cara lemah lembut sudah tidak dihiraukan lagi. Tujuannya satu, supaya tak selamanya sang anak menjadi pemalas.
"Ini terpaksa saya lakukan, Mas. Kalau tidak dengan cara demikian, ia tak mau berangkat ngaji," komentar bapaknya.
Saya tak bermaksud menyamakan bentuk kasih sayang Allah dengan kasih sayang mahlukNya. Sama sekali tidak! Tapi, apa yang dilakukan seorang bapak terhadap anaknya itu, sedikit memberi gambaran, bahwa, jangan-jangan kita pun sedang berbuat mundur seperti anak kecil. Yang sudah berkali-kali diingatkan dengan Al-Qur'an, tapi betapa jauhnya kami dengan Al-Qur’an itu sendiri.
Kita sering sekali -meminjam istilah orang Jawa- berebut "balung tanpo isi". Merebut sesuatu yang sama sekali tak ada gunanya. Virus "takabur" atau kesombongan seolah sudah menjangkiti otak-otak kita. Sehingga permasalahan sangat kecil pun tak mampu kita selesaikan, karena selalu mengedepankan egonya sendiri-sendiri. Dan hasilnya adalah kebrutalan, kejahatan, dan banyak sekali perbuatan yang anarkis, hanya karena persoalan yang sangat remeh temeh. Itu semua bisa kita lihat dalam tayangan kriminal di seluruh stasiun tv di Indonesia.
Semoga semakin hari, kita semakin dewasa. Semakin bisa membaca sekaligus men-tadabbur-i ayat-ayat Allah yang disampaikan dengan media alam dan kejadian-kejadian di sekitar kita. Sebab tak mustahil, ternyata apa yang menimpa kita ternyata merupakan bentuk cintaNya kepada kita semua.
Wallahu a'lam.
KotaSantri.com © 2002-2026