HR. Ahmad & Al Hakim : "Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya. "
Alamat Akun
http://12345.kotasantri.com
Bergabung
23 April 2009 pukul 03:58 WIB
Domisili
Jakarta - DKI Jakarta
Pekerjaan
Penulis Freelance
Penulis buku Bela Diri for Muslimah : Siapa Bilang Perempuan Makhluk yang Lemah. Untuk bersilaturrahim, silakan kunjungi : http://sebuahrisalah.multiply.com atau FB / Imel : bujangkumbang@yahoo.co.id
Tulisan Fiyan Lainnya
Karena Cinta itu Bermata
12 Oktober 2012 pukul 14:00 WIB
Dia juga Pahlawan
25 September 2012 pukul 09:30 WIB
Tak Sepaham
24 September 2012 pukul 13:00 WIB
Biar Miskin, Asal Tidak Minta-minta
19 September 2012 pukul 10:00 WIB
Inilah Cinta
10 September 2012 pukul 12:45 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 14 Oktober 2012 pukul 14:00 WIB

Kuli

Penulis : Fiyan Arjun

Susana seperti itu sudah biasa mewarnai pasar grosiran. Hiruk pikuk pun sudah mulai hidup. Begitu pula dengan para pencari sesuap nasi, mulai nampak siap-siap “bergerilya.” Bukan itu saja, tak ketinggalan “penghuni” pasar pun ikut bergerilya pula. Para kuli panggul yang memakai pakaian “seragam” kuning-kuning. Ikut meramaikan pasar itu.

Mereka sudah siap siaga untuk menguras keringatnya dengan memikul beban yang memberatkan di pundaknya. Kadang pula di punggungnya. Yakni, memikul berkarung-karung barang yang beratnya bisa berkilo-kilo. Di antara mereka ada pula yang saling mencari “perhatian” dan juga mencari kesempatan. Alih-alih siapa tahu para pemborong atau cukong ada yang sudi memakai tenaga mereka untuk memikul barang-barang di pasar grosir itu.

Itulah susana pagi di pasar grosir itu yang membuatku harus sedikit “membuka” mata. Ikut merasakan keprihatinan dan menaruh iba kepada para kuli panggul di pasar itu. Kebetulan pagi itu aku ada di pasar grosir.

Tiba-tiba ekor mataku menangkap “pemandangan” yang cukup membuat aku mejadi penasaran. Ya, aku melihat sosok kuli panggul di pasar itu. Sosok kuli panggul yang sangat belia. Kalau aku mengira-ngirakan usianya lebih muda dariku. Hingga akhirnya dalam benakku ikut terusik .”Apakah aku bisa setangguh dan sekuat dirinya itu?” kataku dalam hati saja sambil ekor mataku tak lepas dari sosoknya yang sedang menunggu “pasiennya” itu. Entahlah. Tapi aku sangat bangga dan mengangkat empat jempot untuk ketangguhannya itu. Dua jempol tanganku dan ditambah dua jempol kakiku. Klop bukan?

Karena penasaran dengan sosoknya, aku memberanikan diri untuk bertanya-tanya kepadanya. Siapa tahu ia bisa berbagi pengalaman kepadaku. Dan aku jadi bisa tahu bagaimana suka dan duka menjadi kuli panggul pasar itu.

“Sedang sendiri, Mas? Kawan-kawannya ke mana?” tanyaku ramah kepadanya.

Tak ada jawaban.

Ia hanya memperhatikanku saja dari atas kepala hingga kakiku. Menaruh curiga. Aku jadi malu dilihat olehnya.

“Maaf, Mas, kalau saya menganggu,” kataku lagi.

Tapi kali ini beda dari yang sebelumnya. Ia memberi angin segar kepadaku. Ia memberi kesempatan kepadaku untuk menjadi teman bicara daripada aku sendirian.

“Oh, tidak apa-apa!” tukasnya singkat. “Sedang belanja pakaian ya?” lanjutnya bertanya kepadaku saat ia mulai buka suara.

“Tidak kok, Mas, saya sedang menunggu kakak saya belanja pakaian. Tapi kok lama sekali belinya,” ucapku memberitahukan kepadanya tentang kegelisahanku.

“Ya, sabar saja, Mas. Memang kalau belanja di sini harus bisa sabar menunggu. Apalagi di sini banyak macam jenis pakaian. Jadi harus pandai-pandai mencarinya.”

“Sudah berapa lama, Mas, jadi kuli panggul di pasar ini?” aku memberanikan diri untuk lebih lanjut menanyakan hal seperti itu. ”Oya, sampai lupa. Nama saya Marwan!” ujarku memberitahukan namanku sambil mengulurkan tanganku. Dan ia pun menyambutnya dengan hangat.

“Saya Anggar,” jawabnya sambil menjabat tanganku.

Kuli panggul itulah pekerjaan anak itu. Pekerjaan bagi sebagian orang yang melihatnya sebelah mata. Hina dan tak berkelas. Tapi bagiku tidak! Walaupun pekerjaannya seperti itu, bagiku pekerjaan itu sangat mulia daripada mengemis dan meminta-minta. Bukankah begitu?

Ya, walau pekerjaan itu hina dan dipandang sebelah mata, belum tentu di mata Yang Mahakuasa demikian. Boleh jadi pekerjaan itu lebih baik! Dan bukan itu saja, pekerjaan ini juga tak segampang membalikan tangan. Hanya bermodalkan “tenaga kuda” sudah cukup memanggul dan mejadi kuli pangul. Itu salah! Melainkan juga harus menjaga fisik yang sehat dan kuat serta membangun “realationship” kepada seseorang yang ingin menggunakan jasanya itu.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fiyan Arjun sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Eko | Karyawan BUMN
Alhamdulillah bisa bergabung lagi setelah 6 bulan aku off. Tulisannya bisa menggugah perasaan kita. Lanjutkan, saudaraku!
KotaSantri.com © 2002 - 2022
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0458 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels