HR. Ahmad : "Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya."
Alamat Akun
http://setta.kotasantri.com
Bergabung
12 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Mampang Prapatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Analis Industri
Penikmat sastra, admin situs Cerpen Koran Minggu di http://lakonhidup.wordpress.com
http://lakonhidup.wordpress.com
setta_81@yahoo.com
setta_81@yahoo.com
Tulisan Setta Lainnya
Yang Sedikit pun Masih Sering Terabaikan
20 April 2009 pukul 18:12 WIB
Ia Datang Tak Mengetuk Pintu Lebih Dulu
6 April 2009 pukul 15:55 WIB
Ladang Angkara
27 Maret 2009 pukul 17:15 WIB
Well-Dying
23 Maret 2009 pukul 16:30 WIB
Aku Akan Memanggilmu Ibu, Selamanya
13 Maret 2009 pukul 20:04 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Selasa, 21 April 2009 pukul 15:23 WIB

The Great Meeting

Penulis : Setta SS

Suatu sore, suara adzan ‘Ashar sudah terdengar ramai bersahut-sahutan, memanggil manusia untuk jeda sejenak dari aktivitasnya. Menghadap Sang Pencipta untuk mengingatNya. Akan tetapi, dari masjid tak jauh dari kost saya, belum terdengar panggilan paling mulia itu.

Kemudian saya berangkat ke masjid. Mengumandangkan adzan dan shalat sunnah dua raka’at. Sampai beberapa saat setelahnya, belum juga ada seorang pun yang datang ke masjid. Hingga ketika datang seorang mas-mas, saya langsung qamat.

Dari penampilan mas itu yang hanya mengenakan kaos oblong lengan pendek dengan tulisan memenuhi punggungnya, saya bisa menebak kedalaman ilmu agamanya. Sekadar basa-basi, saya tawari mas itu untuk menjadi imam. Di luar dugaan saya, ternyata dia tidak menolaknya seperti kebanyakan orang. Mas itu langsung maju ke depan menjadi imam dengan pedenya. Dan, jadilah saya yang memakai kemeja lengan panjang dan sarung bermakmum pada mas tadi yang ‘hanya’ mengenakan kaos oblong lengan pendek dengan tulisan-tulisan besar memenuhi punggungnya.

Setelah mas itu takbiratul ihram, iseng saya baca tulisan-tulisan besar di punggungnya itu. Maaf, tulisan itu berbunyi, sekali lagi maaf : SEGOBLOK-GOBLOKNYA ORANG GOBLOK, MASIH LEBIH GOBLOK LAGI ORANG YANG MEMBACA TULISAN INI. APALAGI MEMBACANYA DENGAN SUARA KERAS.

Setelah membacanya, entahlah, saya selalu berusaha untuk mengingatnya meskipun sudah masuk dalam shalat. Hingga ketika salam pun, saya tidak dapat melupakannya begitu saja. Bahkan, saya malah berusaha untuk menghafalkannya.

Seorang bapak yang datang belakangan juga sempat-sempatnya mengingatkan si mas tadi secara khusus dengan menunggunya sampai selesai berdo'a, sebelum beranjak meninggalkan masjid. Berarti bapak itu juga merasa terganggu oleh tulisan di punggungnya itu.

Pelajaran apa yang kita peroleh dari kejadian di atas?

Mas itu belum begitu memahami adab-adab shalat, terutama yang berkenaan dengan masalah pakaian. Cukup mengenakan kaos oblong, yang penting suci dan menutup aurat. Bukankah itu syarat sahnya shalat?

Tetapi, bukankah Allah itu Mahaindah dan menyukai keindahan? Ada cukup banyak hadits yang memerintahkan kita untuk memakai pakaian yang paling bagus (berwarna putih) ketika akan shalat. Hingga Al-Qur’an pun mengabadikannya di salah satu ayatnya. Bukankah ketika kita shalat, hakikatnya kita sedang berdiri di hadapanNya?

Kalau kita mau jujur, ketika akan berangkat ke sekolah, ke kampus, atau ke tempat kerja yang notabene hanya akan berhadapan dengan makhlukNya, kita selalu berusaha untuk tampil perfect. Dan, tentunya dengan mengenakan pakaian terbaik yang kita miliki.

Kita memerlukan waktu sekian menit untuk dandan, berlenggak-lenggok di depan cermin, menyisir rambut, meminyakinya, dan memakai minyak wangi. Belum lagi menyemir sepatu dan segala tetek-bengek lainnya yang kadang membuat kita sampai pusing sendiri.

Bukankah dengan demikian, secara tidak sadar kita telah mengesampingkan pertemuan agung dengan Allah SWT, Sang Khalik, dan lebih menghargai pertemuan dengan mereka yang sekadar hambaNya, makhlukNya yang tidak kuasa apa-apa?

Lantas, di manakah kita letakkan rasa malu kita?

***

16 Mei 2oo2

http://lakonhidup.wordpress.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Setta SS sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

AMMAR Hi HABIB | Mahasiswa
Wadah inspiratif dan motivatif dalam hidup dan menjadi ruang untuk berekspresi.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1019 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels