|
QS. Luqman:17 : "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). "
|
|
|
http://lakonhidup.wordpress.com |
|
setta_81@yahoo.com |
|
|
setta_81@yahoo.com |





Kamis, 7 Mei 2009 pukul 16:00 WIB
Penulis : Setta SS
“Dek, kapan terakhir kali kau memegang Al-Qur’an dan membacanya? Atau mungkin berusaha menghafalkannya?”
“Dua minggu yang lalu di sekolah, kalau tidak salah. Emang kenapa?”
“Pas ujian praktek agama, ya?"
“Iya.”
“Berarti kalau tidak ada ujian praktek agama, tidak akan membacanya lagi dalam waktu dekat ini, ya?”
“Siapa bilang? Itu kan kebetulan saja. Lagian waktu ujian agama, aku sudah hafal dua minggu sebelumnya kok. Sok tahu, lo!”
Halah, keluar deh Uci ‘taring’-nya. Jawaban yang tidak nyambung dengan esensi dari pertanyaan saya. Tapi lebih pada sebuah pembenaran diri.
“Terus kapan mau membacanya lagi? Emang hafalannya sudah sampai surat apa? Surat Al-Ma’uun hafal tidak?”
Setelah pesan itu terkirim, saya rangkum dialog dengan Uci, adik saya yang masih duduk di bangku SMP, ke dalam satu SMS dan saya kirim ke nomer ayuknya, Cak. Kemudian saya sambung dengan sebuah SMS lagi, “Kalau yang kuliah kan tidak ada ujian agama, apa berarti malah sudah lupa kapan terakhir kali membacanya?”
“Kenapa mesti surat Al-Ma’uun? Kalau surat yang lain aku hafa!” balasan Uci.
Berselang bilangan detik, SMS dari ayuknya juga masuk, “Ember, sorry dah lupa. Hehe…”
Huh, dasar dua-duanya pada error semua.
“Kan di sana ada cerita begini, Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu.... Tahu tidak jawabannya? Oya, kalau surat Al-Kaafiruun hafal kan?”
“Pasti Al-Qur’annya juga lupa di mana menyimpannya kan? Ipodmu tuh yang adil isinya, minimal kau simpan juz ‘Amma dan surat-surat pilihan favoritmu. Jangan hanya diisi peterdol dkk doang. By the way, if only, mengkhayal dikit nih, kau bukan adik kakak, sorry super sorry banget deh punya calon istri yang tidak pernah membaca Al-Qur’an dalam kesehariannya sepertimu. Piiss, deh!” tulis saya pada Cak.
“Kan di sana ada cerita begini, Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya. Kalau surat Al-Kaafiruun aku sudah hafal. Kecil dan mudah.”
“Akhirnya deh! Barusan membuka Al-Qur’an dulu kan? Ya, benar. Semoga kita tidak termasuk orang yang lalai dari shalat yang kita kerjakan. Amin.”
"Enak saja, aku seringlah membaca Al-Qur’an. Maksudku tadi, aku sudah jarang menghafalkannya,” protes Cak.
“Ok deh kalau begitu. Smile …”
***
Begitulah akhir diskusi kami, saya dan adik-adik, malam itu untuk sebuah pertanyaan di bawah ini.
“Kapan terakhir kali kau memegang Al-Qur’an dan membacanya? Atau mungkin berusaha menghafalkannya?"
***
Allah, jadikan Al-Qur’an sahabat kami dalam senang dan susah.
http://lakonhidup.wordpress.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Setta SS sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.