Pelangi » Pernik | Ahad, 3 November 2013 pukul 20:20 WIB

Perempuan yang Selalu Memenuhi Ponselku

Penulis : Fiyan Arjun

Sudahlah kau berhenti saja menggombaliku. Aku tahu watak asli kau dari sejak aku mengenal kau saat di coffee shop itu. Cukup kau gombali setiap perempuan yang kau temui di tempat itu, tetapi Stop! Jangan diriku! Karena aku tahu kau itu memang lelaki otak bulus. Buaya darat. Kucing garong. Entahlah apalagi yang bisa aku katakan kembali kepada kau. Karena aku sudah habis berkata-kata.

Bila aku ingat pesan singkat itu di ponsel, rasanya aku jadi malu sendiri bila mengingatnya kembali. Pesan singkat yang begitu membuatku terkejut. Tak menyangka bila ia mengirim pesan singkat seperti itu di ponselku. Entah, dari mana ia mempunyai keberanian untuk mengirimnya, membuat aku makin penasaran dibuatnya. Ingin sekali aku mendengar dari bibirnya yang merekah dan selalu basah itu. Ingin...

***

Kini sudah berpuluh-puluh kali perempuan itu mengirimkan pesan singkatnya ke ponselku. Oh, bukan! Ternyata sudah beratus pesan singkat yang ia kirimkan untukku. Itupun jika aku tak menghapusnya. Coba kalau aku tak berbuat seperti itu, mana mungkin aku bisa membaca pesannya lagi. Terlebih pesan singkat yang aku terima bukan saja darinya. Masih banyak lagi. Entah, itu dari atasanku, rekan kerjaku, maupun dari kawan mengopiku saat aku sedang memerlukan angin segar. Aku selalu mengirimkan pesan kepadanya agar ia mau menemaniku walau hanya sekedar tersaji secangkir kopi dan beberapa kretek di coffee shop tempat langgananku.

”Sudahlah kau beli saja, Ben! Kalau bisa kau beli selusin ponsel untuk bisa puas membaca pesan dari perempuan itu. Jadi kau tidak perlu lagi susah-susah menghapus apalagi memenuhi ponsel butut kau itu. Ingat, ini zaman online. Produk ponsel selalu berganti-ganti. Coba saja kau lihat rekan kerja kita Calvin, ia sudah memiliki Baby (baca : BlackBerry) keluaran terbaru. Dan kamu masih itu-itu saja ponsel yang aku lihat di tangan kau. Ayolah, Ben, maju sedikit, aku yakin kau mampu kok membelinya. Hanya Baby saja masa sih kau tak mampu membelinya.”

Begitulah suatu hari, Bandi, kawan mengopiku memberitahukanku sebuah solusi dari masalah yang sering aku hadapi. Masalah yang sering timbul dari pesan singkat yang dikirimkan oleh perempuan itu. Selalu saja begitu. Selalu memenuhi ponselku. Hingga membuat aku risau jika aku ingin menanti pesan masuk dari atasanku. Menghapusnya atau tidak!

Entahlah, itu sebuah solusi atau malah mencekik leherku, aku tak begitu yakin. Apakah aku bisa membelinya atau tidak. Padahal keperluanku bukan hanya soal ponsel saja, tetapi masih banyak lagi hal yang terpenting aku dahulukan. Tetapi kalau aku tak berbuat begitu, aku selalu sering kehilangan pesan. Baik dari atasanku, rekan kerjaku, tapi kalau soal pesan dari Bandi, kawan mengopiku itu, aku tak begitu mengkhawatirkannya. Hanya satu yang membuat aku selalu risau ketika pesan singkat perempuan itu jika sudah memenuhi ponselku. Ah, kau perempuan membuat aku menjadi serba salah.

”Sudahlah kau, Ben, tak usah berpikir lagi. Lagi pula reputasi kau di tempat kerja tak begitu buruk. Kau ini salah satu pegawai yang selalu diperhitungkan oleh Pak Saleh atasan kita. Ingat tidak kau, Ben? Kau itu sudah beberapa kali mendapatkan promosi jabatan yang membuat setiap orang melihatnya seringkali gelap mata. Ayolah, Ben, kau optimis sajalah. Aku yakin kau pasti mampu kok membelinya,” lanjut Bandi sekali lagi memberitahukan aku jalan terbaik mana yang akan aku tempuh. Dan itu berbalik pada diriku sendiri.

Aku hanya diam. Tak berkata lagi. Hanya bisa mendengarkan saja ucapan dari kawan mengopiku itu walau di hadapanku secangkir kopi tak lagi menghamburkan aroma yang menyengat indera penciumanku. Ternyata benar, kopi yang sudah tersaji di meja bulatku itu sudah tak menghamburkan aroma lagi. Dingin. Halnya saat di luar sana ketika mata minusku melihat rinai hujan mulai membasahi pelataran coffee shop dengan derasnya menambah suasana menjadi beku. Aku hanya bisa mematung.

”Maaf, Di, sepertinya hari sudah petang. Lagi pula hujan di luar sana sudah mulai reda. Aku balik pamit dulu,” ujarku saat matahari terus merambat mendaki kaki langit di sebelah barat, mengintip dari balik gedung pencakar langit. Ternyata senja telah memberhentikanku untuk berlanjut bercakap-cakap kepada kawan mengopiku itu.

Kulihat arlojiku, ternyata sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Ternyata aku sudah lama berpijak di coffee shop itu bersama Bandi, kawan mengopiku sekaligus rekan kerjaku yang paling setia untuk mendengar ceritaku tentang perempuan itu. Perempuan yang selalu memenuhi ponselku. Ah, perempuan membuat lelaki menjadi serba salah melangkah.

***

Ternyata salah langkahku terbaca oleh perempuan itu, ketika aku tak menuruti perkataan kawan mengopiku itu. Aku tak berani mengambil keputusan untuk hanya sekedar membeli ponsel terbaru saja. Padahal itu berguna juga untuk diriku. Entahlah. Tapi...yang aku herankan bagaimana mungkin bisa perempuan itu tahu kalau aku sedang dilema. Antara aku harus menuruti perkataan kawan mengopiku itu atau tidak? Aku benar-benar terkejut dengan apa yang sudah perempuan itu sampaikan ke ponselku.

Kok begitu saja bingung! Mana Beno yang dulu aku temui di coffee shop itu. Selalu percaya diri. Selalu yakin pada keputusannya, tetapi nol besar. Kalau aku tahu kau lelaki semacam itu, lebih baik aku dulu tak ingin berkenalan dan menjalin hubungan ini. Karena aku tak mau berhubungan dengan lelaki macam kau itu.

Bagaikan tertusuk sembilu aku merasakan pesan singkat yang sampai di ponselku. Masih tetap memakai ponsel lama.

Pesan singkat itu aku terima saat jam makan siangku hampir usai. Saat raja siang benar-benar hampir memakan kepalaku. Panas membuat kulit terasa hampir terbakar. Tetapi bersyukur kantin tempat aku makan siang saat itu tak terlalu jauh dari tempat kerjaku. Jadi panas dari raja siang tak begitu aku rasakan. Namun yang aku rasakan panas—sekarang di telingaku adalah pesan singkat dari perempuan itu dari ponselku.

”Kenapa? Perempuan itu mengirimkan pesan singkat lagi kepada kau, Ben? Sudahlah turuti saja kataku. Gantilah ponsel lama itu daripada kau nanti selalu dipermalukan oleh perempuan itu melalui pesan singkatnya. Mana Beno yang aku kenal dulu. Beno yang selalu tak mau di permalukan oleh perempuan!” Tiba-tiba Bandi mengejutkan aku dari arah belakangku. Mengejutkan aku atas lamunanku terhadap pesan yang dikirimkan oleh perempuan itu.

Aku mendengus, ”Kau tahu dari mana kalau aku sedang suntuk hari ini?” jawabku pada Bandi yang sejak tadi hanya tersenyum-senyum melihat penampilanku saat itu.

”Ben... Ben... Aku ini bukan anak kecil lagi. Aku ini mengenal kau bukan hanya sehari dua hari, tetapi banyak tahu tentang kau. Untuk apa kau mengundangku terus-terusan untuk sekedar mengopi jika kau butuh aku sebagai teman pendengar cerita sentimentil kau terhadap perempuan itu. Nah, sekarang kau baru tahu kan bagaimana sifat perempuan sesungguhnya. Ia tak mau dengan lelaki plin-plan seperti kau, Ben. Lihatlah kau ini tampan ,tapi ketika melihat ponsel yang kau pegang itupun perempuan yang melihatnya jadi tak berselera terhadap kau. Ayolah, mana Beno yang dulu.”

Akhirnya akupun goyah juga terhadap perkataan Bandi saat itu. Tapi aku ingatkan (lagi-lagi) ini bukan lantaran perkataan kawan mengopiku itu lho? Ini sebenarnya karena perempuan itu yang sudah membuat aku sebagai lelaki merasa dipermalukan olehnya walau hanya berkata-kata melalui pesan singkat saja. Aku benar-benar dipermalukannya!

”Okelah kalau begitu, Di. Ternyata apa yang kau katakan ada benarnya juga. Siapa tahu jika aku nanti mengganti ponsel lamaku dengan ponsel keluaran terbaru sekelas Baby, aku bisa menggombali kembali perempuan-perempuan yang setiap kali melewati meja pesananku di coffee shop langganan kita.”

Bandi hanya bisa terkekeh saat mata minusku melihatnya saat itu. Mungkin ia setuju dengan apa yang aku ajukan itu. Hmm... ternyata memang perlu pengorbanan juga jika harga diri tidak ingin dipermalukan, gumamku membatin, bila mengingat pesan singkat perempuan itu terus-terusan dikirimkan ke ponselku.

***

Akhirnya pengorbananku mengalahkan segalanya. Kini sekarang aku sudah memiliki ponsel keluaran terbaru. Sekelas Baby bahkan lebih. Inipun aku lakukan untuk menjaga kehormatanku sebagai lelaki terhadap perempuan itu. Aku tak mau ia selalu mengejekku dengan apa yang aku miliki. Tak lain ponsel bututku. Ponsel lamaku itu. Dan kini aku sudah membuktikannya.

”Begitu dong! Itu baru Beno yang aku kenal. Masa sih pegawai yang memiliki reputasi bagus di tempat kerja, membeli ponsel terbaru saja tak mampu. Nah, sekarang terbuktikan kau semakin percaya diri, Ben.” Bandi beberapa kali memujiku saat aku baru menginjakkan kaki ke ruang tempat kerjaku. Ternyata kawan mengopiku itu sudah menunggu sejak tadi.

”Kau itu, Di, bisa saja membuat aku jadi salah tingkah. Hmm... tapi bagaimana ya kau bisa tahu bahwa aku sudah memiliki ponsel terbaru,” jawabku.

”Ben... Ben... Aku ini bukan anak kecil lagi. Aku ini mengenal kau bukan hanya sehari dua hari, tetapi banyak tahu tentang kau. Untuk apa kau mengundangku terus-terusan untuk sekedar mengopi jika kau butuh aku sebagai teman pendengar cerita sentimentil kau terhadap perempuan itu.”

Selalu begitu. Entahlah mungkin itu sudah menjadi kartu matiku agar aku tak mampu balik menjawab pertanyaan kawan mengopiku itu. Aku dibuatnya mati kutu atas ucapannya.

Nah, begitu dong, itu namanya lelaki yang tahu teknlogi. Tahu kemajuan zaman. Masa zaman online begini masih memakai ponsel keluaran primitif. Dan aku bisa kembali memenuhi ponsel kau lagi. Benarkan, sayang.

Mata minusku naik beberapa derajat saat tiba-tiba tak aku sadari pesan singkat dari perempuan itu sudah kembali memenuhi ponsel keluaran terbaruku.

Cerpen ini ada di Buku Kumpulan Cerpen "Neraka di Mulut Ibu" karya Fiyan Arjun. Terbitan Leutika Prio. 2011.

KotaSantri.com 2002-2022