Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
Alamat Akun
http://erwinarianto.kotasantri.com
Bergabung
1 Maret 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Depok - Jawa Barat
Pekerjaan
Karyawan
Tulisan Erwin Lainnya
Wanita dan Kecantikan
9 April 2009 pukul 20:13 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Jum'at, 17 April 2009 pukul 16:09 WIB

Pelajaran dari Seorang Bocah Penjual Koran

Penulis : Erwin Arianto

Pagi itu, seperti biasa, saya berangkat pagi setelah subuh dari rumah, ke tempat penyimpanan motor di bilangan Cawang UKI. Walau sering terlambat, kali ini saya datang lebih awal ke tempat menunggu bis antar jemput yang membawa saya ke kantor. Saya menyukai naik bus jemputan karena lelah berkendara dari Depok ke Cikarang. Tidak tahan kemacetan ibu kota.

Di shelter, saya duduk bersama rekan-rekan sambil menunggu jemputan. Karena saya datang lebih awal, maka saya bisa santai sejenak di shelter. Beberapa saat kemudian, muncul seorang bocah lelaki yang seperti biasa menawarkan koran kepada semua orang yang ada di shelter.

"Koran, koran," begitu teriak bocah laki-laki tersebut menawarkan koran kepada kami. "Koran, bang," dia menawari saya untuk membeli Koran. Saya pun membeli koran yang biasa saya baca setiap pagi.

Tangan mungilnya dengan cekatan memilih koran yang saya minta di antara tumpukan Koran dagangannya. "Ini bang korannya," sambil memberi koran yang saya minta kepadanya. "Nih, ada kembaliannya nggak?" kataku sambil menyodorkan uang Rp. 50.000,- kepadanya. "Beres, bang, pasti ada," segera dikeluarkan kembalian dari tas gembloknya yang kotor. "Wah, pagi-pagi uangnya dah banyak ya," kataku kepada bocah tersebut.

"Alhamdulillah, bang, rejeki saya lagi lancar," katanya sambil tersenyum senang. Dan setelah itu, dia pun berlalu menawarkan koran kepada orang-orang yang ada di shelter.

Saat itu, pukul 05.20, jemputan masih belum datang, maka saya menyempatkan membaca koran yang tadi saya beli dari bocah tukang koran tersebut. Tanpa sadar, saya memperhatikan betapa gigih seorang bocah tukang Koran tersebut mencari uang, dengan menawarkan daganganya kepada semua orang yang datang dan pergi silih beranti.

Sepintas, tampak keringat membasahi wajahnya yang tegar dalam usia belianya yang harus berjuang memperoleh uang secara halal dan bekerja keras.

"Koran, mbak, ada berita selebritisnya nih. Atau ini, ada kabar artis bercerai," katanya bagai seorang marketing ulung, tanpa menyerah dia menawarkan koran kepada seorang wanita setengah baya yang pada akhirnya menyerah dan membeli satu tabloid yang disebut sang bocah tersebut.

Sambil memperhatikan, terbersit rasa kagum dan rasa haru kepada bocah tersebut, betapa gigihnya dia berusaha, hanya tampak senyum ceria yang membuat semua orang yang ditawarinya tidak marah. Tidak terdapat sedikit pun rasa putus asa dalam dirinya, walaupun terkadang orang yang ditawarinya tidak membeli korannya.

Sesaat, mungkin bocah tersebut lelah menawarkan korannya, dan dia terduduk di samping saya. "Kamu nggak sekolah, dik?" tanyaku kepadanya. "Nggak, bang. Saya tidak ingin sekolah tinggi-tinggi," katanya. "Nggak ada biaya, dik?" tanyaku menyelidik. "Bukan, bang. Walau saya tukang koran, saya punya cita-cita," jawabnya.

"Maksudnya, dengan sekolah, kamu bisa mewujudkan cita-cita kamu dengan lebih mudah," kata saya menjawab. "Aku sering baca koran, bang. Banyak orang yang telah sekolah tinggi, bahkan sarjana, tidak bekerja alias nganggur. Mending saya, walau sekolah tidak tinggi, saya punya penghasilan," katanya berusaha menjelaskan.

"Abangku tidak sekolah, bisa buka agen koran. Penghasilan sebulannya bisa 3-4 juta bang. Saya baca di koran, gaji pegawai honorer cuma 700 ribu. Jadi buat apa saya sekolah, bang?" tanyanya kepadaku.

Saya mengerutkan kening, tertanda saya tekejut dengan jawaban bocah kecil tersebut. Pemikiran yang tajam dan sebuah kritik yang dalam buat saya yang seorang sarjana. Dalam hati, saya membenarkan perkataan anak tersebut, UMR kota Bekasi saja +/-900 ribu untuk golongan SMU.

Saya pun tersenyum mendengar jawaban anak tersebut. Tidak lama kemudian, bus jemputan saya pun tiba dan saya meninggalkan bocah tersebut tanpa bisa menjawab pertanyaannya, "Apa tujuan kita sekolah menjadi sarjana?"

Ya, banyak sarjana sekarang yang begitu lepas kerja menganggur, tidak punya penghasilan, dan banyak juga, karena belum bisa bekerja, yang melanjutkan S2 dengan alasan ingin mengisi waktu luang dan menambah nilai jual dirinya.

Dan pernyataan bocah penjual koran tersebut menyadarkan saya, tentang rejeki dan tujuan dari bersekolah, yang saat ini saya mungkin kalah dengan bocah kecil tersebut. Walau saya seseorang yang mempunyai penghasilan dan mempunyai suatu jabatan, saya hanyalah manusia gajian, saya hanya seorang buruh.

Beda dengan bocah kecil tersebut, dalam usia belia, dia sudah bisa menjadi majikan untuk dirinya sendri. Sungguh hebat pemikiran lugu bocah penjual koran tersebut. pembelajaran yang menarik dari seorang bocah kecil yang setiap hari saya temui.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Erwin Arianto sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Prof | Cloth Design
Moga KotaSantri.com bisa jadi situs Jejaring yang Populer n meng-Global! Amin!

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1073 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels