Anis Matta : "Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis."
Alamat Akun
http://meraldanindyasti.kotasantri.com
Bergabung
9 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Sidoarjo-Malang - Jawa Timur
Pekerjaan
Mahasiswa
Tulisan Meralda Lainnya
(Sebelum) Terlambat Mengenalmu, Ibu...
7 Mei 2009 pukul 18:00 WIB
Selalu Terselip Amanah
20 April 2009 pukul 16:00 WIB
17 Juta, Aku Kaya?
4 April 2009 pukul 16:09 WIB
Jangan Mudah Mengaku Sibuk
21 Maret 2009 pukul 15:40 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Sabtu, 9 Mei 2009 pukul 16:01 WIB

Sungguh Hina!

Penulis : Meralda Nindyasti

"Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan seolah-olah sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Ia telah menyusui dengan air susunya dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu. Ia cuci kotoranmu dengan tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Dia telah memberikanmu semua kebaikan. Dan apabila kamu sakit, dirimu kembali sehat.”

Kalimat itu kubaca dalam sebuah blog seorang kawan. Menyentuh dan menyeruak begitu mendalam. Sungguh tak bisa kita pungkiri, setiap dari diri kita pasti memiliki sejarah mengharukan tentang kasih sayang orangtua, yang pengorbanan beliau telah kita saksikan sendiri sedari kita belum terlahir ke dunia, bahkan hingga detik ini. Maka, Allah menaruh penghargaan yang tinggi dengan diturunkannya QS. Al-Isra’ : 23, “Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah’, dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia."

Kita tentu ingat kisah seorang sahabat, Sa'ad bin Waqash yang diberi dua buah opsi oleh ibunya yang masih musyrik, yaitu kembali kepada kemusyrikan atau ibunya akan mogok makan dan minum sampai mati. Ketika sang ibu tengah melakukan aksinya selama tiga hari tiga malam, sang anak berkata, "Wahai Ibu, seandainya Ibu memiliki 1000 jiwa sekalipun, dan kemudian satu per satu meninggal, tetap aku tidak akan meninggalkan keimananku dan keislamanku. Karena itu, terserah ibu mau makan atau tidak." Melihat sikap Sa'ad yang bersikeras itu, maka ibunya pun menghentikan aksinya. Sehubungan dengan peristiwa itu, Allah menurunkan ayat, "Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukanKu dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik." (QS. Luqman : 15).

Amanah yang tak lekang oleh masa adalah amanah kita sebagai anak. Tidak dibatasi oleh ketiadaan orangtua di dunia, karena sudah tentu segala bentuk kebaikan ibu dan bapak takkan pernah bisa dibalas seutuhnya oleh bakti anak pada orangtuanya. Semua itu tidak akan pernah sebanding, sebagaimana kisah yang tertuang dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan bahwa ketika sahabat Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhuma melihat seseorang menggendong ibunya untuk tawaf di Ka'bah dan ke mana saja sang Ibu menginginkan, orang tersebut bertanya, "Wahai Abdullah bin Umar, dengan perbuatanku ini apakah aku sudah membalas jasa ibuku?" Jawab Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhuma, "Belum, setetes pun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orangtuamu."

Dalam hadits Bukhari, dikatakan bahwa, “Sesungguhnya Allah hanya merahmati hamba-hambaNya yang pengasih dan penyayang.”

Kawan, inginkah kita termasuk hamba-hamba yang dirahmati Allah? Saya yakin semua akan berkata iya. Karena itu, jikalau ada jalan menuju Surga tepat di depan mata kita, jikalau ada jalan meraih ridhaNya ada di depan mata kita, dan jikalau ada amalan paling utama tepat di depan mata kita, apakah kita tergugah untuk melakukannya?

Tentu, dengan birrul walidain, berbakti pada orangtua, berkasih sayang terhadap mereka.

Bahkan Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Sungguh hina, sungguh hina, kemudian sungguh hina orang yang mendapatkan salah seorang atau kedua orangtuanya lanjut usia (semasa hidupnya), namun ia (orangtuanya) tiada memasukkannya ke surga.” (HR. Muslim).

Na'udzubillah... Berlindunglah kita terhadapnya, mendustakan nikmat Allah yang dikaruniai pada tiap hamba-hambaNya. Dan semoga Allah memampukan kita untuk menunaikan amanah kita di dunia, terlebih terhadap orangtua kita.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Meralda Nindyasti sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

salman dikz | Karyawan
KotaSantri.com... Ya Allah, kereeeen. Tooop daaaaah.
KotaSantri.com © 2002 - 2023
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1028 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels