Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
Alamat Akun
http://tofan.kotasantri.com
Bergabung
13 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Tegal - Jawa Tengah
Pekerjaan
-
Tulisan Salman Lainnya
Pena Tak Tajam Lagi
9 Oktober 2011 pukul 11:45 WIB
Sognando Palestina
13 September 2010 pukul 21:25 WIB
Nyanyian Laut
23 Agustus 2010 pukul 20:31 WIB
Sejumlah Bait Rindu
30 Juli 2010 pukul 20:40 WIB
Anak Perempuanku Belum Pulang
28 Februari 2010 pukul 17:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 27 November 2011 pukul 10:30 WIB

Aku Akan Menikah

Penulis : Salman Rafan Ghazi

“Aku akan menikah!”

“Kalian dengar, kan? Aku akan menikah. Me-ni-kah!” aku mengulang lagi kalimat itu di depan sahabat-sahabatku. Lalu bersorak girang. Meloncat –walau tidak tinggi karena badanku yang sedikit gendut.

“Ya, kami ikut senang. Selamat ya,” kata salah satu sahabatku sambil memelukku.

“Wah, aku nggak nyangka kalau kamu yang akan menikah duluan,” timpal sahabatku yang lain. Tertawa. Yang lain juga ikut tertawa.

“Ah, sialan kamu,” balasku. Kulempar bantal di dekatku ke arahnya.

Sebenarnya aku juga tidak pernah membayangkan kalau aku akan menikah secepat ini. Tiba-tiba saja. Ya, semuanya serba tiba-tiba. Pertemuan kami yang tidak disengaja. Berlanjut menjadi perkenalan. Bertukar nomer hape. Saling mengirimkan SMS dan dia yang lebih banyak menghubungiku. Lalu dia yang entah karena apa ingin hubungan kami menjadi lebih serius: sebuah pernikahan.

“Aku ingin menikah dengan kamu. Bagaimana?” tanyanya suatu hari ketika kami bertemu dalam sebuah makan siang.

Aku terkejut. Bahagia sebenarnya, namun aku tidak bisa menjawab apa-apa. Untuk urusan seperti ini ayahku yang harus memutuskan terlebih dulu. Aku sudah berjanji, jika ada seorang pria yang mengajakku menikah, dia harus melalui prosedur ayah dulu. Maksudku, dia harus berhadapan dulu dengan ayahku. Beliau yang akan menilainya. Apakah pria tersebut cocok untukku dan bisa menjamin masa depanku nanti atau tidak.

Hening. Semuanya mendadak senyap. Pelayan yang sedang berjalan membawa nampan. Pria muda di sebelah kanan meja kami yang sedang meneguk minuman. Alunan musik jazz. Semua berhenti. Seperti ada yang menghentikan waktu di restoran tempat kami makan.

Aku benar-benar –ah, aku tidak tahu bagaimana harus mengungkapkan apa yang kurasakan saat itu. Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Aku masih diam. Mulutku mengatup rapat. Hingga pada menit kesepuluh –sepertinya– terlontarlah kalimat dari mulutku.

“Aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Kamu harus bicara dengan ayahku dulu. Keputusanku adalah keputusan beliau.”

Dia tersenyum dan mengangguk. Setelah itu, hampir tidak ada pembicaraan di antara kami. Entahlah.

Selama seminggu setelah makan siang itu, aku tidak melakukan komunikasi sama sekali dengannya. Sebenarnya setiap hari dia mengirimkan SMS, tapi tidak kuhiraukan. Betapa bodohnya aku. Kenapa tidak aku balas saja? Jelas-jelas dia tidak salah. Tapi kenapa dia belum datang juga ke rumah bertemu dengan ayah. Jangan bilang kalau dia hanya mengerjaiku saja. Aku akan marah besar. Awas saja kalau berani!

Handphone-ku bergetar. Ada SMS masuk. Dari dia.

Salam. Km masih marah ya? Oya, lusa ak ke rumahmu. Bertemu ayahmu. Tlg sampaikan kpd beliau.

***

Hingga lusa yang ditunggu itu akhirnya tiba. Hari yang menentukan masa depanku.

Pukul setengah sepuluh pagi. Suara motor menderum di halaman rumah. Itu pasti dia. Aku membukakan pintu. Menyuruhnya masuk dan menyilahkan duduk.

“Ayah sedang mandi.”

Lalu aku meminta dia menunggu ayah sebentar.

Lima belas menit kemudian ayah menemuinya di ruang tamu. Sementara aku membuatkan minuman. Entah apa yang sedang mereka bicarakan kala aku berada di dapur. Samar-samar aku mendengar kata “serius”, “meminang”, dan “sungguh” yang timbul tenggelam dalam percakapan mereka.

Saat aku mengantarkan minuman untuk mereka, ayah menyuruhku duduk, “Duduklah sini.” Sempat kulihat dia tersenyum. Ayah juga tersenyum.

Lalu ayah menanyakan kesediaanku menikah dengannya. “Kami sudah berbicara tadi. Dia serius ingin menikah denganmu. Dan ayah rasa dia cocok untukmu. Ayah juga yakin dia bisa menjamin masa depanmu. Sekarang semua tergantung jawabanmu.”

Aku meliriknya sekejap. Secepat itukah prosedur ayah? Pikirku tak percaya.

Seperti yang kubilang sebelumnya, aku sangat mempercayai dan menghormati ayah. Jika beliau sudah mengatakan dia cocok untukku dan bisa menjamin masa depanku, berarti dia memang pantas untukku.

Aku meliriknya lagi. Kali ini untuk memastikan –terakhir kali– apakah dia memang serius denganku.

“Baiklah. Berarti tinggal kita atur saja tanggal pernikahan kalian.”

***

Setelah proses perjanjian yang berat nan sakral itu berakhir, aku bertanya kepadanya apa yang dibicarakannya dulu dengan ayahku. Apa yang membuat ayah –yang begitu ketat menyeleksi setiap pria yang datang ke rumah untuk melamar anak-anaknya– dengan serta merta menerimanya.

Sebelum pernikahanku, ayahku telah menolak lima pria yang datang ke rumah untuk melamar kakak perempuanku dulu. Dan pada pria yang keenam barulah ayah menentukan pilihan untuk kakakku. Itupun tidak secepat sekarang. Iparku harus berkali-kali meyakinkan ayah.

Makanya aku tidak begitu saja menyuruh teman-teman priaku datang ke rumah dan bertemu ayah sebelum kuseleksi terlebih dulu. Sebelum aku benar-benar yakin mana yang serius dan tidak. Dan dia adalah orang –beruntung– yang pertama dan terakhir melalui prosedur ayah.

Bukankah seharusnya aku bersyukur dengan proses yang cepat ini? Ya, aku memang bersyukur. Sangat. Tapi tetap saja aku masih tidak percaya dengan semua ini. Tepatnya aku penasaran dengan semua ini. Semudah itukah?

“Kau benar-benar ingin tahu apa yang dulu kami bicarakan ya?” dia mengejapkan matanya. Menggodaku.

“Tentu saja aku ingin. Kau tahu sendiri bagaimana kisah iparku dulu,” aku mencubit lengannya. Pura-pura marah.

“Sebentar,” katanya. Dia lalu berganti baju.

Aku juga ikut mengganti gaunku. Gerah sekali.

“Aku hanya bilang kepada ayah bahwa aku akan mencintaimu dengan sungguh dan dengan sebenarnya. Bahwa aku akan mencintaimu sebagai seseorang. Bukan sebagai partner, istri, ataupun ibu dari anak-anak kita nanti.”

“Ha?” aku melongo. Tidak tahu apa yang dimaksud olehnya.

Seakan mengerti ketidaktahuanku, dia melanjutkan kalimatnya, “Ya, sebagai seseorang. Jadi aku akan lebih menghargai kamu. Kita akan menghargai perbedaan yang ada di antara kita.” Dia mencubit pipiku. Gemas.

“Jika sebagai istri, maka aku takut suatu saat aku akan bersikap dzalim terhadapmu, meski kita sudah tahu hak dan kewajiban masing-masing.”

“Ah, iya, aku juga bilang pada ayah. Jika ada keburukan-keburukan yang tampak pada dirimu, aku akan sangat bahagia, itu berarti yang belum tampak adalah kebaikan-kebaikan yang ada pada dirimu *. Ayo kita tidur.”

Aku mengangguk dan tersenyum.

Aku sungguh tak menyangka dia bisa berfilosofi seperti itu di depan ayah.

Hari ini benar-benar melelahkan tapi aku bahagia.

Dan aku terlelap dalam pelukannya. Nyaman sekali. Antara sadar dan tidak, aku merasakan sebuah kecupan hangat di keningku.

*) Afifah Afra. Nikah itu Tak Mudah. 2007
**) Untuk saudari dan sahabatku, Sarah Putri Azisty, kado pernikahan untuknya.

Suka
Nurfitri Rahmawati, Nurliyanti, ida nurlaila, dan Widya menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Salman Rafan Ghazi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Angga Ciptadi | Karyawan
Sering-sering maen ke web ini, biar terus dapat insiprasi + motivasi dalam menjalani hari. Mudah-mudahan berkah.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1009 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels