Pelangi » Pernik | Ahad, 13 Oktober 2013 pukul 21:21 WIB

Sumpah Itu

Penulis : Redaksi KSC

Alhamdulillah, bahagia rasanya di rumah kembali setelah hampir dua bulan tidak pulang kampung. Rumpun bambu di pojok halaman, sepoi angin yang menyapu teras dan semua sudut rumah dengan segala suasananya selalu membuatku rindu pulang.

Dari halaman, kulihat Pras, adikku satu-satunya, dengan lesu dan kepala tertunduk membuka pintu pagar tanpa turun dari atas sepeda. Aku hanya tersenyum lebar. "Hi, kid…!" teriakku riang.

Pras mendongak, ada kilatan yang tak kupahami dari matanya. Sejenak tangannya menegang di pintu pagar.

"Apa kabar?" sambutku sambil mengacak rambut gondrongnya begitu ia memasuki halaman. Sedikit menghindar, dia tersenyum sekilas dan berlalu masuk rumah.

"Aneh! Tak seperti biasanya," keningku berkerut.

***

Rumah, Selesai Makan Malam

"Kamu merasakan perubahan sikap adikmu?" Bapak memulai pembicaraan.

"Inggih…" aku menjawab bingung.

"Genduk ngerti kenapa?" ada getar dalam suara Bapak.

Aku menggeleng, masih tak mengerti.

"Kamu ngomong apa sama adikmu sebelum kembali ke Jakarta dua bulan lalu?" Bapak bertanya kembali.

Aku semakin tak mengerti. Kutatap Bapak dan Ibu bergantian. Ibu yang sejak tadi diam malah mulai terisak. Jantungku berdegup kencang, Ya Allah, apa yang telah terjadi? Kuputar memoriku, menebak-nebak. Nanar ku tatap Bapak meminta penjelasan. Mata tua itu mulai berair.

"Apa yang kamu khawatirkan, telah terjadi Nduk." Ribuan jarum serasa menusuk-nusuk hatiku, membanjirkan air mataku seketika. Kutelungkupkan kepalaku di meja. Berlebat dialogku dengan Pras di kamarnya dua bulan lalu.

"Mbak banyak mendengar kabar tentang kamu dari tetangga, Pras. Mereka bilang kamu dan Heni, pacarmu sering nongkrong dan kongkow sampai malam di depan warung. Mbak juga mendengar di antara gadis-gadis yang datang ke situ sudah ada yang hamil. Mbak khawatir, Pras… Ah, kamu tahu maksudku. Selama ini mbak percaya sama kamu."

Pras yang bersandar ke dinding hanya terdiam waktu itu. Jari-jari panjangnya menjentikkan abu rokok. Tajam kutatap ia dan kurengut rokok di tangannya.

"Sekarang terserah kamu. Tapi ingat, kalau sampai terjadi apa-apa padamu dan pacarmu, jangan pernah lagi menganggapku sebagai mbakmu." Kutinggalkan Pras dengan perasaan penuh luka, sedih, dan marah.

Dan kini!!! Kekhawatiranku telah menjadi kenyataan. Aku tak sanggup menunggu sedu sedan lagi.

Bapak mulai menangis, "Tiga minggu lalu Pras minta uang hasil penjualan padi. Bapak ndak ngerti untuk apa. Bapak baru tahu setelah orangtua Heni minta pertanggungjawaban. Rupanya Pras dan Heni bermaksud menggugurkan si janin. Untung kejadian itu ndak kesampean, Nduk!" Bapak menghela nafas panjang.

"Tapi, Nduk. Sejak itu adikmu seperti yang kamu lihat tadi siang. Dia takut kamu benar-benar melaksanakan ancaman dulu. Bapak takut, kalau kamu nggak memaafkannya, adikmu akan nekat ngelalu."

Sejenak ada keheningan menggigit. Hanya isak satu-satuku dan tangis ibu terdengar meningkahi.

"Karena itu Nduk, takjaluk relakan adikmu. Cabut sepalamu. Biarlah dia sendiri yang nggendong ngindit akibat perbuatannya. Semoga Yang Mahakuasa ngapurani Bapak-Ibu yang tidak bisa mendidik anaknya," kalimat terakhir Bapak hampir tak terdengar.

Dan keesokan harinya, kutinggalkan rumah dengan hati hancur.

***

Jakarta

Inilah hari ketujuh aku meninggalkan rumah, kembali ke jakarta. Sejak seminggu yang lalu, hampir tiap malam aku duduk termangu di sini. Di kursi ini. menatap kosong ke luar jendela. Tak pernah belajar, tilawah kutinggal. Hanya menangis yang kumau. Kalaulah bukan karena air mata ini sudah mengering, ingin aku mengalirkannya. Ah Prasetyo!

Entah berapa kali dia membuat ulah. Dan selalu saja ulah-ulahnya membuat malu keluarga. Mencuri di kebun tetangga, menjahili anak-anak tetangga hingga tawuran, berjudi, dan mabuk-mabukan. Dan sekarang? Pras... Pras Berzina! Pras menghamili anak orang! Rasanya kali ini kesalahannya tak lagi kumaafkan.

Jakarta, Hari Kedelapan.

"Tiwi!" Aku menoleh. Yanti. Sahabatku yang terus menghiburku dan menemaniku.

"Aku sedih jika Pratiwiku terus menerus begini. Aku rindu Pratiwiku yang dulu, yang penuh semangat, yang ceria." hibur Yanti, lalu mengulurkan secarik kertas padaku.

Aku menerima kertas itu dan menatap wajah Yanti. Yanti mengangguk dan menepuk pundakku, kemudian menghilang di balik pintu.

Anda butuh teman bicara? Anda ingin mengkosultasikan masalah anda dan mendapatkan pemecahan yang Islami? Yayasan Sahabat Anda akan membantu anda. Hubungi Intan Lc, S Psi di 3921302.

"Adik telah berusaha selama ini Kalaulah kemudian peristiwa ini terjadi, betapa pun itu adalah kenyataan yang harus adik hadapi. Ini cobaan Allah buat adik, apakah adik akan bersabar atau tidak. Dari cerita adik, mbak tahu, adik menyayanginya dengan tulus. Jagalah bening jiwa dan kasih sayang itu, Dik! Jangan biarkan luka dan sumpah itu menodai jiwa adik. Adalah lebih bijaksana kalau adik berlapang dada dan mencoba membenahi yang tersisa, daripada adik melarikan diri. Apakah adik rela, kalau saudara adik satu-satunya melakukan dosa yang lebih besar lagi? Membunuh si bayi dan membunuh diri? Apakah adik rela jika hubungan darah itu harus terputus?"

Terlintas kata-kata saat menyatakan Pras mau menggugurkan bayi itu bahkan hendak bunuh diri. Aku gemetar. Aku... Aku tak ingin lagi kehilangan untuk yang kesekian kali!

"Bukankah akan lebih indah, kalau adik mengajaknya kembali? HidayahNya berlaku untuk semua, bahkan bagi mereka yang masih terus bergelimang dosa. Semoga, cahaya itu menyentuhnya lewat tulusnya kasih dan beningnya jiwa adik. Adik ingat kisah pengabulan do'a pemuda Kahfi yang terjebak di dalam gua? Mereka berdo'a dengan perantaraan amal yang pernah mereka kerjakan dengan tulus, ikhlas dan kebeningan jiwa. Mintalah pada Allah dengan sepenuh kebeningan telaga jiwamu agar Allah membukakan hatinya." suara Ibu Intan, kini kudengar bagai nyanyian surgawi, melembutkan kembali hatiku yang mengeras.

Aku pun tersadar. Ya Allah, apa yang terjadi pada diriku ini? Pras, maafkan Mbak!

Azimah Rahayu # Dimuat Ulang dari Arsip KSC # 23-11-2003

KotaSantri.com 2002-2021