QS. Muhammad : 7 : "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. "
Alamat Akun
http://masekoprasetyo.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Surabaya - Jawa Timur
Pekerjaan
Editor Jawa Pos
Seorang pecandu berat wedang kopi, tapi antirokok. Arek Suroboyo yang besar di Bekasi. Pengagum berat kebesaran Allah ini hobi sepak bola dan melempar senyum. Pemuda yang doyan kacang ijo ini juga pegiat baca buku. Bergelut dengan naskah dan tata bahasa adalah tugasnya sehari-hari sebagai editor bahasa Jawa Pos.
http://samuderaislam.blogspot.com
Tulisan Eko Lainnya
Filosofi Balap Karung
20 Agustus 2013 pukul 21:00 WIB
Penulis Harus Public Oriented
16 Agustus 2013 pukul 23:00 WIB
Mudik Itu Bid’ah?
9 Agustus 2013 pukul 08:00 WIB
Pesugihan
3 Agustus 2013 pukul 21:00 WIB
Sportivitas Main Layangan
28 Juli 2013 pukul 20:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 25 Agustus 2013 pukul 22:00 WIB

Army of Rose

Penulis : Eko Prasetyo

Hujan batu tiba-tiba menyerang sepasukan Israel. Tentara Yahudi itu sejenang dibikin kalang kabut. Moncong senjata otomotis pun dalam posisi siaga penuh. Mata para serdadu mendelik, menaham amarah.

Batu-batu yang berukuran kecil dan sedang itu kembali menyerbu. Sekelompok anak-anak tampak berlarian. Tidak membelakang atau hendak mundur, melainkan maju merangsek ke garis terdepan dan terdekat dengan para tentara Israel itu.

Ya, wajah-wajah itu! Mereka masih bocah dan merekalah yang menyerang para pria berseragam hijau loreng dan bersenjata lengkap.

Pasukan tersebut terperangah. Sementara hujan batu tak henti-henti mengarah ke mereka. Keheranan.

Mereka, para serdadu itu, tak mengerti apa yang membuat anak-anak kecil tersebut bertindak sedemikian berani dan tergolong nekat. Bocah-bocah itu tidak menandakan akan berlari mundur. Dari dekat, seorang komandan pasukan berseru. ”Hah, mereka adalah anak-anak perempuan?” serunya.

”Lalu?” tanya seorang anak buahnya.

Tak ada jawaban yang segera keluar dari mulut sang komandan. Ploook. Sebuah batu kecil mengenai helm baja seorang prajurit.

”Bangsat!” Dia berteriak, darahnya mendidih.

Karabinnya tersulut. Puluhan peluru pun menghambur, menyerbu anak-anak yang ia sebut bangsa itu.

Tiga bocah perempuan roboh seketika. Kepala salah satunya pecah diterjang, sementara dua lainnya meregang nyawa setelah peluru tentara Yahudi tersebut menembus dada mereka.

Melihat tiga kawan mereka tewas, beberapa yang tersisa lantas semburat mundur. Menjauh. Pekikan mengiringi derap cepat kaki mereka.

”Allahu akbar!”

”Allahu akbar!”

Mata sang komandan tadi belum lepas dari keterkejutan. Namun, dia pun tak berdaya mencegah tembakan membabi buta dari anak buahnya tersebut.

Mossad, dinas intelijen Israel, bahkan pejuang Palestina tidak bisa menjelaskan secara terperinci penyulut keberanian para bocah itu.

***

Halimah binti Syuaib, 23 tahun. Matanya menatap tajam ke luar jendela. Debu-debu merangsek terbawa angin. Benaknya melayang.

Pemandangan perkelahian di daerag perbatasan dan Tepi Gaza baginya adalah hal yang lumrah. Menu yang sehari-hari ia dan warga Palestina lainnya lahap.

Kakaknya, Ibnu Syuaib, adalah pejuang Hamas. Dia bertugas pada divisi khusus yang mendidik para mujahid muda untuk melawan tentara Israel.

”Kita hidupkan kembali intifadah,” Ibnu Syuaib menghela napas. Siang yang terik itu dia mampir ke rumah ibundanya.

Waktu seakan tak dermawan bagi mereka. Sebab, setiap saat maut siap menjemput. Namun, bukankah hidup memang sepenggal kisah mampir minum saja. Demikian yang tebersit dari pikiran Halimah dan sang kakak, Ibnu Syuaib. Bagi mereka, tak ada kesenangan ataupun sekadar hiburan seperti muda-mudi di belahan negara lain. Yang pada jam senggang bisa mendengarkan musik, irama klasik, ataupun pergi ke tempat pusat-pusat perbelanjaan di tengah kota.

Ah, tidak ada itu. Mereka bahkan sudah menganggap bertempur dengan tentara Israel sebagai sebuah kesenangan. Mati sebagai seorang syuhada dan syahidah. Inilah intifadah yang mereka idam-idamkan sejak kali pertama dicetuskan Yaser Arafat pada 1987.

Ladang-ladang di dekat permukiman mereka tak lagi hijau, sudah puluhan tahun seperti itu sejak pendirian negara Israel di tanah Palestina. Sudah cukup lama, bukan? Gersang dan kering.

Yang hijau, bagi mereka, cuma roh para mujahid. Warga Palestina, terutama para anak muda, percaya bahwa mati dalam pertempuran melawan pasukan Israel adalah syahid. Dan ganjarannya adalah roh mereka terbawa oleh burung hijau. Menyejukkan bebangunan yang kian hari kian rata dengan tanah.

***

”Kak, izinkan aku menjadi Wafa Idris,” ucap Halimah kepada abangnya, Ibnu Syuaib.

Ibnu Syuaib terdiam. Ia menenggak air putih yang tersaji di atas meja kayu yang sudah lapuk.

Wafa Idris, 24 tahun, memang begitu terkenal di seantero Palestina. Namanya dipuja-puja. Relawan Bulan Sabit Merah1 itumeledakkan diri, menjadi pelaku bom bunuh diri ke-47. Tepatnya, ia adalah kamikaze perempuan pertama yang meledakkan dirinya atas nama perjuangan rakyat Palestina. Aksinya menewaskan seorang pria Israel dan melukai puluhan warga Israel. Sebelum tewas lewat aksi militannya, Wafa sempat menyampaikan pesan terakhirnya kepada keluarga, kerabat, dan rakyat Palestina di Ramallah.

Pada detik-detik terakhir peledakan, Wafa selalu mengucapkan “sang calon syahid”. Dagunya menegang, sikapnya khidmat, dan tenang. Ucapan selamat tinggal kepada warga Palestina, teman, dan kerabatnya diakhiri dengan mengangkat tangan kanan lalu melambai.

Bom berhulu ledak sedang pun meluluhlantakkan sekitarnya dan menelan satu nyawa warga Israel.

***

”Tidak adikku, tak akan kuzinkan engkau turun ke medan pertempuran,” ujar Ibnu Syuaib dengan mimik serius. Dia berharap agar sang adik menjadi seorang ibu saja.

”Lahirkan para syuhada, adikku. Lahirkan generasi pejuang tanah air kita dari rahimmu. Itu pun termasuk suatu perjuangan.”

Raut muka Halimah cemberut.

***

Dini hari itu Tepi Gaza menyala oleh bara api yang menyulut di beberapa sudutnya. Kota membara. Pesawat-pesawat pengebom Israel menyerang kawasan perbatasan, termasuk kediaman Halimah dan ibundanya.

Dalam pernyataan resminya, pemerintah Israel berdalih bahwa itu adalah serangan balasan atas bom bunuh diri yang menyalak di permukiman warga Yahudi. Mereka menuding Hamas berada di balik aksi tersebut.

”Wahai Ibnu Syuaib, pulanglah. Rumahmu diserang pesawat durjana Israel,” kata Khalid, salah seorang pejuang Hamas yang masih kerabat kakak Halimah itu.

Wajah lelah tak lagi menyelimuti mereka. Cemas, namun semangat masih terlintas dan tetap membara.

Syuaib bergegas dan bermaksud untuk melihat bekas serangan tentara Israel. Namun, yang ia dapati di sana adalah hal yang menyesakkan dada. Ibunya meninggal dalam serangan yang berlangsung selama sekitar 20 menit. Waktu yang singkat dan sudah cukup untuk meratakan rumah penduduk sipil dengan tanah.

Di sebuah bekas puing, beberapa ratus meter dari tempat Ibnu Syuaib berdiri, terlihat seorang perempuan yang berjongkok. Wajahnya pucat pasi dan masih menyimpan ketakutan. Trauma atas kejadian yang baru terjadi beberapa saat lalu.

”Halimah,” seru Ibnu Syuaib kepada perempuan tersebut.

”Syukurlah engkau selamat. Alhamdulillah, adikku.”

Namun, wajah Syuaib seketika berubah pucat. Terperangah demi melihat darah segar yang masih menempel pada Halimah. Tangannya kirinya koyak akibat serangan 20 menit tadi.

Syuaib segera memeluk adiknya. Tangisan pun pecah pada pagi buta yang dingin itu. Orang-orang di sekeliling masih diliputi kecemasan akan serangan lanjutan Israel.

”Kak, izinkan aku menjadi Wafa berikutnya,” lirih Halimah.

”Tidak adikku,” tegas Ibnu Syuaib.

”Kak, tahukah engkau bahwa perempuan setara dengan lelaki saat menderita dan mendekati ajal?”

Halimah menundukkan wajahnya dan melanjutkan kerisauannya.

Baginya, sejarah mesti mencatat bahwa orang-orang terjajah dan pasif seperti pihaknya bisa menggerakkan pemberontakan yang begitu terkenal dan mengubah tragedi perdamaian yang gagal itu menjadi kampanye bom bunuh diri. Kampanye yang menyulut kemarahan yang amat dahsyat.

***

Yerusalem Timur, permukiman Yahudi tampak padat oleh aktivitas warga. Pasar tradisional bergeliat seperti biasa. Lalu-lalang pembeli dan aktivitas tawar-menawar mewarnai pagi yang cerah itu.

Blaaaaaaaaaaaar…..

Mendadak suasana menjadi ricuh. Pemandangan berubah menjadi mengerikan. Beberapa orang roboh dan menjadi mayat. Darah berceceran di mana-mana.Israelkembali dibikin murka. Terhitung enam warga sipil Yahudi dan tiga tentaraIsraeltewas dalam serangan bom bunuh diri itu.

Pelakunya diidentifikasi seorang perempuan tanpa tangan kiri. Namun, di tangan kanannya ditemukan setangkup bunga mawar. Aroma harum. Tetapi, di dalamnya terselip alat pemicu bom yang siap dipicu oleh pelakunya kapan pun ia mau.

Hear our prayer…

Ibnu Syuaib mendengar kabar serangan bom bunuh diri di Yerusalem Timur tersebut dari telik sandi asal perbatasan. Tanpa perlu memastikan, ia yakin bahwa perempuan yang membawa setangkup mawar itu adalah adiknya. Ia pun yakin bahwa cita-cita sang adik telah tercapai –sesuai dengan julukan yang pernah diberi oleh Arafat– menjadi bagian Army of Rose.

Satu lagi martir Army of Rose gugur. Ia mungkin sadar bahwa dengan meledakkan diri dan menyasar orangIsraeltidak serta-merta membuat Palestina merdeka. Namun, ia pun yakin bahwa tiada pengorbanan yang sia-sia demi sebuah harga kebebasan, sebuah kemerdekaan yang diidam-idamkan.

Ketika setiap peluang hidup berakhir dengan pintu tertutup,

ketika tak ada lagi teman yang menjadi pelipur lara,

ketika tiada karir yang bisa memberikan rasa percaya diri dan kemandirian ekonomi.

ketika tiada lembaga masyarakat yang bisa memberikan bantuan, baik materi maupun dukungan emosional, dengan anak-anak yang tak berayah,

Jelas bahwa sebagian perempuan Palestina begitu yakin untuk menghabisi nyawa mereka sendiri.2

1. Sejenis Palang Merah di negara-negara Arab muslim

2. Catatan Barbara Victor dalam Army of Rose (Rodale Inc, 2003, yang diterjemahkan dalam Laskar Mawar oleh penerbit Mizan, 2008)

http://samuderaislam.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Eko Prasetyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

zaenudin | tutor
Memang Hebattt, bisa nambah ilmu juga sahabat.
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1530 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels