Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
Alamat Akun
http://suswoyo.kotasantri.com
Bergabung
12 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Purwokerto - Jawa Tengah
Pekerjaan
Swasta
Sus Woyo adalah mantan TKI di Brunei Darussalam. Sekarang tinggal di Baturraden, Purwokerto, Jawa Tengah.
Tulisan Sus Lainnya
Keputusan Terbaik
21 Februari 2009 pukul 03:20 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Senin, 2 Maret 2009 pukul 16:03 WIB

Serempak dalam Perbedaan

Penulis : Sus Woyo

Saya masih sangat merasakan efek dari pemilihan kepala desa di desa kami hampir setahun yang lalu. Memang tak ada bentrok fisik antar pendukung kandidat masing-masing, seperti di daerah lain. Namun, sesuatu yang sudah lama terbangun, dan sudah menjadi tradisi mendarah daging masyarakat kami, tiba-tiba mengalami suatu kebobrokan.

Gotong royong, adalah perilaku bangsa ini yang sudah tertanam sejak berabad-abad yang lalu. Sikap tersebut pasca pilkades kali ini agak sedikit mendapat gangguan. Kata seorang tokoh masyarakat, ini hal yang wajar saja, karena apa pun pasti ada resikonya. Dan resiko demokrasi salah satunya adalah hal yang demikian.

Terlepas dari banyaknya teori tentang itu semua, yang kami rasakan setelah adanya pemilihan itu, adalah terkotak-kotaknya masyarakat. Karena sudah terkotak-kotak, sentimen antar 'kotak' pun sering muncul. Kecurigaan-kecurigaan pun secara tak sengaja sering ter-cover ke permukaan. Sesuatu yang nampak sangat kelihatan adalah sikap acuh tak acuhnya warga yang kandidatnya kalah dalam pemilihan kepala desa, terhadap pembangunan di wilayah kami sendiri.

Efek negatif ini sangat kami rasakan, walaupun lambat laun akan berahir, seiring dengan lajunya waktu. Tapi ternyata, saat luka-luka pilkades itu sudah mulai sembuh, datanglah musim pilkada secara berkala. Baik pemilihan bupati atau pun gubernur, bahkan tak lama lagi tentunya juga pemilihan presiden.

Mau tidak mau, kami pun harus siap untuk berbeda dengan orang lain dalam hal pemilihan calon pimpinan tersebut. Kalau sudah sampai ke batas ini, maka kita harus mengakui, bahwa perbedaan adalah sesuatu yang tak mungkin bisa dihindari. Perbedaan adalah ciri dunia ini. "Semakin banyak perbedaan, maka dunia akan terasa indah," begitu kata orang-orang bijak. Namun, sudah siapkah bangsa besar ini menghadapi perbedaan secara ikhlas dan proporsional?

Pelangi-pelangi alangkah indahmu merah, kuning, hijau, di langit yang biru.
Syair lagu taman kanak-kanak ini hampir tak asing terdengar di telinga bangsa Ind onesia. Dan sudah bisa dipastikan, anak-anak TK dan Play Group sangat fasih menghapalnya. Dan kita para orangtua, sudah sangat setuju, bahwa indahnya pelangi itu karena perbedaan warna. Tanpa ada perbedaan itu, maka tidak akan terlihat sebuah keindahan. Tentu ini adalah ayat Allah yang ditebarkan kepada kita untuk senantiasa kita renungi.

Maka, tak ada alasan apa pun, jika perbedaan akan menghambat sebuah kebersamaan.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sus Woyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Ita Yusvana | Karyawan
Teman di waktu istirahat yang paling sering dikunjungi.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1608 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels