Pelangi » Refleksi | Sabtu, 21 Februari 2009 pukul 03:20 WIB

Keputusan Terbaik

Penulis : Sus Woyo

Ketika memutuskan untuk mencoba bekerja di negeri seberang, tak pernah terlintas sedikit pun dalam pikiran saya tentang dunia komputer, internet, kepenulisan, jurnalistik, dan hal-hal yang berhubungan dekat dengan dunia tersebut.

Saya memaklumi diri, bahwa saya bukan produk perguruan tinggi alias tak pernah kuliah. Jadi, kepergian saya ke negeri orang, sama sekali tidak berbekal keahlian. Seperti layaknya kawan-kawan TKI yang lain, bekal kami hanya mental sehat dan badan sehat.

Di negeri tempat kami mengais rejeki, latar belakang pendidikan memang tak begitu diperhatikan. Maklum saja, karena kebanyakan kami di sana menjadi kuli kasar, seperti pembantu rumah tangga, tukang rumput, kuli bangunan, dan sektor-sektor kasar lainnya.

Waktu itu, saya ada dalam kondisi buta informasi tentang gejolak di tanah air. Ingin sekali rasanya mendapat informasi tentang negeri saya, dari media yang ditulis oleh orang-orang Indonesia. Pada saat awal tinggal di negeri Sultan itu, saya hanya dijejali berita produk dari media-media asing yang dikutip media-media Brunei Darussalam.

Seandainya saya sudah paham dunia internet, tentu saya tidak perlu pusing-pusing ke sana ke mari, mencari-cari toko dan kios surat kabar. Tinggal masuk warnet, klik salah satu website, beres! Tapi saya buta tentang itu semua.

Ketika ada kesempatan libur, saya mencoba untuk pergi ke toko-toko buku dan kios surat kabar, untuk mencari koran-koran terbitan Indonesia. Sayang, sampai saya lelah, saya tak mendapatkannya. Di toko-toko itu hanya tersedia media terbitan India, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Filipina. Saya kecewa sekali tak menemukan media kami.

Pada saat saya bertanya kepada pemilik toko yang orang India, mereka mengatakan, "Dulu kami menyediakan Kompas, Jawa Pos, Gatra, dan Tempo, tapi sekarang kami sudah tidak melayani lagi, sebab tidak laku. Orang-orang Indonesia tidak gemar membaca," selorohnya.

Saya menggigit bibir. Tak gemar membaca? Pikir saya dalam hati. Saya sedikit memperhatikan tentang kondisi pekerja asing di kota tempat kami tinggal. Di kota Kuala Belait itu, pekerja asing yang terbanyak adalah pekerja Indonesia. Namun kalau melihat latar belakang pendidikannya, memang bukanlah orang-orang yang berpendidikan tinggi.

Kebanyakan pekerja Indonesia di Brunei adalah pembantu rumah tangga dan pekerja dalam sektor yang termasuk kasar. Tentu, membaca bukanlah menjadi sebuah kebutuhan, lagi pula waktu untuk itu hampir-hampi tidak ada.

Saya melongo, karena keinginan saya tertunda. Majikan saya tidak berlangganan berita-berita dari stasiun-stasiun TV Indonesia. Yang ada hanya channel-channel Malaysia, India, dan Singapura. Untuk bisa melihat langsung TV Indonesia, kami harus mempunyai parabola. Dan majikan kami tak mengizinkan untuk membeli alat tersebut.

Di samping hal itu, rupanya negeri tempat kami bekerja itu memang agak alergi terhadap berita-berita yang datang dari Indonesia. Seorang warga negara Brunei pernah mengatakan, "Sejak peristiwa 1998, setiap berita yang datangnya dari Indonesia, khususnya berita-berita politik, selalu diseleksi dengan ketat, karena pemerintah takut dengan pengaruh politik dari Indonesia. Apalagi melihat ada mobil dibakar, toko dijarah, perempuan diperkosa, gambar pemimpin diinjak-injak. Tentu saja penguasa Brunei sangat tidak senang dengan berita-berita seperti itu."

Saya mencoba mencari saluran radio BBC siaran Indonesia, tapi tidak bisa diterima dengan baik. Ada saluran radio Singapura yang cukup vokal, namun tidak begitu jelas suaranya. Saya juga tak menemukan channel radio Nederland ataupun ABC Australia. Pendek kata, saya buta informasi tentang negeri saya sendiri.

Suatu hari, saya disuruh sang majikan pergi ke KBRI untuk mengurus paspor yang sebentar lagi habis masa berlakunya. Di sana saya menemukan banyak surat kabar dan majalah. Biar pun sudah kadaluwarsa, tapi saya tetap membelinya, walau harganya terlalu mahal untuk ukuran kuli seperti kami.

Terus terang saya kecewa. Dari kekecewaan itulah, timbul sebuah keinginan, bahwa saya harus tahu tentang internet. Kata orang-orang yang sudah terbiasa ber-internet ria, cara ini adalah cara yang paling jitu untuk mengetahui berbagai macam berita, dari mana saja dan kapan saja.

Dengan membawa secarik kertas bertuliskan situs salah satu koran nasional, saya memberanikan diri masuk sebuah warnet. Seorang pelayan asal Blitar, Jawa Timur, membimbing saya. Hari itu juga saya berlayar mengunjungi banyak media Indonesia. Dan beberapa hari kemudian, seorang teman dari Filipina mengajari saya untuk membuat e-mail.

Alhamdulillah, dari internet itulah saya bisa melahap informasi tentang negeri saya sepuas-puasnya. Bahkan, akhirnya saya juga terbiasa untuk menulis berbagai hal dan saya kirim ke beberapa situs di tanah air.

Setelah rentetan usaha yang begitu panjang dan membentang saya lalui, ternyata ada hasilnya juga. Sebuah keputusan, yang tentu datangnya dari yang Mahakuasa. Dan saya yakin, keputusanNya adalah keputusan yang terbaik bagi hamba yang lemah ini. Saya tak pernah membayangkan akan akrab dengan dunia maya, media cyber, kuliah via internet, karena memang latar belakang pendidikan saya pas-pasan. Bagi saya yang kuli kasar, internet adalah sesuatu yang istimewa.

Banyak di antara kita, yang begitu lahir langsung mendapat fasilitas belajar yang begitu mudah dan istimewa. Tapi lebih banyak lagi, saudara-saudara kita yang dalam proses pencarian ilmunya harus mengalami bentangan jalan dan tanjakan yang curam.

Adakah di antara anda yang mau berbagi dan sekaligus memfasilitasi yang saya sebut terakhir itu, agar proses belajar mereka lebih mudah? Ataukah anda sedang ikut berjuang memperbaiki sistem pendidikan di negeri ini agar tidak diskriminatif?

KotaSantri.com © 2002-2026