HR. At-Tirmidzi : "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak."
Alamat Akun
http://dettifebrina.kotasantri.com
Bergabung
27 Juni 2009 pukul 21:00 WIB
Domisili
Bandar Lampung - Lampung
Pekerjaan
Ibu Rumah Tangga
Tulisan Detti Lainnya
Labirin Cahaya
6 September 2009 pukul 17:10 WIB
Perjalanan Bersama Rembulan
12 Juli 2009 pukul 17:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 25 Maret 2012 pukul 11:00 WIB

Ikhwan Langka Bernama Ali

Penulis : Detti Febrina

Dia bernama Ali. Ikhwan itu sama dengan laki-laki lainnya. Rutin berinteraksi dengan akhwat ayu, daiyah populer dari keluarga terpandang, dan sekalipun tarbiyah bukan hanya sepekan sekali menerpa, namun dia masih manusia. Perasaan itupun muncul tanpa diminta.

Namun ia tahu posisi dirinya. Ia tahu mana batasnya. Cinta platonisnya disimpan rapat-rapat. Jangankan untuk 'nembak si akhwat, apalagi mengetikkan status di wall Facebook, untuk mengekspresikanpun ia bertahan. Bertahan. Tak sesiapapun tahu gelisah hatinya.

Menjaga kemuliaan diri, dan juga kemuliaan si akhwat.

Apalagi, mimpi memperistri sang akhwat kian memudar ketika tiba seseorang dengan segalanya; keshalihan, kekayaan, kemasyhuran dengan tujuan yang juga lama diidamkannya, mengkhitbah akhwat pujaan.

Seseorang itu punya begitu banyak keutamaan. Tak mungkin sang akhwat menolaknya. Gundahnya kian membulat.

Namun tak diduga, langit hatinya kembali cerah. Lamaran pria masyhur itu ditolak.

Waktu merambat dengan keteguhan menjaga kemuliaan diri. Namun seseorang kembali datang, justru ketika ia tengah mengumpulkan segenap alasan dan keberanian untuk hadir menjumpai orangtua si akhwat.

Pengkhitbah kali kedua ini pria gagah. Maisyah juga tak masalah. Disegani kawan maupun lawan atas kiprahnya di medan dakwah.

Ali, ikhwan yang teguh menggenggam marwah, kembali menunduk. Tak mungkin sang akhwat pujaan kali ini menolak pengkhitbah nan gagah.

Cinta tak terucap itu lagi-lagi harus dikubur dalam-dalam.

Namun berita yang sama kembali bagai petir di siang bolong. Pria kedua pun ditolak.

Skenario Allah SWT berlaku. Ya, Allah takdirkan Ali berjodoh dengan akhwat pujaan hatinya. Mereka menikah.

***

Happy ending? Pemuda bersahaja itu menemukan jawaban do'anya. Tapi cerita belum selesai sampai di sini.

Suatu malam, istri cantik menyampaikan sebuah rahasia yang mengejutkannya. "Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda.”

Ali terkejut dan berkata, “Kalau begitu, mengapa engkau mau menikah denganku? Dan siapakah pemuda itu?”

Sambil tersenyum istrinya berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah dirimu.”

Mahasuci Allah. Cinta platonis seorang ikhwan dan seorang akhwat. Kedua cinta tak terekspresikan. Tak terkatakan. Padahal situasi dan tuntutan dakwah membuat aktivitas mereka sering bertumbukan. Peluang untuk memberi sinyal ketertarikan atau sekedar perhatian nan 'wajar' tumbuh di sini dan di sana, bila mereka mau.

Namun pilihan menabrak mainstream-lah yang mereka ambil.

Dan keduanya menyimpan perasaan itu rapat-rapat hingga ijab qabul-lah yang menjadi pembuka hijab.

***

Cinta platonis berakhir romantis antara ikhwan aktivis bernama Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah dan akhwat daiyah bernama Fatimah Az-Zahra binti Muhammad SAW.

Pria pengkhitbah pertama dalam true story itu adalah Abu Bakar ash-Shiddiq. Sedangkan yang kedua - yang juga ditolak - adalah Umar bin Khattab. Fathimah menolak Abu Bakr dan Umar, demi menanti pinangan Ali yang miskin.

Ini bukan dongeng. Bukan kisah Peter Pan atau Cinderella yang too good to be true. Mereka semua sungguh wujud. Dan romantisme itu sungguh terjadi. Yang paling penting, kisah mereka Allah hadirkan tentu bukan tanpa alasan.

Wallahu a'lam.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Detti Febrina sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Dradjat | Pegawai
KotaSantri.com memang pas menjadi tempat mangkalnya para santri yang ingin mengikuti jejak nabinya. Semoga penulisan-penulisan di KotaSantri.com yang penuh keteledanan dan pelajaran adalah wajah kehidupan santri sebenarnya.
KotaSantri.com © 2002 - 2014
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0825 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels