QS. Al-'Ankabuut : 64 : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."
Alamat Akun
http://ramadhan_adhi.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bekasi - Jawa Barat
Pekerjaan
Programmer
Menjadi seseorang yang senantiasa dirindukan kehadirannya oleh orang lain adalah harapan saya. Untuk itu, mohon doanya sehingga bisa menggapainya harapan tersebut...
http://dik2.multiply.com
andhika.ramdhan
ramadhan_adhi
andhika.ramdhan@gmail.com
andhika.ramdhan@gmail.com
http://twitter.com/AndhikaRamdhan
Tulisan Dikdik Lainnya
Masih Ada Jalan ke Surga
17 Februari 2009 pukul 03:20 WIB
Relakah, Jika Mereka (pun) Dibuat Murtad?
11 Februari 2009 pukul 03:20 WIB
Ketika Tunas-tunas Itu, Kini Layu dan Mati
4 Februari 2009 pukul 03:20 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Selasa, 24 Februari 2009 pukul 03:20 WIB

Selalu Saja Begitu Indah

Penulis : Dikdik Andhika Ramdhan

Ba'da dzuhur di Al-I'thisam, ketika seorang saudara kita, kini satu lagi bertambah, setelah mengucap dua kalimah syahadat. Mengakui akan keesaan Allah SWT dan keberadaan Muhammad sebagai Rasul pembawa risalah kebenaran dariNya. Kami menjadi saksi atas semuanya. Ada tetes keharuan yang menyeruak dalam jiwa, ada embun kesejukan yang terpancar dari dalam sanubari. Ketika satu demi satu kata terucap atas dia yang kini telah menjadi bagian dari ummat sebuah ajaran yang sempurna.

Mataku kini telah tertuju hanya pada satu bagian. Satu bagian yang selalu aku banggakan ketika menyaksikan seseorang memasuki gerbang baru dalam kehidupannya. Dimana, tak ada yang sulit untuk melaluinya ketika seseorang memang berniat untuk berhijrah menuju ajaran dariNya. Hanya dua rangkaian kata-kata, itu telah cukup menjadikannya sebagai seorang muslim.

Pikirku melayang kedua atau tiga tahun yang silam. Ketika saat itu hampir setiap Ahad aku menyempatkan diri untuk mengikuti pengajian di sebuah masjid di kawasan Daarut Tauhiid Bandung. Dan ketika di akhir acara ataupun selepas waktu Dzuhur, selalu saja kita diajak untuk menyaksikan kejadian seperti ini.

Jujur, secara tidak langsung, ketika kita dihadapkan pada situasi ini, telah banyak sekali menyadarkan kita bahwa ternyata masih banyak orang-orang yang dengan semangat tingginya untuk bisa memeluk agama Allah ini. Dan ini tentunya akan menggiring kita juga yang hanya secara hitungan waktu saja mungkin telah lebih lama mengenal Islam untuk kemudian lebih semakin bersemangat lagi dalam memperbaiki diri dan keimanan yang ada.

Mereka yang memeluk agama Allah itu mengungkapkan bahwa kemantapan hati mereka untuk memasuki gerbang baru Islam itu tak pernah ada paksaan pada mereka, tak pernah ada iming-iming atas mereka, bahkan jauh dari adanya kekerasan yang mengharuskan mereka untuk memeluknya.

Sejarah telah mencatat, bahwa memang tak pernah ada cerita seseorang yang masuk ke dalam Islam karena atas dasar semua itu. Namun justru semua berasal pada sikap santun, keshalihan, dan pencitraan keindahan Islam yang ditampilkan oleh ummatnya yang telah mengantarkan hidayah itu bersemai pada jiwa-jiwa mereka, terpatri hingga mengantarkannya pada kenikmatan, bukan hanya atas dunia saja, namun pula insya Allah hingga di akhirat kelak.

Membuka kembali lembaran shirah, menyemai kembali ingatan atas seorang Suraqah bin Malik yang telah dengan lantangnya akan membunuh Rasul demi mendapat imbalan 100 ekor unta yang dijanjikan Abu Lahab, padahal saat itu Rasul hendak berhijrah ke Madinah. Namun ketika dia bertemu dengan Rasulullah dalam beberapa kesempatan, Rasul justru selalu tampil untuk menolong dia ketika kuda yang ditunggangi Suraqah terperosok dan terperosok lagi.

Ternyata, semua itu telah menjadi satu amunisi hebat bagi Rasul dalam menyebarkan ajaran Allah. Keshalihan akhlak telah melebur amarah menjadi cinta. Perlakuan Rasul sedikit pun tak ada yang membuatnya untuk dijadikan alasan atas niat jahatnya itu, malah kemudian justru telah menjadikan ia tersadar dan kembali pada kelompoknya untuk berseru bahwa tak ada seorang pun yang akan ia biarkan untuk bisa membunuh Rasul, kecuali telah berhadapan dulu dengannya. Ia memeluk Islam dan menjadi bagian dari para sahabat Rasul.

Subhanallah, begitu tampak kepribadian seorang Rasul dengan keshalihan akhlak dan keluhuran perilakunya yang telah mampu merubah apa yang ada dalam niat jahat menjadi sebuah kehalusan budi dan kejernihan pikiran bagi siapa saja yang menghadapinya. Semoga kami pun sebagai ummatnya bisa menirunya, meniru beliau sang tauladan ummat.

Matahari masih menebar sinar, menghias cakrawala yang seakan turut pula menyaksikan atas semuanya yang terjadi di masjid siang itu. Usai membacakan dua kalimah syahadat, kami satu persatu mendekat dan menyalaminya. Ketika tangan ini berjabat, mungkin hanya senyuman yang tersungging di bibir, namun jauh di dalam jiwa, kini telah terpancang tali yang telah terbentang menghapus jarak atas kami daripadanya. Sungguh, selalu saja ini begitu indah.

Melihat keberadaan hidayah dalam kehidupan bukanlah sesuatu yang sulit, namun untuk menyadari dan mampu menerima keberadaan hidayah tersebut dalam hati seseorang, itulah yang sebetulnya sepertinya sulit sekali diraih. Berapa banyak orang berpendidikan yang notabene seharusnya mampu berpikir dalam memilah apa yang seharusnya ia yakini dalam hal keagamaannya, namun ternyata mereka justru tak mau untuk melakukannya. Hingga akhirnya mereka lebih betah bertahan dalam kesesatan yang seakan membawa mereka pada kebahagiaan, namun sebetulnya hanya mengantarkan mereka pada kesengsaraan yang nyata.

Aku kini melangkahkan kaki, menuruni satu demi satu anak tangga masjid. Dalam lirih, hati berdo'a, semoga Allah memberikan kemampuan atas diri-diri kami untuk bisa menampilkan keindahan Islam dalam kehidupan ini, keindahan Islam yang sebenarnya, keindahan yang akan mengumpulkan kami hingga nanti bersama di hari pembalasan dan mengumpulkan kami dalam surga-surgaNya.

Semoga Allah memberikan kemampuan atas saudara-saudara kami lainnya yang kini masih begitu kukuh dalam kesesatannya hingga mereka mampu untuk bepikir dan menerima sesuatu yang hak sebagai kebenaran dan menyadari akan semua yang bathil sebagai kesesatan yang harus segera mereka tinggalkan.

http://dik2.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Dikdik Andhika Ramdhan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Ridwan | Mahasiswa
Mari kita jalin silaturahmi dan ukhuwah di KSC ini. Mudah-mudahan kita semua dapat tambahan ilmu dan manfaat. Aamiin.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1237 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels