QS. At-Taubah 9 : 129 : "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepadaNya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung."
Alamat Akun
http://redaksi.kotasantri.com
Bergabung
2 Februari 2009 pukul 14:07 WIB
Domisili
Bandung - Jawa Barat
Pekerjaan
Cyber Mujahid
KotaSantri.com merupakan singkatan dari Komunitas Santri Virtual yang terdiri dari gabungan 3 elemen kata, yakni Kota, Santri, dan .com. Kota merupakan singkatan dari KOmuniTAs, yang artinya tempat, sarana, atau wadah untuk berkumpul. Santri merupakan sebutan bagi netter yang ingin berbagi dan menuntut ilmu melalui dunia maya (internet). Sedangkan .com adalah …
http://kotasantri.com
Tulisan Redaksi Lainnya
Kembali kepada Fitrah adalah Jalan Keselamatan
14 November 2013 pukul 21:00 WIB
Menghindari Jalan Lain
5 November 2013 pukul 19:00 WIB
Merasa Dianaktirikan
2 November 2013 pukul 21:21 WIB
Sherif Quinn : Islam Itu Sederhana dan Logis
31 Oktober 2013 pukul 23:00 WIB
Hati-hati dengan Egois
30 Oktober 2013 pukul 21:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 17 November 2013 pukul 19:00 WIB

Mimpi dalam Bis Kota

Penulis : Redaksi KSC

Aku tahu ku takkan bisa
Menjadi seperti yang engkau pinta
Namun selama aku bernyawa
Aku kan mencoba
Menjadi seperti yang kau pinta

---

Lagu Chrisye itu, yang tadi pagi kudengar di dalam bis kota yang dinyanyikan oleh seorang pengamen, masih terus terngiang di telingaku. Meski hari ini begitu dipadati dengan berbagai aktifitas kantor, namun hatiku masih menyanyikannya berulang-ulang sampai aku tertidur di bis kota yang membawaku pulang.

Entah kenapa aku jadi sentimentil begini. Padahal dulu semenjak aku kenal lagu itu, tidak ada perasaan apa-apa. Cuma memang lagunya sih enak didengar, apalagi penyanyinya juga favoritku.

***

Di dalam tidur ayamku di bis kota, aku bermimpi.

"Pa, katanya kalo nanti pindah kantor gajinya naik?" tanya istriku sambil merapatkan duduknya di sebelahku.

"Koq udah empat bulan belum juga ada tanda-tanda naik gaji sih. Masa percobaan kan kan udah lewat, seharusnya bulan ini udah ada perubahan dong?" tambahnya lagi.

Aku memang sudah 4 bulan ini bekerja di perusahaan baru yang kantornya tidak terlalu jauh dari rumahku dan direkturnya pun masih kawan lamaku. Di perusahaan X ini, aku menduduki jabatan sebagai Technical Supervisor yang bagiku sudah tidak asing lagi, karena di dua perusahaan asing sebelumnya posisiku juga sama seperti itu. Tapi karena ini perusahaan baru dan BOC serta BOD-nya aku sudah kenal semua, maka soal gaji aku tidak terlalu mematok angka yang tinggi. Bahkan boleh dibilang "perolehanku" menurun dibanding perusahaan yang baru saja kutinggalkan. Turun hampir 25%.

"Pa, koq diam aja sih?" kata isteriku lagi membuyarkan lamunanku.

"Ma, sabarlah sedikit. Ini kan perusahaan baru. Baru berjalan beberapa bulan. Belum juga satu tahun dan kontraknya juga baru ada beberapa buah. Masih bisa dihitung sebelah tangan. Memangnya bikin perusahaan gampang apa?" jawabku sedikit kesal.

"Tapi kan perjanjian kerja antara papa dan perusahaan udah ditanda tangan. Artinya papa berhak menerima dan mereka wajib membayar sesuai kesepakatan." kata isteriku tak kalah sewot.

"Betul. Itu betul! Tapi kita kan harus punya toleransi dong, Ma! Bosku aja menerima gaji lebih kecil daripada di tempat kerjanya yang dulu, tapi dia nggak sewot kayak kamu begini." jawabku mulai
dengan nada tinggi.

"Dia menerima tawaran pekerjan ini karena dia punya harapan dan idealisme bahwa perusahaan ini bisa maju dan bersaing dengan perusahaan asing itu. Kalo kita bisa maju kan hasilnya juga bisa kita nikmati bersama, bukan cuma menguntungkan bule-bule itu aja." tambahku lagi.

"Ooohhh... Rupanya papa terjebak sama idealisme dia? Papa rela bekerja di perusahaan ini dengan gaji yang lebih kecil karena mengharapkan sesuatu yang belum pasti? Apa papa yakin perusahaan ini bisa maju dan akan memberikan hasil sesuai yang diharapkan?" kata isteri tak kalah sengitnya.

"Bukan begitu, ma. Soal idealisme itu setiap orang kan harus punya, supaya kerja kita jadi nggak kayak robot. Lantas soal hasil, kan kita wajib berusaha, berikhtiar, dan tak lupa berdo'a. Kalau usaha kita sudah maksimum tapi hasilnya belum sepadan, ya kita nggak boleh putus asa dong. Kita harus berusaha lebih keras lagi dan banyak berdo'a lagi. Mungkin Tuhan belum menunjukkan jalan yang terbaik karena usaha kita belum maksimal dan do'a kita belum sepenuh hati. Tapi yakinlah, kami nggak main-main waktu sepakat mendirikan perusahaan ini. Kami sudah mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi. Artinya, kita nggak bisa melihat maju mundurnya perusahaan ini dari waktu yang baru beberapa bulan ini. Nantilah kalau sudah dua tahunan baru kita evaluasi lagi, apakah usaha ini maju, mau diteruskan atau dibubarkan." kataku panjang lebar menjelaskan.

"Papa..." isteriku mengeluh, "Kalau tahu begini, dulu aku nggak kasih ijin kamu berhenti dari perusahaan lama itu. Cari penyakit aja. Udah enak-enak di sana, gajinya lebih besar. Apalagi sih yang dicari?"

"Lho koq begitu? Memangnya kamu yang bikin keputusan di rumah ini? Aku kan kepala keluarga dan aku berhak menentukan masa depanku. Meskipun begitu, aku toh sudah pernah menjelaskan sama kamu masalah ini sebelum aku memutuskan untuk pindah." jawabku kesal.

"Ya, tapi papa kan nggak cerita sedetail ini. Cuma bilang mau pindah kerja ke perusahaan kawan dan dulu papa bilang gajinya sama juga seperti di tempat lama setelah masa percobaan tiga bulan." kata isteriku sambil menjauhkan duduknya dari sisiku.

"Sekarang kenyataannya berbeda. Wajar dong kalau mama bertanya." tambahnya lagi.

"Memang boleh saja mama bertanya dan protes ke papa soal ini. Tapi coba dong mengerti sedikit. Ini kan bukan pekerjaan seperti membalikkan tangan. Butuh waktu dan pengorbanan. Termasuk kita juga harus berkorban dengan berkurangnya penghasilan kita. Tapi insya Allah ini tidak berlarut-larut." kataku mencoba meredakan ketegangan.

"Tapi dampaknya kan ke anak-anak, pa. Bulan ini saja uang sekolah anak-anak terlambat dibayarkan. Uang untuk masuk SMP si Auli belum ada. Belum lagi cicilan motor yang telat, sampai harus kena denda segala." isteriku tetap bersungut-sungut.

"Ya itulah pengorbanan kita, ma. Untuk sesuatu yang lebih besar memang kita harus berkorban. Kalau kita ikhlas berkorban dan tetap bekerja sesuai dengan kaidah-kaidah yang kita percayai, niscaya Allah tidak akan membiarkan umatNya sengsara." kataku sedikit berkhutbah.

"Bagiku itu tetap saja sama seperti pepatah mengejar merak tak dapat merpati ditangan dilepaskan" kata isteriku mengutip sebuah pepatah yang menurutku salah kutip.

"Di saat usia papa sudah segini kan seharusnya papa cari kerja yang mapan. Nggak perlu coba-coba. Kalau gagal, nanti cari kerja yang bagus bayarannya lagi kan susah. Coba deh papa pikirin sebelum terlanjur jauh. Mungkin perusahaan yang lama masih mau menerima papa lagi. Syukur-syukur mereka mau bayar lebih tinggi lagi karena mereka sudah tahu potensi yang papa miliki." katanya lagi.

"Kenapa sih mama kelihatan lebih pusing daripada aku? Perbedaan gaji yang menurutku nggak seberapa itu sepertinya menambah beban mama berlipat-lipat. Kenapa uang selalu jadi target utama kita bekerja? Banyak orang yang gajinya tidak sampai seperlima gajiku, tapi mereka bisa hidup senang." ujarku mulai memanas lagi.

"Cobalah syukuri rejeki yang sudah kita dapat, berapa pun itu jumlahnya. Kalau kita mensyukurinya, niscaya Allah akan menambah rejeki kita. Tapi kalau kita tak mau mensyukuri, bukan tak mungkin Allah akan menutup pintu rejeki kita." tambahku.

"Aku sudah tahu, paaa. Nggak perlu diajari, aku juga setiap shalat selalu bersyukur bahwa kita masih diberi rejeki. Tapi kan kebutuhan kita semakin banyak, pa, setiap hari bertambah. Mungkin papa nggak pernah coba mencari tahu berapa harga beras sekarang, berapa persen kenaikan harga-harga kebutuhan pokok dibanding beberapa bulan lalu. Kepalaku jadi pusing setiap hari memikirkan kebutuhan kita yang semakin membengkak. Termasuk uang jajan anak-anak setiap hari. Kalau ditotal-total, semua pengeluaran kita hampir sama dengan gaji papa, terus kapan lagi kita bisa nabung?" kata isteriku panjang lebar.

"Sekarang papa masih sehat, masih kuat bekerja, masih diberi umur dan rejeki. Nanti kalau sudah sakit-sakitan sementara kita nggak punya tabungan untuk jaga-jaga, gimana jadinya, pa? Gimana masa depan anak-anak?" tambahnya.

"Memang betul, ma. Kita tak boleh lupa menabung untuk masa depan anak-anak. Tapi itu kan kalau ada kelebihan. Kalau nggak ada ya gimana? Lagi pula soal masa depan anak-anak kan kita tidak tahu. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah mempersiapkan mereka sebaik-baiknya. Kita sudah membekali mereka dengan ilmu, baik ilmu pengetahuan maupun ilmu agama. Insya Allah mereka akan jadi anak-anak yang baik. Mengenai rejeki mereka, Tuhan sudah mengaturnya sejak mereka masih dalam kandungan mama. Jangan terlalu mengkhawatirkan masalah rejeki mereka di masa depan. Yang penting adalah bekal untuk mencari rejeki itu yang kita harus tanamkan ke dalam hati mereka. Agar mereka nanti senantiasa mencari rejeki di jalan yang diridhai oleh Allah, tidak menghalalkan segala cara." kataku sambil beranjak pergi karena hari sudah mulai gelap bertanda sebentar lagi maghrib tiba.

Isteriku pun mengekor di belakangku, tapi dengan tetap menggerutu. Ada gerutuannya yang sempat mampir ditelingaku. "Aahh, papa tuh nggak pernah menghargai pikiranku. Nggak pernah mengerti perasaanku. Wajar saja kalau aku sebagai seorang ibu dan isteri menjadi khawatir dengan keadaan ini. Kalau nanti aku hidup sendiri nggak kebayang deh gimana jadinya."

Aku diam saja tidak menyahuti gerutu isteriku. Bukan berarti aku tidak mengacuhkannya. Aku bersyukur bahwa isteriku sangat menyayangiku dan mencintai anak-anak. Tapi aku ingin dia merasakan sedikit "penderitaan", sesuatu yang selama ini jauh dari dia. Aku ingin dia tegar dan kuat menghadapi kesulitan hidup, apabila kelak aku dipanggil lebih dulu oleh Sang Maha Pencipta.

Setiap suami akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat nanti. Lantas apa yang bisa aku berikan sebagai jawaban kalau di dunia ini aku tidak berhasil membawa "kapalku" merapat di pelabuhan cintaNYA? Bagaimana aku bisa melewati shirathal mustaqim kalau anak dan isteriku tak merelakanku karena tak cukup bekal yang kuberikan pada mereka?

***

"Pak, pak, sudah sampai, pak. Bangun, pak..."

"@#!!!9*&@... Oh iya, pak. Terima kasih, pak."

Kondektur membangunkanku seperti biasanya begitu bis memasuki terminal Ragunan. Dia sudah akrab denganku, karena setiap hari aku naik bis ini.

Kepalaku agak pusing karena selama tidur, kepalaku tanpa aku sadari beberapa kali terbentur palang besi di sisi kiriku.

Aku ambil motor dari tempat penitipan dan langsung aku tancap pulang ke rumah. Mudah-mudahan di rumah sudah tersedia kopi susu yang hangat untuk sekedar menghilangkan pusingku.

"Mama... I'm coming..." teriakku dalam hati sambil merapatkan kerah jaketku.

Ahlan Susanto # Dimuat Ulang dari Arsip KSC # 20-07-2007

http://kotasantri.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Redaksi KSC sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Indra | Full Time Jobseeker
Alhamdulillah KSC bagus banget, jadi pengen nyoba KSC Mobile-nya.
KotaSantri.com © 2002 - 2022
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0523 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels