HR. Al Hakim : "Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang shaleh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam, dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang buruk."
Alamat Akun
http://alamaya.kotasantri.com
Bergabung
2 Februari 2009 pukul 14:07 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
PNS (Pegawai Non Struktural)
Berkacamata, itulah aku. Orang lebih mengenalku dengan nama asliku, Dudung Kurnia Sundana, sebuah nama khas Sunda pemberian dari kakek dan bapak. Sedangkan Mujahid Alamaya adalah cybername-ku sebagai Ponggawa KotaSantri.com (KSC). Pria berperawakan kutilang alias kurus, tinggi, langsing (Itu sih kata orang) mempunyai hal yang unik, temenku bilang aku ini "Baby …
http://dekaes.com
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya
mujahid.alamaya
http://facebook.com/alamaya
ponggawa.ksc@gmail.com
Tulisan Mujahid Lainnya
Gundah
12 Maret 2009 pukul 20:51 WIB
Tiada Kesetiaan Tanpa Kesetiaan
7 Maret 2009 pukul 16:21 WIB
Bapak Tua Itu ...
27 Februari 2009 pukul 03:20 WIB
Malu Bertanya Sesat di Jalan
23 Februari 2009 pukul 03:20 WIB
Ku Ingin Kau Tahu
18 Februari 2009 pukul 05:22 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Sabtu, 14 Maret 2009 pukul 16:35 WIB

Kejujuran dan Kesederhanaan

Penulis : Mujahid Alamaya

Beberapa hari yang lalu, ketika saya dan teman-teman 'berpetualang' ke Jakarta dengan menggunakan mobil sewaan, saya mendapati sosok pak Hasto, yang membantu kami untuk mengemudikan mobil. Usianya kira-kira sekitar 45 tahun. Pak Hasto merupakan pria kelahiran Solo, namun beberapa kali pindah ke beberapa kota dan akhirnya menetap di Cimahi.

Sepanjang perjalanan, kebetulan saya duduk di depan, saya banyak ngobrol dengan beliau. Pak Hasto enak sekali diajak ngobrol. Bahasanya santun dan mudah berbaur dengan kami yang usianya jauh di bawahnya. Pak Hasto bercerita bahwa dirinya pernah menjadi 'pilot' bis antar kota antar propinsi dan angkutan kota, sebelum akhirnya terjun di dunia rental mobil.

Ketika ngobrol, pak Hasto bertanya pada saya, "Ada yang masih kuliah? Dulu kuliah di mana? Ngambil jurusan apa?" Karena saya menganggap bahwa pak Hasto cuma sekedar bertanya, maka saya pun menjawab sekedarnya saja. Obrolan pun terus mengalir dan beralih ke beberapa topik, termasuk tentang Kampanye Pilkada DKI yang bikin macet.

Pak Hasto tidak banyak berkomentar ketika saya menjadi navigator, termasuk ketika petunjuk yang saya berikan salah yang mengakibatkan kami harus berbalik arah. Pak Hasto sudah sering membawa kendaraan ke Jakarta dan bisa dibilang sudah hapal Jakarta, tapi pak Hasto membiarkan saya untuk menentukan jalan mana saja yang akan dilalui.

Selain itu, ketika kami meninggalkannya, pak Hasto hanya menunggu di mobil, tidak memakan makanan yang ada di mobil, dan tidak menggunakan uang yang kami sediakan untuk biaya tol dan parkir untuk keperluannya. Pak Hasto malah menggunakan uang pribadinya, padahal seharusnya itu semua menjadi tanggung jawab kami.

Saya jadi kagum dengan sikap pak Hasto. Berbeda dengan beberapa orang yang pernah membantu kami mengemudikan mobil, pak Hasto tidak pernah 'mengomel' kepada kami. Beliau juga tidak mengambil apalagi menggunakan apa yang bukan menjadi haknya. Sungguh, pak Hasto benar-benar sosok yang santun dan jujur yang pernah saya temui.

Dalam perjalanan pulang, pak Hasto bercerita bahwa dua anaknya sedang kuliah di ITB. Anak pertama sedang menempuh S2, dan anak kedua sedang menempuh S1. Saya baru 'ngeh' kalau dari tadi pak Hasto menyinggung soal kuliah dan ITB itu ternyata mau mengarahkan obrolan apakah ada yang kenal dengan anaknya yang aktif dalam organisasi keagamaan.

Kekaguman saya tidak sampai di situ, pak Hasto kembali bercerita bahwa bulan September nanti, insya Allah pak Hasto akan berangkat ke Australia, katanya ada salah seorang teman yang menawarinya bekerja di sana. Selain itu, pak Hasto tidak protes ketika saya hanya memberinya sedikit uang sebagai pengganti uang makan yang dikeluarkan pak Hasto.

Kejujuran dan kesederhanaan inilah yang mungkin merupakan salah satu pembuka pintu rizki bagi pak Hasto. Yang dengan itu, berhasil menyekolahkan anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi, bahkan perguruan tinggi negeri favorit. Dan semoga saja, sosok seperti pak Hasto ini bisa menjadi teladan bagi kita semua, teladan untuk kejujuran dan kesederhanaan.

http://dekaes.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Aw Windarti | Guru
Allahu Akbar!!! KSC itu media penyejuk jiwa-jiwa yang gersang.
KotaSantri.com © 2002 - 2022
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0515 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels