Tazakka : "Perjuangan itu artinya berkorban, berkorban itu artinya terkorban. Janganlah gentar untuk berjuang, demi agama dan bangsa. Inilah jalan kita."
Alamat Akun
http://srimulyani.kotasantri.com
Bergabung
11 Maret 2009 pukul 10:11 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Karyawati
alzrie98@yahoo.com
Tulisan Sri Lainnya
TakdirNya Mahacantik
20 November 2011 pukul 12:45 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 1 Januari 2012 pukul 17:00 WIB

Dia Arjunaku?

Penulis : Sri Mulyani

Masih teringat beberapa bulan yang lalu ketika pertama kali aku bergabung menjadi pengurus mushala kantorku. Aku sangat senang dan terkejut ketika melihat semangat juang teman-teman yang sudah lebih dulu bergabung. Tadinya di kantorku ini aku pikir gak banyak orang yang begitu peduli dengan dakwah. Ternyata aku salah, dan kebanyakan dari teman-teman ini adalah ikhwan yang dah mempunyai posisi bagus di perusahaannya masing-masing. Mereka begitu gigih memperjuangkan dakwah, termasuk pembangunan masjid di area perkantoran ini, karena pemiliknya orang non muslim dan banyak sekali alasan untuk bisa menyediakan tempat ibadah yang lebih layak untuk umat Islam.

Beberapa bulan berjalan, aku mulai beradaptasi dengan mereka, dan sungguh salut dengan ikhwan-ikhwan ini. Dengan kemampuan inteligensi yang tinggi, mereka ternyata sangat tawadhu, walau ilmu agama dan perjuangan dakwahnya patut dibanggakan. Di antara mereka ada satu orang yang ku anggap lain dari ihwan yang lain, kak Re, begitu aku biasa memanggilnya.

Kak Re pribadi yang menarik, dia orang yang pendiam, tapi sangat aktif dengan ide-idenya ketika sedang ada rapat pengurus, dia jarang bicara yang sia-sia, seorang aktivis dakwah di lingkungan rumahnya juga di mushala kantor ini. Dia seorang arsitek di salah satu kantor di area gedung tempatku bekerja.

Awalnya tak ada yang lain dari apa yang kulihat, tapi lama-lama aku menjadi sangat kagum dengan kepribadiannya yang sangat menarik. Menurutku, dia sangat bersemangat dalam dakwah, sederhana, sering tersenyum simpul, tanpa menggoda, dan selalu menundukkan pandangan. Dan satu lagi yang tak bisa di pungkiri, dia mempunyai penampilan fisik yang cukup menarik, sungguh suatu sosok yang istimewa di mataku.

Tadinya aku berfikir perasaanku adalah hal yang wajar, karena aku hanya mengaguminya, tapi lama-lama ada rasa hati untuk mengenalnya. Ketika ada rapat, aku berharap dia datang, ada gelisah, ada harap. Kusikapi semua ini dengan menyimpan rapat-rapat dalam hatiku, dan aku hanya menjerit padaNya tentang perasaan ini. Aku malu, aku takut kalau ternyata apa yang kulakukan tak lagi ikhlas. Aku telah berharap sesuatu. Duh Rabbi, maafkan aku...

Aku hanya bisa selalu bersimpuh di hadapanNya, berharap rasa ini hilang. Namun ternyata inilah ujianku, dan sayangnya imanku masih terlalu lemah, begitu sulit untuk menepis rasa itu. Sempat terlintas dalam hati untuk mengutarakan isi hati, namun aku hanya tertunduk malu menatap diriku, mana mungkin aku pantas punya rasa ini. Duh, apa kata kak Sarah temanku, yang juga kenal kak Re, pasti dia akan menertawakanku. Aku sunguh merasa jauh berbeda dengannya, kak Re bagaikan bulan yang tak mungkin kuraih. Akhirnya aku memutuskan tuk menyimpan perasaanku.

Lama-lama aku merasa tak nyaman lagi dengan perasaanku, aku mungkin tak ikhlas lagi dengan apa yang aku lakukan. Dan dengan keputusan yang berat aku memutuskan untuk keluar dari pengurus, dengan alasan kesibukanku. Walau sangat sedih berpisah dengan teman-teman perjuangan yang banyak memberikan manfaat ini, aku tetap mengambil langkahku. Aku ingin menghindari kak Re, aku ingin menepis rasa itu, dan aku ingin kembali dengan niat awalku. Aku pikir percuma apa yang kulakukan kalau Kak Re masih selalu jadi pertimbanganku.

Teman-teman sedikit kaget dengan keputusanku, dan baru kali itu aku mendengar kak Re bicara langsung padaku, "Maaf Ukhti, kenapa Ukhti memutuskan untuk keluar?" Duh, kata-kata itu sempat membuat sesak dadaku, aku sungguh senang dengan lingkungan ini, dan taukah kau bahwa kaulah penyebab semua ini, begitulah kata hatiku. "Gak apa-apa kak, ana lagi banyak kesibukan takut, ga bisa maksimal. Mungkin suatu saat, kalau masih diijinkan bisa gabung lagi," kataku sedikit terbata. "Ooo begitu. Ya sudah, mudah-mudahan istiqamah ya!

Itulah terakhir aku melihatnya, dan aku benar-benar ingin menghindarinya, aku sibukkan diriku dengan kegiatan organisasiku, dan lambat laun rasa itupun hilang saat aku tak lagi melihatnya.

***

Sudah setahun sejak wisudaku, keluargaku mulai menuntutku untuk segera menikah, mengingat umurku yang sudah cukup, dan lagi aku dah bekerja. Awalnya Keluargaku memberikan kesempatan padaku untuk memilih sendiri calonku. Setelah hampir satu tahun aku bergabung juga dengan sebuah majelis yang memperantarai menjemput jodoh dengan syar'i, aku belum juga mendapat pasangan yang cocok. Pernah beberapa kali ta'aruf, tapi selalu ada ketidakcocokan. Dan sampai tahun kedua, akhirnya keluargaku memberikan batas waktu.

"Jeng, pokoknya ibu kasih kamu batas waktu 3 bulan lagi yah! Kalau belum dapat juga, ibu atau kakak-kakakmu nanti yang memutuskan siapa nanti calonmu." ucap ibuku.
"Koq tiga bulan seh bu, ditambah dunk!" begitu rengekku.
"Gak tambah-tambah lagi. Nanti kamu masih cari-cari alasan sibuk inilah, sibuk itulah. Pokoknya keputusan ibu gak bisa di ganggu lagi. Tok.. tok.." Ibuku mengakhirinya dengan ketokan palu. Upst, kayak sidang MPR aja neh, tandanya keputusannya dah final.

Aku mulai gelisah, bukan aku gak mau dicarikan jodoh oleh keluargaku, masalahnya aku mencari seseorang yang mempunyai visi yang sama sepertiku. Sedangkan ibu sebelumnya pernah mengajukan calon karena kelebihan materinya, karena keluarganya, karena tampangnya. Waktu itu ibu masih memaklumiku yang menolaknya, tapi kali ini gak ada nilai tawar lagi. Aku dah berusaha melalui beberapa temen untuk membantuku dalam hal ini, tapi namanya juga jodoh kan gak bisa dikejar.

Akhirnya aku tersadar, duh kenapa aku harus bingung yah, aku kan percaya kalau jodoh itu di tanganNya. Bagaimana pun caranya, pasti akan di pertemukan, toh aku dah ikhtiar. Kalau mang akhirnya aku menikah dengan pilihan ibuku, yah itu dah takdirku. Kenapa aku harus mencari kesempurnaan, dan sok tau mana yang terbaik buatku, bukankah Dia yang lebih tau. Akhirnya aku pasrah menanti saat ibuku mengajukan pilihannya yang gak boleh ditolak lagi.

Dan sampai saat yang ditentukan, ternyata keputusan ibuku yang harus aku terima. Dan sungguh hal yang membuatku gak percaya, aku langsung dikhitbah tanpa aku tau siapa calon orang yang akan mendampingiku, tak ada lagi proses ta'aruf. Ketika aku protes, ibuku cuma bilang, "Percayalah, Jeng! Ibu hanya inginkan kebahagiaanmu, percayalah sama ibu!"

Akhirnya aku ga bisa berkutik lagi menunggu saat mendebarkan, saat melihat calon suamiku, aku bener-bener gak tau seperti apa wajahnya, seperti apa pemahaman agamanya, di mana rumahnya. "Duh, kenapa ibuku jadi diktator gini," keluhku dalam hati.

***

Hari yang mendebarkan itupun datang, aku hanya berdo'a, "Ya Rabb, siapapun orang yang Kau pilihkan untukku, aku hanya minta satu hal saja, dia harus orang yang mencintaiMu. Tolong ya Rabb." do'aku di sela-sela kegalauan hari itu.

Dan rombongan itupun datang. Dari balik kaca yang tak terlihat dari luar, aku mencoba melihat keluar saat rombongan itu masuk ke rumahku. Degg... Aku melihat kak Sarah di sana. Waduh, jangan-jangan calonku tetangga kak Sarah, atau masih teman. Tapi kenapa kak Sarah gak pernah cerita? Padahal aku masih sering ketemu. Dan beberapa jengkal di samping kak Sarah, Deggg… Aku liat wajah itu. Ya Rabb, kenapa aku melihatnya lagi? Kak Re, kenapa kak Re juga datang. Apakah temannya juga? Duh, aku gak sabar siapa sebenarnya calon suamiku. Dan kenapa Kak Re harus datang.

Akhirnya aku diberi kesempatan tuk melihat calon suamiku. Aku dipertemukan didampingi oleh keluargaku dan keluarga calon suamiku. Hatiku berdebar kencang saat keluar dari kamarku, aku tak berani mendongakkan kepalaku, aku benar-benar cemas, bahkan aku tak mau melihat kak Sarah yang ada di pojok ruangan itu. Sampai di tempat, aku masih menundukkan pandanganku, tak berani menatap. Sungguh, aku sangat tegang untuk menyaksikan seperti apa orang yang akan menjadi suamiku ini.

"Jeng, angkatlah wajahmu! Lihatlah calonmu, dia sudah ada di depanmu!" kata ibuku. Dengan menahan gemuruh di hatiku, kuberanikan diri mengangkat wajahku dan melihat. Deggg... bagaikan air salju mengalir di hatiku saat menatap wajah di depanku, rasanya aku tak percaya melihat siapa yang ada di hadapanku. "Kak Re," tak tertahan kata-kata itu keluar dari mulutku. Kak Re hanya tersenyum dan mengangguk menatapku. "Ya... Dialah calon suamimu, Jeng!" kata-kata ibuku membuatku mulai percaya bahwa aku tidak sedang bermimpi.

Kualihkan pandangan ke arah ibu dan kak Sarah. Semua hanya tersenyum menatapku. Tiba-tiba aku ingin sekali berterima kasih pada ibuku, ingin sekali aku memeluknya, ternyata justru beliau yang menjadi perantara Arjunaku ini. Ya Rabb, betapa indah rencanaMu...

Akhirnya tanggal pernikahanku pun ditentukan. Dan memang benar aku tak punya hak menolak. Tapi kali ini aku tak berontak, aku justru senang dengan aturan itu.

***

Selesai resepsi, aku menemui kak Sarah, bertanya tentang kejadian selama ini. Bagaimana kak Re bisa kenal keluargaku, kapan kak Re melamarku, dan semuanya ternyata kak Sarah lah yang mengatur skenarionya. Ternyata beliau tau semua rahasiaku, perasaanku, dan alasanku keluar dari pengurus mushala kantor. Diam-diam kak Sarah membicarakan ini dengan kak Re, dan ternyata kak Re menyambut dengan senang hati. Kemudian mereka mendatangi ibuku dan menceritakan semuanya, juga niatnya untuk melamarku, mereka sengaja merahasiakan semua ini untuk membuat surprise untukku.

Tak ada lagi resah ini, tak ada lagi kecewa karena pilihan ibu, dan semua rahasia yang selama ini mereka simpan. Aku hanya bisa bersujud syukur padaNya, atas nikmat yang tak terkira yang selalu tercurah untukku, melalui keluargaku, temanku, dan kini orang yang akan mendampingi hidupku. Terima kasih, ya Rabb. Kau pilihkan dia untuk menemani hidupku, semoga aku bisa menjadi pendamping yang diharapkannya, semoga aku bisa menemani perjuangan dakwahnya. Terima kasih ya, Rabb.

Seiring tetesan airmata bahagiaku, aku menatap wajah tulus dan bersahaja di hadapanku. Dia yang kini tlah menjadi suamiku, Kak Re. Ya, dialah Arjunaku...

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sri Mulyani sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Tulisan Favorit
Manisnya Persaudaraan
Ahad, pukul 09:00 WIB
Hotel Santika Premiere Beach Resort Bali - Santika Package
Eni Sumartini | Dosen Keperawatan
Alhamdulillah, tulisannya baik, semoga jadi amal shaleh yang tidak terputus. Amin.
KotaSantri.com © 2002 - 2013
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1604 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels