Pelangi » Refleksi | Ahad, 15 Maret 2009 pukul 14:27 WIB

Apam Pinang Seorang Ibu yang Berjilbab

Penulis : Ferry Hadary

Apa yang selalu dikangeni mereka yang sekolah atau bekerja di luar negeri? Keluarga, itu pasti. Urutan berikutnya mungkin makanan dan minuman produksi negeri sendiri. Begitu juga yang saya dan keluarga alami.

Benar. Negeri ini memang kaya dengan keanekaragaman. Termasuk salah satunya adalah jenis makanan. Cita rasanya selalu menggoda selera. Begitulah, walaupun saya dan keluarga pernah lama tinggal di Jepang, tetap saja makanan Indonesia jauh lebih enak rasanya. Kelezatannya tak akan terkalahkan.

Dan entah mengapa, martabak manis atau --kalau di Pontianak-- disebut apam pinang, selalu menjadi makanan favorit istri saya. Dari sejak pulang kampung hingga sekarang, ia tak pernah bosan. Sebagai suami yang ingin dibilang baik, tentu saya tak keberatan membelikannya. Tak apalah, apalagi itu makanan rakyat yang harganya cukup murah. Entah, kalau tiba-tiba seleranya berubah menjadi sepotong pizza.

Karena itu hampir setiap dua atau tiga hari sekali saya membelinya di pasar dekat rumah. Nah, selalu saja sepeda motor saya berhenti di depan gerobak seorang ibu paruh baya. Padahal, di sepanjang pinggir jalan tersebut banyak pula gerobak lain yang juga menjual makanan yang sama. Lebih murah? Nggak juga, karena harganya sama seperti penjual lainnya. Lebih enak? Ah, itu kan masalah selera.

Dan yang tak kalah mengherankan, selalu saja gerobaknya lebih ramai pembeli daripada yang lainnya. Apakah karena ibu tersebut selalu mengenakan jilbab sehingga banyak yang membeli apam pinang buatannya? Mungkin juga. Bukankah masyarakat kita terkadang suka membelenggu dirinya dengan sebuah ikatan primodial?

Tapi tentu apa yang saya pikirkan ini tidak selalu benar. Toh, di antara pembelinya ada pula yang tak berjilbab. Bahkan saya pun tak yakin kalau mereka semuanya beragama sama dengan ibu penjual apam pinang. Tapi nyaris selalu saja istri akan lama menunggu saya pulang untuk menikmati makanan favoritnya.

Karena itulah, seraya setiap kali menunggu pesanan, saya berusaha untuk mencari jawaban. Tentu, bisa saja saya tanyakan langsung kepadanya, mengapa. Mungkin ibu tersebut akan menjawab dengan penuh keyakinan, itu rezeki dariNya. Tapi mungkin pula saya tak akan menerima jawaban, karena sebuah rahasia perusahaan.

Namun...
Lambat laun akhirnya saya temukan sebuah jawaban. Tentu ini bisa salah ataupun sebaliknya. Tetapi setidaknya sedikit banyak telah dapat menjawab keheranan saya.

Mereka yang membeli tentu mempunyai beragam alasan. Ibu itu pula mengenakan jilbab tentu juga bukan dengan tujuan ingin menarik pelanggan. Bukankah berjilbab bagi wanita dewasa adalah sebuah kewajiban? Saya justru lebih yakin bahwa mereka membeli akan sebuah nilai kebersihan. Karena sehelai jilbab tentu akan menghalangi ketombe atau seutas rambut jatuh pada sepotong apam pinang.

KotaSantri.com © 2002-2012