Pelangi » Refleksi | Ahad, 15 Februari 2009 pukul 03:20 WIB

Perempuan dengan Mutiara

Penulis : Lizsa Anggraeny

Perempuan muda tegar itu terlihat menangis terseguk. Menutupi matanya dengan saputangan cantik. Sepanjang persahabatan denganya, ini adalah kali pertama saya melihatnya menangis. "Ah... Betapa pun tegarnya, ia tetap berhati lembut."

Hari itu, perempuan yang selalu terlihat ceria, berkisah tentang perjuangannya membimbing dua buah hati dari suami, sang mualaf muslim Jepang. Menanamkan aqidah selama tinggal di Jepang, tidak mudah. Penuh lika-liku yang harus ditempuh. Dan saya tahu gigihnya perjuangan tersebut. Tinggal di negeri minoritas sangat membutuhkan tenaga extra dalam mendidik sang buah hati agar tak lepas menggenggam muatiara iman. Pendidikan anak agar memiliki kebanggaan terhadap Islam bukanlah pendidikan sampingan yang bisa dinomorduakan. Tak mungkin disepelekan.

Melihatnya menumpahkan air mata, saya tahu, betapa sulit perjuangannya tersebut. Dan saya yang telah lama bersahabat dengannya, betapa tahu terjalnya perjuangan tersebut. Tak lelah jauh tempat dituju, hanya untuk mengikuti majelis ilmu ataupun acara-acara keislaman. Kegigihannya menempuh jarak jauh, sekaligus untuk memberikan warna dan suasana keislaman pada jiwa-jiwa kecil buah hatinya.

Ia adalah salah satu perempuan tegar yang saya kenal. Persahabatan dengannya memberikan goresan yang selalu indah dalam berbagai macam bentuk. Orang yang belum mengenal dekat, selalu menyalahartikan ketegasannya dalam berbicara. Pemarah? Tidak, sama sekali bukan! Karena saya tahu, perempuan tegar tersebut bukan pemarah. Ia memiliki hati yang begitu lembut. Gaya bicaranya yang meletup-letup tak lebih dari ciri khas kesehariannya yang bersahaja.

Saya tahu, sering matanya berkaca-kaca ketika bersama-sama mengenang perjuangan Rasulullah SAW, nabi junjungan terakhir tercinta. Ataupun ketika sama-sama mengenang perjuangan para sahabah-sahabiyah. Pernah pula saya mendengar suara sedihnya di seberang horn telpon, ketika bercerita tentang kisah para street children di negara miskin, yang ia saksikan di televisi. "Apa yang harus saya lakukan untuk menolong mereka?" Lirih suaranya, tersekat isakan kecil.

Bersahabat dengannya, saya begitu merasakan arti bersahabat karena Allah SWT. Tidak pernah ada tuntutan yang harus saya lakukan sebagai syarat untuk bersahabat dengannya. Begitu banyak teguran kecil, nasehat, masukan yang telah saya terima sebagai refleksi dari saling mengingatkan karenaNya.

Uhibukifillah, Madam...

Semoga, bulir-bulir tangisan yang mengalir dalam mendidik buah hati tercinta, menjadi saksi yang indah di akherat nanti. Semoga Allah memberikan jalinan AsMaRa (Assakinah-Mawadah-waRahmah) di tengah keluarga tercinta. Derap-derap langkah membimbing keluarga ke arah suasana Islami terdengar sampai ke langit surga. Mendapat ridha Sang Ilahi dan tercatat dalam kitab kanan sang Malaikat.

Semoga, mutiara iman yang kini tengah digenggam, akan semakin indah berseri. Memberikan cahaya kedamaian pada dua buah hati tercinta, menyusup masuk ke dalam belahan jiwa suami terkasih.

Insya Allah. Amin ya Rabbal Alamin.

KotaSantri.com 2002-2023