Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
Alamat Akun
http://kopiradix.kotasantri.com
Bergabung
1 Mei 2009 pukul 23:11 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Mahasiswa
Tulisan Muhammad Lainnya
Bulan Syawal atau Bulan 'Saya Awal'?
16 Agustus 2013 pukul 21:00 WIB
Perpisahan
14 Agustus 2013 pukul 23:00 WIB
Menjelang Tengah Malam di Malam Takbiran
8 Agustus 2013 pukul 15:00 WIB
Pengertian Sabar
31 Juli 2013 pukul 22:00 WIB
Adakah Semua Bencana ini Kesalahan Kita?
26 Juli 2013 pukul 21:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 18 Agustus 2013 pukul 20:00 WIB

Sepasang Pedang Kayu

Penulis : Muhammad Nahar

Kedua lelaki berbeda usia itu saling berhadapan, mereka berdua masing-masing memegang sebilah pedang kayu. Mereka seakan tak peduli deburan ombak yang menghiasi pantai malam itu. Keduanya saling bertatap tajam.

Tiba-tiba, teriakan keras seakan memecah sunyi malam itu, mengalahkan deburan ombak pantai tersebut. Kedua lelaki itu saling menyongsong satu sama lain dengan pedang kayu mereka. Sekejap kemudian, suara kayu beradu terdengar silih berganti, memecah kehingan malam di pantai tersebut.

Sang pemuda, walaupun lebih muda dan kuat, tidak bisa mengimbangi permainan lelaki tua itu. Beberapa kali sang pemuda terpukul pedang kayu lawannya, masih untung bukan bagian yang vital. Si tua rupanya tidak ingin menyakiti sang pemuda lebih daripada yang diperlukan. Orang tua itu ingin mendidik si pemuda, bukan membunuhnya. Namun, benturan pedang kayu orang tua itu sepertinya sudah cukup untuk melumpuhkan perlawanan si pemuda.

“Jahe tua memang pedas rasanya,” kata si pemuda sambil memuntahkan darah seraya berlutut. Gumpalan darah itupun larut ke dalam pasir pantai.

Si pemuda bangkit kembali walau dengan susah payah dan bersiap meneruskan pertarungan. Tubuhnya bergetar menahan rasa sakit yang menjalari seluruh tubuhnya.

“Bangun,” kata petarung yang lebih tua. “Kau belum siap.”

“Tapi ayah,“ protes si pemuda.

“Emotional content, not anger,” kata ayahnya. “Remember that.”

“Apa perbedaan antara kedua hal tersebut?” kata si pemuda sambil menghapus darah di bibirnya?

“Sulit untuk dijelaskan. Kau akan mengerti saat dewasa nanti,” kata sang ayah.

Si pemuda pun membisu, sehening malam di pantai itu.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Muhammad Nahar sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Anna | Staff UPT Laboratorium
Subhanallah... KotaSantri.com isinya bagus, menarik, dan yang pasti banyak artikel-artikel yang menambah ilmu dan pengalaman.
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0677 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels