|
HR. Muslim : "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada sosokmu dan hartamu, tetapi Dia akan melihat kepada hatimu dan amalanmu."
|





Ahad, 8 Januari 2012 pukul 11:00 WIB
Penulis : Fiyan Arjun
Subhanallah, siapakah dia? Apakah ini bidadari yang Kau turunkan untukku?
Kutatap diam-diam dirinya dari balik novel yang sudah seminggu ini kubawa dan kubaca sebagai teman di kala aku berangkat bekerja. Cantik parasnya, bangir hidungnya, dan matanya itu, aku tak sanggup untuk menatap ke arahnya lebih dalam. Seakan-akan mataku membeku seketika itu. Tak bisa berkedip lagi.
Astaghfirullahal adzim...
Kucoba menghembuskan nafas dalam-dalam untuk menghalau segala pikiranku yang menerawang tak jelas. Agar tidak lepas kendali. Mmm... Allah Mahaagung menciptakan hambaNya yang ada di hadapanku ini, gumamku. Begitu sempurna. Gadis yang ada di hadapanku saat ini, satu mikrolet. Alat transportasi angkutan umum yang tiap hari aku tumpangi untuk tujuan muliaku. Mencari sesuap nasi di semesta ini.
Ya Allah, jaga mata dan hatiku ini. Aku tak sanggup terus menerus memandangi ciptaanMu itu. Gadis yang ada di hadapanku ini sekarang. Bukan itu saja, gadis yang ada di hadapanku ini, selain berwajah khas padang pasir, ia juga memakai kerudung yang melingkar di kepalanya. Menambah semakin ayu parasnya. Baru kali ini aku melihat ciptaanMu ini yang membuat kalbuku tak karuan. Dag... dig... dug... tak bisa terkontrol dengan baik.
Kucoba mengalihkan mata minusku ke novel yang sejak tadi kubaca dari perjalanan berangkat kerjaku, sebelum gadis itu menaiki angkot yang aku tumpangi. Istana Kedua, novel tentang mimpi-mimpi dan dongeng para perempuan, yang malang dan percaya akan dongeng-dongeng peneman tidur. Ya, itu judul novel yang saat ini aku pegang.
Ah, apakah aku harus percaya juga dengan dongeng-dongeng semacam itu? Apakah aku harus percaya? Kata-kata itu terus saja menghantui benakku. Halnya aku percaya dengan dongeng-dongeng yang pernah aku dengar saat ibuku meninabobokan aku sewaktu kecil. Pangeran katak yang berubah menjadi seorang pangeran ketika ada seorang putri cantik jelita nan berhati mulia ketika mencium ke arah pangeran. Dan, berubahlah pangeran katak itu seketika menjadi pangeran yang gagah dan tampan.
Itulah dongeng pertama yang aku dengar dari suara parau ibuku. Mustahil! Apakah aku harus percaya dengan itu? Dan apakah gadis yang ada di hadapanku ini seperti putri dalam dongeng itu? Mencium saat aku telah berupaya menolong dirinya dari penyihir jahat, dan berubahlah diriku menjadi pangeran tampan. Kurasa itu nisbi. Takkan pernah terjadi. Allow, bung ini dunia nyata. Jangan bermimpi!
Dia mencoba melihat ke arahku lagi ketika aku membaca novel yang kupegang. Aku pun mencoba untuk menghindar dari tatapan elangnya. Dan, ternyata ia masih menatap tajam ke arahku. Ya Allah, jangan Kau tambah lagi ujian yang Kau berikan kepadaku. Aku tak sanggup! Selamatkan aku dari tatapannya itu. Aku benar-benar tak sanggup!
Ya, aku ini lelaki! Siapa yang tak tergoda dengan tatapan elangnya itu. Aku sebagai lelaki normal, tentu tak menolak bila ia terus-menerus menatapku seperti itu. Tapi, dia itu tidak halal untukku. Apalagi aku ini seorang diri. Belum menikah, tentunya aku harus mawas diri. Akhirnya mataku kualihkan lagi ke novel yang sejak tadi aku pegang, dengan tangan gemetar tak seperti biasanya, hingga halaman demi halaman yang aku usai baca kini aku ulangi lagi. Benar-benar ujian untuk seorang yang membujang!
"Novelnya bagus ya, Mas. Mas suka ya dengan karya-karya Asma Nadia?"
Duh, dia bicara kepadaku. Aku pura-pura tegak. Tak menampakan kegemetaranku saat ia menanyakan novel yang aku baca sejak tadi.
"Mmm... Iya!" jawabku dengan gigi gemeretak. Padahal aku sudah mencoba untuk menghilangkan rasa kegrogianku di hadapannya.
"Saya juga suka kok. Apalagi novel yang Mas baca itu. Istana Kedua kan judulnya, Mas?" ujarnya lagi.
Aku semakin tak karuan.
"Gimana menurut Mas tentang cerita di novel itu?" lanjutnya lagi, menanyakan apa isi cerita novel yang aku baca itu.
Hah! Aku tergugu.
"Oh, saya belum selesai membacanya," kataku singkat. "Tapi saya sudah tahu sebagian dari ceritanya."
"Gimana menurut Mas dengan nasib para perempuan yang ada di novel itu? Apakah Mas setuju dan selalu memandang wanita yang selalu identik sebagai penghancur rumah tangga?"
Dia menanyakan tentang kehidupan yang aku tidak pernah merasakannya. Bagaimana aku menjawabnya? Walaupun dalam novel itu menceritakan tentang keretakan sebuah rumah tangga yang tak harmonis. Tapi aku bukan tokoh yang ada di novel itu. Aku ini nyata. Aku ada di kehidupan yang realitis. Bukan di novel maupun dalam dongeng-dongeng yang diceritakan dalam novel itu. Atau juga bukan dongeng yang sering kali ibuku ceritakan kepadaku di kala beliau meninabobokan aku. It's really!
"Ya, menurut saya sih semua kembali kepada masing-masing orangnya. Bukankah setiap manusia yang diciptakan Tuhan itu sama dan yang membedakan itu kadar akhlaknya," jawabku seadanya. Masih tetap keadaanku. Tanganku masih seperti sedia kala. Gemetar terus.
"Benar, Mas!"
Ah, dia membenarkan ucapanku. Apakah tidak salah?
"Memangnya sudah pernah baca novel yang saya pegang ini?" sambil menunjukan novel yang aku pegang ke arahnya, aku pun menunjukan novel yang sama persis. Baik dari segi sampul maupun cover depannya. Sebuah jendela dengan retakan yang semakin panjang hingga membuat belukar onak menutupinya. Ah, aku jadi malu!
"Oya, Mas, saya sudah sampai nih. Terima kasih ya atas share-nya."
Akhirnya tujuan yang ia tuju sudah sampai. Dan sebelum ia meninggalkan mikrolet sebagai angkutan "pribadinya", tanpa sengaja ia memberi senyuman kepadaku. Aku diam. Tergugu. Memikirkan untuk apa ia tersenyum kepadaku?
Hari berselang. Waktu terus berlalu.
Ya Allah, sekarang dia ada di hadapanku lagi. Kini aku bertemu dia kembali. Apakah dia bidadari yang Kau turunkan untukku? Masa sih hanya dia seorang?
"Eh, ketemu lagi ya, Mas," katanya saat aku lagi seperti kebiasaanku yang lalu. Membaca novel di setiap perjalanan pergiku ke tempat aku bekerja. Tak menyadari kedatangannya itu.
Aku tak mendengar sapaannya itu.
"Lho, kok Mas disapa nggak nyahut sih?" protesnya kepadaku.
Aku kalut. Tak bisa berkata-kata saat ia memprotes atas sikapku yang tanpa sengaja telah membuat ia kecewa.
"Maaf, maaf, saya sedang asyik baca novel ini."
"Lho, memangnya belum selesai?" ucapnya menanyakan novel yang aku baca. Apakah sudah selesai dibaca atau belum.
"Maklum, namanya juga laki-laki. Tidak telaten seperti perempuan."
Lho, apa hubungannya dengan jenis kelamin? Ia tersenyum kecil kepadaku hingga aku sedikit melihat bibirnya yang tiba-tiba berubah melingkung manis gara-gara ia mendengar jawabanku yang aneh di telinganya itu. Masya Allah, aku segera ber-istighfar. Membuang hal yang tak halal untukku. Kini mata minusku kualihkan lagi ke novel yang hampir selesai kubaca.
"Mas, saya turun duluan ya?" Seperti biasa, ia menyapaku dengan senyuman itu ketika ia turun dari angkot yang setia menemani ia ke mana-mana. Angkutan mikrolet.
"Iya," jawabku, seperti biasa, kikuk dan gigi gemeretak.
Ya Allah, apakah ia jodohku?
Kini, aku seperti biasa menaiki angkot yang beberapa kali menemukan gadis itu di mikrolet. Kupedar mataku ke tepi jalan agar aku tahu bahwa ia sedang menunggu angkot yang setia aku tumpangi. Ternyata, di angkot yang aku tumpangi hingga sampai tujuanku, aku pun belum juga melihat dirinya. Sedang menunggu angkot seperti sedia kala. Pupus sudah harapanku untuk bertemu dengan dirinya.
Kamu jangan bermimpi. Ini dunia nyata. Buang mimpi-mimpi kamu yang akan bertemu dengan gadis itu. Gadis yang sering kau temui di mikrolet.
"Hhhh...." Aku menghela nafas. Mengaturnya agar aku bisa leluasa bernafas. Aku tak percaya jika gadis itu takkan aku temukan lagi di mikrolet. Batinku berkata. Gadis yang selalu menemani hari-hari bahagiaku saat berangkat ke tempat tujuanku yang mulia, mengais rezeki di bumi Allah. Ya Allah, apakah aku tak akan bertemu denganya kembali?
Tiba-tiba pandanganku beralih kepada novel yang usai aku baca. Sebenarnya, aku ingin menunjukan kepadanya bahwa aku sudah selesai membaca. Tapi kenyataannya, aku takkan kembali menemukan gadis itu. Akhirnya, sebagai pelampiasanku atas kekecewanku tidak bertemu dengan gadis itu, gadis yang sering menumpangi mikrolet, tanganku langsung memasukan novel itu ke dalam tasku dengan hati penuh sekam. Aku berjanji takkan membaca novel itu. Ternyata dongeng dan mimpi masih membelenggu di hatiku.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fiyan Arjun sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.