Umar bin Abdul Aziz : "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika engkau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
Alamat Akun
http://aishliz.kotasantri.com
Bergabung
8 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Matsudo - Chiba
Pekerjaan
Guru
http://aishliz.multiply.com
http://friendster.com/http://friendster.com/aishliz
Tulisan Lizsa Lainnya
Rei-chan no Haka, Kematian
9 Februari 2009 pukul 03:20 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Ahad, 15 Februari 2009 pukul 03:20 WIB

Perempuan dengan Mutiara

Penulis : Lizsa Anggraeny

Perempuan muda tegar itu terlihat menangis terseguk. Menutupi matanya dengan saputangan cantik. Sepanjang persahabatan denganya, ini adalah kali pertama saya melihatnya menangis. "Ah... Betapa pun tegarnya, ia tetap berhati lembut."

Hari itu, perempuan yang selalu terlihat ceria, berkisah tentang perjuangannya membimbing dua buah hati dari suami, sang mualaf muslim Jepang. Menanamkan aqidah selama tinggal di Jepang, tidak mudah. Penuh lika-liku yang harus ditempuh. Dan saya tahu gigihnya perjuangan tersebut. Tinggal di negeri minoritas sangat membutuhkan tenaga extra dalam mendidik sang buah hati agar tak lepas menggenggam muatiara iman. Pendidikan anak agar memiliki kebanggaan terhadap Islam bukanlah pendidikan sampingan yang bisa dinomorduakan. Tak mungkin disepelekan.

Melihatnya menumpahkan air mata, saya tahu, betapa sulit perjuangannya tersebut. Dan saya yang telah lama bersahabat dengannya, betapa tahu terjalnya perjuangan tersebut. Tak lelah jauh tempat dituju, hanya untuk mengikuti majelis ilmu ataupun acara-acara keislaman. Kegigihannya menempuh jarak jauh, sekaligus untuk memberikan warna dan suasana keislaman pada jiwa-jiwa kecil buah hatinya.

Ia adalah salah satu perempuan tegar yang saya kenal. Persahabatan dengannya memberikan goresan yang selalu indah dalam berbagai macam bentuk. Orang yang belum mengenal dekat, selalu menyalahartikan ketegasannya dalam berbicara. Pemarah? Tidak, sama sekali bukan! Karena saya tahu, perempuan tegar tersebut bukan pemarah. Ia memiliki hati yang begitu lembut. Gaya bicaranya yang meletup-letup tak lebih dari ciri khas kesehariannya yang bersahaja.

Saya tahu, sering matanya berkaca-kaca ketika bersama-sama mengenang perjuangan Rasulullah SAW, nabi junjungan terakhir tercinta. Ataupun ketika sama-sama mengenang perjuangan para sahabah-sahabiyah. Pernah pula saya mendengar suara sedihnya di seberang horn telpon, ketika bercerita tentang kisah para street children di negara miskin, yang ia saksikan di televisi. "Apa yang harus saya lakukan untuk menolong mereka?" Lirih suaranya, tersekat isakan kecil.

Bersahabat dengannya, saya begitu merasakan arti bersahabat karena Allah SWT. Tidak pernah ada tuntutan yang harus saya lakukan sebagai syarat untuk bersahabat dengannya. Begitu banyak teguran kecil, nasehat, masukan yang telah saya terima sebagai refleksi dari saling mengingatkan karenaNya.

Uhibukifillah, Madam...

Semoga, bulir-bulir tangisan yang mengalir dalam mendidik buah hati tercinta, menjadi saksi yang indah di akherat nanti. Semoga Allah memberikan jalinan AsMaRa (Assakinah-Mawadah-waRahmah) di tengah keluarga tercinta. Derap-derap langkah membimbing keluarga ke arah suasana Islami terdengar sampai ke langit surga. Mendapat ridha Sang Ilahi dan tercatat dalam kitab kanan sang Malaikat.

Semoga, mutiara iman yang kini tengah digenggam, akan semakin indah berseri. Memberikan cahaya kedamaian pada dua buah hati tercinta, menyusup masuk ke dalam belahan jiwa suami terkasih.

Insya Allah. Amin ya Rabbal Alamin.

http://aishliz.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Lizsa Anggraeny sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Nia | Guru
KotaSantri.com top dech. Artikelnya bagus-bagus banget, sangat menyentuh kalbuku sampe berurai air mata membacanya dan sarat dengan hikmah. Bukankah hikmah adalah milik para mukmin yang tercecer? So, buruan gabung.
KotaSantri.com © 2002 - 2022
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0423 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels