|
QS. At-Taubah 9 : 129 : "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepadaNya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung."
|
|
|
alzrie98@yahoo.com |





Ahad, 1 Juli 2012 pukul 10:00 WIB
Penulis : Sri Mulyani
Fla, nama gadis itu, tak ada yang istimewa. Sungguh hal yang tak wajar kalau gadis ini sempat membuatku tergelitik bahkan tuk senyum pun harusnya aku malas. Bagaimana tidak? Dah jauh dari modis, sok belagu pula. Boro-boro mau ngobrol, kalau ditegur cuma menarik bibir setengah senti kanan-kiri. Nyengir. "Uhhh... memang senyummu manis apa?" gerutuku dalam hati.
Fla, dia teman kuliahku, baru bergabung beberapa semester yang lalu karena dia mahasiswi alih program. Dari awal aku dah merasa aneh sama anak ini. Bagaimana tidak coba? Hari gini kuliah masih pake jilbab gede, gak mau yang namanya pake celana panjang atau baju-baju modis. Tiap hari aku lihat dia dengan gaya yang sama, dengan rok usang itu. Walau memang dia selau serasi, tapi tetap saja gak gaul banget. Padahal anak-anak sekelasku tuh modis. Ada si Elfin yang seksi itu dan gayanya mirip Agnes Monica, ada si Merisca yang tinggi dan langsing dan mirip Draw Barymore waktu masih muda, belum si Ane, Ilen, dan lain-lain. Semuanya modis. Ada sih beberapa yang pakai jilbab, tapi masih tetep seksi dan modis. Tapi Fla, duh, kesel rasanya mata ini menatapnya.
Tapi sungguh aneh. Fla, akhir-akhir ini nama itu seperti bergaung merdu di relung hati ini. Entah siapa yang membisiki hatiku yang bodoh ini. Fla sama sekali tak berhak ada di secuil bagianpun dari hatiku. Fla yang sering aku anggap kuper, walau aku harus akui otaknya lumayan encer, apalagi kalau presentasi selalu bikin teman-temen pada kesel sama argumennya
***
Hari ini adalah hari terakhir UAS semester akhir, dan setelah ini semua akan sibuk dengan skripsi masing-masing. Artinya, akan sangat sedikit waktu untuk berkumpul lagi dengan teman-teman. Dan Fla, entah setan apa yang membuatku ingin sekali mengingatnya.
Kulihat gadis berbaju pink, kerudung pink, dan rok hitam berjalan di koridor kelas. Matanya yang gak pernah tengok kanan- kiri saat berjalan sempat kaget waktu aku memanggilnya, ”Fla.” Serak suaraku hampir terhenti, entah langkah bodoh apa yang aku lakukan. Tapi aku ingin sekali menyapanya hari ini, sebelum berpisah. Mungkin beberapa bulan ke depan aku gak akan melihatnya.
Mata bening itu menatapku dengan sedikit kaget. Seperti biasa, dia hanya tersenyum tipis dan segera mempercepat langkahnya. ”Fla, tunggu. Boleh mengganggu sebentar?” tanyaku. Baru kali ini aku bersikap begitu sopan padanya. Dahinya mengernyit, dan sesaat kulihat rona merah di pipi itu.
”Ada yang bisa dibantu?” tanyanya, tanpa sambil mengalihkan tatapannya.
"Hmm... Ya, aku mau ngomong sebentar,” jawabku gugup.
"Silahkan."
Duh, mahal banget kata-katanya.
"Boleh tahu nomor hapenya?"
Lagi-lagi kulihat ekspresi yang tidak suka dari wajah itu.
“Untuk apa?”
“Yeee... Kok untuk apa sih? Kita kan teman, dan sebentar lagi kita skripsi, jadi jarang ketemu. Nah, Fla kan pinter nih, kali aja bisa bantu aku. Hehe..,” jawabku sambil menggaruk kepalaku yang gak gatal. Duh, ngapain ya aku butuh nomor hape anak ini? Tapi sisi hatiku yang lain merajuk tuk bisa mendapatkan nomor itu.
“Maaf, aku gak punya. Lagian kan ada dosen pembimbing, kenapa harus nanya aku? Aku biasa aja kok. Kalau kamu gak bisa, ya apalagi aku,” jawabnya merendah.
“Bukan begitu, Fla. Kan kita bisa sharing, kan malu klo sering-sering nanya sama Dosen. Entar aku dibilang lemot lagi. Masa’ Fla rela sih,” kataku sambil cengar-cengir tak menentu.
“Eh... emangnya kamu gak punya temen cowok apa? Maaf ya, mikirin skripsiku aja aku pusing. Dah deh, gak usah banyak alasan. Maaf, aku gak punya banyak waktu.”
"Deg..." Duh, baru kali ini aku lihat si mungil ini jadi galak gini. "Huh... Dasar gak tahu di untung. Masih mending ada yang naksir. Ganteng lagi. Awas ya, kalau gak bisa naklukin lo, jangan panggil namaku Danie. Uhh..." gerutuku kesal. Tapi Fla telah jauh berlalu, ketika aku masih termangu.
Setelah kejadian itu, rasanya kesal banget sama yang namanya Fla, tapi anehnya hatiku tambah kagum sama dia. Aku semakin penasaran, sampai di mana sih kegarangannya. Akhirnya mati-matian aku coba cari alamat emailnya. Kalau hape emang susah, karena cuma teman-teman deketnya saja yang tahu, dan dah pasti gak bakal membocorkannya padaku.
Lewat e-mail, aku curahkan semua perasaanku, dan semua cerita bagaimana aku bisa tertarik padanya. Dan jawabannya NIHIL. Gak satupun e-mailku dijawab. Kesal gak sih? Padahal aku dah melamar dia tuk jadi pacarku di e-mail itu juga. Eh, gak digubris sama sekali. Dasar aneh nih anak!
***
Tak terasa enam bulan sejak kejadian itu, aku sama sekali gak bisa menghubungi Fla. Aku gak bisa melupakan yang namanya Flariandra Astina, yang akrab dipanggil Fla itu. Dia telah menjelma menjadi sosok yang menarik bagiku. Dan dari kejadian itu, aku mencoba mencari-cari tahu kenapa Fla begitu menjaga jarak dengan cowok-cowok di kampus ini. Dan aku dengar, memang dia gak pernah pacaran. Hmm... ini hal yang sangat langka bagiku. Hari gini? Dari teman-temanku, aku baru tahu kalau Fla tuh anaknya aktif banget, dia aktif di kegiatan-kegiatan rohis, juga organisasi mahasiswa muslim di kampusku ini. Dan Fla juga gadis yang baik, dia sangat dekat dengan teman-temannya. Dia seorang guru honorer untuk anak-anak jalanan, sungguh prestasi yang mengagumkan.
Dan hari ini adalah hari wisuda kami. Rasa senang karena telah berhasil melewati tahap akhir kuliahku gak ada apa-apanya dibanding rasa senangku tuk bisa melihat Fla. "Aku gak peduli, aku harus menemuinya," begitu bisik kuat di hatiku. Aku harus katakan pada Fla, kalau aku menyukainya. Gak peduli apapun jawabannya.
Kulihat wajahnya begitu ceria dengan balutan kebaya dan toga di kepalanya. Manis juga nih anak, walau masih tetep setia sama kerudung itu. Cuma hari ini agak lain.
“Fla, aku bisa bicara sebentar?” tanyaku mendekati dia yang sedang asyik berfoto ria dengan teman-teman ceweknya.
”Ada apa, Dan?” tanyanya ramah, seperti tak pernah ada apa-apa sebelumnya.
"Tapi aku ingin bicara berdua saja.“
"Ada apa sih? Sekarang saja gak apa-apa kok."
“Ya, tapi ..."
Tiba-tiba teman-temannya meninggalkan kami. Walau masih di tempat yang ramai, tapi paling tidak gak akan ada yang menertawakan aku dengan kata-kataku nanti.
“Fla, aku dah kirim e-mail berkali-kali sama kamu, koq gak dibalas sih? Aku gak tahu apa kamu membaca atau tidak, tapi setidaknya pasti kamu tahu maksudku kan?"
“Ya, aku membacanya.”
"Trus kenapa gak dibalas?
Tiba-tiba tangannya mengayun ke depan menyodorkan sesuatu padaku memberikan sebuah bingkisan.
“Ini jawabannya,” katanya singkat.
"Maksudnya?" aku masih terbengong menerima sebuah bingkisan yang di bungkus rapat itu.
”Danie, aku minta maaf kalau aku kasar sama Danie. Bukan bermaksud menyakiti. Danie akan mengerti setelah membaca buku ini,” jawabnya pelan sebelum akhirnya meninggalkan aku yang masih berdiri mematung dalam keherananku.
Duh, apa lagi nih? Ada-ada saja sih nih anak. Ditanya jawaban, kok malah dikasih buku. Jawabannya dibukukan gitu?
***
Aku sudah bisa menangkap pesan yang diberikan Fla padaku walau aku belum selesai membaca buku yang dia berikan padaku. Aku merasa aneh dan asing dengan buku-buku itu, tapi aku jadi ingin tahu apa sih maksud si manis itu.
Dua buku itu berjudul “Indahnya Mencintai Allah” dan “Meredam Gejolak Rindu dalam Naungan Ridha-Nya”. Sebelum membaca, aku lihat indeksnya yang kurasa menarik bagiku. Dan di salah satu bab buku yang berjudul “Meredam Gejolak Rindu dalam Naungan Ridha-Nya” itu aku menemukan adab-adab pergaulan dalam Islam juga penjelasan bahwa dalam Islam, gak ada istilah dating. Semua dijelaskan pacaran tuh bla... bla… bla... lengkap dengan ayat-ayat Al-Qur'annya.
"Deg..." aku baru sadar, aku kan muslim, tapi aku seperti baru saat ini sadar, kalau aku seorang muslim yang harus taat pada aturan-aturan sebagai seorang muslim. Jadi Fla? Entah berapa gadis yang aku pacari. Duh, selama ini aku gak merasa salah dalam langkahku apalagi dosa ini.
Dan di buku satu lagi, aku menemukan banyak pembahasan-pembahasan yang menarik “Indahnya Mencintai Allah”. Ada bab yang sangat menarik dalam buku ini, yang mengingatkanku akan kelebihan-kelebihan yang aku punya, kemewahan, kekayaan yang diberikan orangtuaku. Aku sama sekali tak pernah berfikir dari mana aku bisa menikmati semua itu. Yang terfikir hanyalah orangtuaku yang berusaha membahagiakanku, tapi di buku ini, aku di buat terperangah dengan semua pemaparan atas nikmat-nikmat-Nya yang selama ini sama sekali tidak kusadari.
Tak mudah tuk merubah paradigma cara berfikirku yang berlatar belakang keluarga modern dan jauh dari nuansa Islami. Aku yang terlahir dari keluarga yang lumayan berkecukupan, dengan segala perhatian dan fasilitas yang diberikan oleh orangtuaku. Apapun yang aku minta, tak bisa tidak harus dikabulkan. Dan ayah-bundaku sangat perhatian padaku, tapi keduanya tak pernah mengajarkanku seperti ini. Bahkan shalat? Memang sih waktu masih remaja, ayah sering menyuruhku shalat, tapi dasar aku bandel, semua hanya angin lalu saja. Dan ayah gak pernah pusing dengan hal itu. Asal aku kuliah dengan benar, itu dah beres. Dan orangtuaku tak pernah mengusikku ketika kuhabiskan waktuku dengan pacaran, main band, nongkrong, atau jalan-jalan ke manapun aku suka. Sungguh, kehidupanku jauh dari keteraturan. Aku boleh melakukan apa saja yang aku inginkan, selama itu tidak merusak diriku, ayah dan bunda takkan banyak cingcong.
Tapi Fla, aku jadi tertarik sekali ingin mengetahui lebih lanjut tentang apa yang tertulis di buku itu. Dan akhirnya aku beranikan diri untuk mendatangi masjid-masjid untuk mengikuti kajian, juga aku sering tanya pada ustadz-ustadz, apapun tentang Islam yang banyak tidak aku ketahui selama ini. Dan akupun mulai belajar memakai baju ”aneh” yang selama ini belum pernah aku memakainya, baju khas seorang muslim. Alhasil aku baru menyadari sedikit kebenaran dari buku itu. Walau aku masih jauh tuk faham dan mengamalkan, tapi aku seperti menemukan dunia baru. Dunia yang aneh, tapi aku senang, aku merasa tenang. Aku semakin giat mengikuti kajian-kajian di masjid. Sebelum kuliah untuk program S2-ku dimulai, aku fokuskan hari-hariku dengan kegiatan-kegiatan di masjid ataupun seminar-seminar keislaman.
Hingga suatu hari terlintas keinginan dalam hati untuk kembali datang pada Fla, melamarnya. Namun kali ini tidak untuk menjadi pacarku, tapi untuk menjadi pendamping hidupku. Aku merasa Fla adalah wanita istimewa. Dia membawaku ke dalam dunia yang baru, membukakan mataku dari kesalahan selama ini. Fla, gadis yang sangat sederhana, cerdas, tegas, dan sangat teguh memegang prinsipnya. Aku yakin, dia akan menjadi pendamping yang baik untukku kelak, yang akan membantuku lebih memahami tentang Islam. Dan kerinduanku tuk bersamanya kian dalam, hingga timbul keinginan kuat untuk langsung melamarnya.
Tapi belum juga terlaksana apa yang aku rencanakan, belum juga usai ku membayangkan kebahagiaanku dengannya, aku mendengar kabar yang mengejutkan. Sebuah undangan aku terima dari Adel, teman dekat Fla. Ya, undangan pernikahan Fla. Fla akan menikah? Oh, siapakah lelaki beruntung itu? Pasti dia lelaki yang sangat baik yang memang pantas mendampingi Fla. Sedang aku?
Dengan hati berdebar, aku buka undangan itu dan kutemukan dua nama yang sangat indah terukir di sana, “FLARIANDRA ASTINA dan M. FARIZ INDRA ARFANY”. Nama yang indah, aku yakin orangnya pun pasti baik, sebaik Fla, setegar Fla, dan secerdas Fla.
Ada rasa nyeri di hati saat baca undangan itu. Tapi bagaimanapun, aku harus sangat berterima kasih pada Fla, yang telah membawaku mengenal dunia baru, dunia kebenaran, mengenal Tuhanku, mengenal ajaran agamaku. Aku hanya bertekad untuk bisa menjalani duniaku saat ini, menjadi lebih baik, hingga suatu saat kelak aku berhak mendapatkan Fla yang lain, yang mampu menaklukkan hatiku, dengan ketegarannya, yang mampu memikat hatiku dengan kesederhanaannya, yang mampu menarik hatiku bukan dengan keindahan tubuhnya, namun dengan ahlaknya.
Fla, kau inspirasiku. Kini aku akan tetap melangkah di dunia yang telah kau tunjukkan dan akan kupalingkan cintaku pada-Nya. Fla, aku sedang berusaha mengenal-Nya, dan mencintai-Nya. Do'akan aku, Fla, seperti tulus do'aku agar kau bahagia.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sri Mulyani sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.