QS. Al-'Ankabuut : 64 : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."
Alamat Akun
http://srimulyani.kotasantri.com
Bergabung
11 Maret 2009 pukul 10:11 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Karyawati
alzrie98@yahoo.com
Tulisan Sri Lainnya
Sebuah Impian
12 Februari 2012 pukul 12:00 WIB
Dia Arjunaku?
1 Januari 2012 pukul 17:00 WIB
TakdirNya Mahacantik
20 November 2011 pukul 12:45 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 8 April 2012 pukul 10:00 WIB

Kau Sanggup Membuatku Tersenyum

Penulis : Sri Mulyani

Hujan gerimis kembali mengguyur Jakarta pagi itu. Seperti biasa, aku melangkahkan kakiku menuju kantor. "Hhh..." aku mendesah malas. Pagi itu rasanya malas sekali tuk berangkat kerja. Sudah bangun kesiangan, ditambah hujan. "Hmm.. Coba kalau libur, bisa gak keluar deh dari kamar."

Baru saja aku turun dari metromini, dan dengan malas kulangkahkan kakiku di depan Pakubuwono Residence. Hujan gerimis seakan begitu mengerti kemalasanku pagi ini. Di balik blazer coklat tebalku, aku berlindung dari rintik hujan yang masih setia menemani langkahku.

Beberapa saat kemudian, bis yang kutunggupun datang menghampiriku. Bersyukur masih ada kursi yang belum terisi. Segera kuayunkan kakiku menuju bangku itu. Buspun melaju perlahan. Tak kuhiraukan pemandangan di kanan kiriku, aku sedang asyik menikmati rintik hujan yang menyirami dedaunan, seakan tersenyum dan menari mengajakku tertawa menyambut pagi.

Tiba-tiba sudut mataku menangkap sesosok kecil meraih pinggiran pintu bus yang sedang melaju. Kualihkan pandanganku ke arah pintu bus yang kutumpangi, aku melihat sosok kecil berdiri terhuyung mengikuti laju bus kota ini. Sesaat kutatap wajah mungil itu, memakai kaos oblong dan celana putih dengan gambar Doraemon di depannya, plus sepatu kets belel, lengkap dengan gitar kecil di tangannya.

Wajah itu nampak tersenyum ceria, tak peduli laju bus yang sering menghentakkan tubuh mungilnya. Sosok kecil itu mulai bernyanyi membawakan lagu Pecinta Wanita-nya Irwansyah yang sedang hit itu. Dengan gaya pedenya, sosok kecil itu seakan merasa menjadi sang penyanyi yang sedang menghibur para penggemarnya. Bahkan dia pun tak terganggu dengan penumpang yang turun naik, dia begitu menghayati lagu yang dinyanyikannya. Tak sadar aku tersenyum-senyum melihat gayanya yang lucu.

Aku memang pecinta wanita, tapi ku bukan buaya, yang setia pada selibu gadis ku hanya mencintai dia
Aku memang pecinta wanita yang lembut seperti dia

Lagu itu mengalir dengan mulus dari mulut mungil itu. Bukan syair lagu itu yang aku suka, tapi wajah polos seakan tanpa dosa dan tanpa beban sedikitpun. Kulihat wajah itu begitu ceria, dalam hati kuberharap dia menyanyikan satu lagu lagi, tapi harapku berakhir saat dia melangkah menghampiri para penumpang dengan kantong plastik butut di tangannya. Ingin sekali aku bisa bercerita dengan sosok itu, tapi dia cepat berlalu dan aku hanya bisa menatap langkah kaki mungilnya meninggalkan bus kota yang aku tumpangi.

Seiring langkah kaki kecil yang menghilang di ujung jalan, aku merenung, mengapa aku harus sejutek ini pagi ini, mengapa aku harus bermalas-malasan, bahkan aku enggan tersenyum dengan sahabat-sahabatku di kost saat mau berangkat tadi. Bocah kecil itu seakan menyadarkan aku betapa berartinya semangat dalam hidup ini.

Benar bahwa bocah itu tak tahu banyak tentang mimpi, tak tahu banyak tentang masalah, tapi aku yakin, bocah itu tahu banyak tentang pahitnya hidup di jalanan, bocah itu juga banyak belajar tentang kerasnya hidup sebagai penyanyi jalanan, bocah itupun juga harus mengesampingkan egonya tuk bisa bermain bersama teman-temannya, tuk menikmati indahnya masa sekolah, tuk bisa duduk manis di depan TV bersama orangtuanya, tuk bisa bercanda ria dengan kakak-kakaknya.

Dia begitu tegar, bahkan tak terlihat sedikitpun kesedihan di wajahnya, bukan karena dia tak punya keinginan, bukan karena dia tak punya mimpi, tapi karena dia sanggup menghadapi kenyataan hidupnya, dia sanggup menjalani hari ini penuh dengan senyuman, bahkan sanggup membuatku tersenyum bahagia.

Ya Rabb, betapa bodohnya aku. Apa yang bisa kulakukan dengan kemalasanku? Apa yang bisa kulakukan dengan kerapuhanku? Bocah itu telah mengajarkan aku, betapa dia yang begitu polos mampu membahagiakan orang lain, betapa dia yang masih begitu muda sanggup menahan kesedihan dirinya, lalu apa yang telah aku lakukan? Manfaat apa yang telah aku tebarkan? Kebaikan apa yang telah aku lakukan? Nothing! Ternyata, aku hanya sosok yang rapuh dan cengeng, aku hanya sosok yang egois yang tak peduli dengan lingkunganku.

Ya Rabb, terima kasih kau telah pertemukan aku dengan sosok kecil itu yang sanggup mengukir senyum bahagia di wajahku pagi itu. Aku tahu kesedihan yang disimpannya, aku tahu keras kehidupan yang dilalui bersama puluhan anak jalanan lainnya. Jika kelak aku tak sanggup membuat mereka tersenyum, maka jangan biarkan aku tertawa di atas kesedihan mereka. Jika aku tak sanggup mengulurkan tanganku tuk meraih mereka, jangan biarkan aku membuat luka di hati mereka.

Rabb, maafkan aku yang bodoh, sayangi mereka yang tak sanggup kurengkuh, lindungi mereka yang tak bisa kuraih. Maafkan diri ini yang mungkin banyak melukai hamba-hambaMu, yang tak sanggup memeluk mereka saat mereka terluka, yang tak sanggup membuat mereka tersenyum saat mereka menangis.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sri Mulyani sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Tulisan Favorit
Manisnya Persaudaraan
Ahad, pukul 09:00 WIB
Hotel Santika Premiere Beach Resort Bali - Santika Package
agung sutrisno | PNS
Isinya bagus, ringan, gampang dibaca, dan menyentuh kehidupan sehari-hari. Keep on good works!!!
KotaSantri.com © 2002 - 2013
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1488 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels