|
Umar bin Abdul Aziz : "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika engkau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
|





Jum'at, 10 April 2009 pukul 15:23 WIB
Penulis : Sus Woyo
Seorang teman, suatu saat datang ke rumah saya. Ia meminta agar saya ikut sebuah acara di suatu tempat. Karena teman akrab, saya menurut saja, tanpa banyak bertanya tentang ini dan itu. Acara itu berlangsung mulai pukul dua belas malam, setiap harinya. Dan berlangsung dalam rentang waktu yang cukup lama. Bentuknya hanya membaca bacaan-bacaan dzikir tertentu bersama-sama sampai menjelang subuh.
Ada tanda tanya dalam benak saya. Ada tujuan apa acara begini digelar setiap malam? Akhirnya teman saya berterus terang, bahwa ia sedang dimintai tolong oleh salah seorang calon Bupati, yang akan ikut bursa Pilkada di kabupaten saya. "Insya Allah, jika ia jadi Bupati nanti, akan ada imbalan besar untuk kita," ujar teman saya bersemangat. "Jangan khawatir!" lanjutnya.
Saya makin penasaran dengan apa yang ia tuturkan. Siapa sebenarnya calon bupati yang ia perjuangkan dengan dzikir tengah malam ini? Sebab selama ini saya memang tidak begitu tertarik dengan ramainya hiruk pikuk soal pilkada di daerah saya.
Kata dia, si calon bupati itu sekarang masih ada di Jakarta. Masih aktif sebagai pelayan rakyat di sana. Katanya juga, dia putra asli daerah ini. "Jika ia jadi bupati, kabupaten kami akan lebih makmur ketimbang sekarang. Ia orang pinter." ujarnya lagi setengah berkampenya pada saya.
Terus terang, saya tidak begitu mengenal nama dia, apalagi kiprahnya di pusat sana. Kalau lama di perantauan, apakah kiranya ia mampu dan tahu betul tentang kondisi wilayah kami? Sejak itu, dengan alasan tertentu, saya tidak lagi mau ikut bergabung dengan mereka. Rasanya hati ini kurang pas, jika saya ikut acara seperti itu, tanpa sebelumnya tahu dan mengenal latar belakang beliau ini.
Lepas dari teman yang satu itu, ada lagi seorang teman yang sudah jadi PNS, juga meminta agar saya ikut membantu calon bupati yang sedang ia dukung. Ia membeberkan panjang lebar tentang reputasi ketokohan calon yang ia dukung itu. Muda, putra asli daerah, mudah bergaul, tahu betul tentang kabupaten kami, akses keluarnya juga bagus, dan masih aktif sebagai pegawai di lingkungan Pemda kami.
"Mumpung ada kesempatan bagus ini, cepat-cepat kamu bikin proposal untuk perbaikan rumah," perintahnya pada saya. "Dialah yang sekarang bertanggung jawab atas semua dana yang mau digulirkan kepada rakyat."
Saya mendengarkan dengan seksama kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya. Rupanya teman yang satu ini juga sedang berkampanye di depan saya. Saya menanggapi itu semua dengan santai saja, dan tak begitu serius.
Tak hanya dua teman saya yang menginginkan bergabung dengannya, rupanya makin hari makin ramai saja soal pilkada di daerah saya ini. Terakhir salah seorang dari keluarga pesantren, juga membeberkan panjang lebar tentang calon bupati yang ia dukung.
"Ia kaya, perusahaannya berserakan di mana-mana, putra asli daerah, rasa sosialnya juga sangat tinggi," katanya. "Ia bahkan sudah menyumbang uang untuk membangun beberapa fasilitas untuk santri di pondok ini."
Yang ini pun tak lepas dari unsur kampanye. Ia juga menginginkan kami ikut bergabung dengannya. Makin hari, rupanya makin banyak putra asli daerah yang sukses di tingkat nasional menginginkan untuk mencalonkan diri menjadi bupati. Mereka pintar, produk perguruan tinggi, punya banyak duit, pengalaman dengan dunia luar, dan tentu semuanya mempunyai tujuan untuk membangun daerah sendiri agar lebih baik. Sebuah tujuan yang sangat positif, tentunya.
Beliau-beliau ini bisa dipastikan bukanlah orang-orang yang bodoh. Paling tidak mereka adalah pakar dalam bidangnya masing-masing. Mereka tentu saja sudah berbekal pengalaman yang mumpuni dalam lingkungan pekerjaannya, sehingga berani mencalonkan diri sebagai bupati. Mereka tentu sudah mengantongi berbagai macam strategi, visi, misi untuk mengembangkan daerah kita ini.
Orang-orang kecil seperti saya ini, hanya menginginkan yang sederhana saja. Siapa pun pemimpinnya nanti, yang penting bisa amanah menjalankan tugas-tugas kerakyatan yang dibebankan di pundaknya. Karena kata para ulama, jika seorang pemimpin sudah bisa amanah, maka rakyat pun akan kecipratan berkah amanahnya. Maka tak mustahil, akan tercipta kondisi yang baldah thayyibah, dan penuh maghfirah. Sebuah kondisi daerah yang aman sentausa, sejahtera penuh ampunanNya. Amin.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sus Woyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.