|
Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
|
|
|
alzrie98@yahoo.com |




Ahad, 20 November 2011 pukul 12:45 WIB
Penulis : Sri Mulyani
Ada seorang gadis korban broken-home, saat itu dia baru lulus SD dan orang tuanya cerai. Si gadis kecil terpaksa ikut sang kakak, karena ayah dan ibunya menikah lagi. Si gadis kecil yang belum tahu banyak tentang kehidupan hanya cuek menyikapi apa yang terjadi pada diri dan keluarganya.
Terkadang dia (panggil saja namanya Zie) merasa sedih, ketika tak ada seseorang yang mau bilang, "Aku masak untuk Zie." atau "Aku akan belikan baju yang bagus cuma untuk Zie." Semua yang dia terima hanya apa yang seharusnya dia terima tanpa suatu keistimewaaan bahwa Zie adalah seorang anak bungsu, anak yang beranjak remaja yang sangat butuh perhatian.
Zie tinggal bersama kakak kandungnya, tapi kakak Zie sangat pemarah. Bila Zie berbuat kesalahan maka segala macam kata-kata akan terlontar. Zie sedih tapi hanya menyimpannya dalam hati. Zie hanya memahami kalau itulah hidupnya, hari-harinya. Tapi lambat laun Zie kecil tumbuh menjadi gadis remaja, sebentar lagi Zie lulus SMP. Saat itu mulai tumbuh protes di hati Zie. "Kenapa hidup Zie begini?" bisiknya lirih.
Ketika kakaknya marah padanya, Zie sempat ingin kabur. Tapi Zie begitu sayang dengan keponakannya, hingga membuat Zie harus bertahan di rumah kakaknya. Zie gadis yang cukup cerdas, dia selalu dapat rangking, bahkan penah mendapat juara umum. Tapi tidak ada yang memahami kepribadian Zie yang pendiam. Zie hanya memprotes dirinya sendiri. Zie sering menangis dalam kesendiriannya.
***
Sekarang Zie sudah SMA. Ketika itu pakdenya Zie menawarkan akan membiayai Zie sampai kuliah, akhirnya Zie pindah dari rumah kakak ke rumah pakdenya. Sebelumnya sempat ada tetangga yang mau ambil Zie sebagai anak angkat, namun Zie gak kerasan. Di rumah pakdenya, Zie merasa cukup kerasan, karena budenya memperlakukan Zie cukup baik.
Zie anak yang rajin. Sebelum berangkat sekolah, Zie selalu mencuci piring dan mencuci baju walau budenya sering bilang kalau cucian Zie gak bersih, Zie hanya diam. Zie pun sering bangun tengah malam untuk memasak mie untuk sang pakde yang suka nge-bridge. Sepulang sekolah, Zie harus menimba air memenuhi satu drum dan menyiram bunga.
Zie gak pernah ngeluh. Namun Zie yang pendiam kadang membuat orang mengira kalo Zie bekerja sambil marah. Hingga suatu hari pakdenya bilang padanya, "Zie, kalau kerja tuh jangan sambil marah ya!" Zie hanya mengangguk.
Suatu hari Zie pergi menimba air di sumur tetangga karena sumurnya kering. Sang empunya bilang, "Zie, kemarin budemu bilang sama aku, Zie suka tidur siang ya?" Zie hanya mengangguk. "Aku heran, Zie. Kok budemu mau ya nampung kamu, khan lebih enak cari pembantu?" Zie sangat sedih, namun tak tahu kemana harus mengadu. Zie hanya menangis. Dan Zie tak pernah cerita pada siapapun tentang perasaannya. Zie seorang gadis yang tabah.
Tiba suatu saat Zie harus meninggalkan bangku SMA, Zie belum tahu akan kemana. Zie juga gak berani menagih janji pakdenya. Zie punya mimpi, Zie harus kuliah. Ternyata Allah memberi jalan. Zie dapat kabar dari ibunya yang selama ini gak pernah memberi kabar, saat ini ibunya di Jakarta dan minta Zie untuk ke jakarta. Zie bimbang meninggalkan sang ayah walaupun Zie tidak bersama ayah dan ibu tirinya, tapi Zie sayang ayah. Namun akhirnya Zie memutuskan untuk ke jakarta, dengan mimpi bisa kuliah.
Sesampai di Jakarta, Zie harus menghadapi masalah baru. Ayah tirinya, entah kenapa Zie begitu benci pada ayah tirinya. Jiwa Zie memberontak, Zie gak bisa terima kenyataan. Tapi zie pun ga bisa memprotes ibunya, Zie sangat menyayangi ibunya. Jadi Zie pun harus mengalah, mengesampingkan perasaannya, walau Zie sering menangis. Akhirnya Zie harus bekerja sebelum kuliah, karena ibunya menyarankan untuk kerja dulu. Zie dapat kerja di sebuah perusahaan garment.
Zie tak pernah bisa melupakan mimpinya untuk bisa kuliah, hingga dia terus menabung. Suatu saat kabar yang sangat menyedihkan datang, ayah Zie berpulang ke hadiratNya, tanpa zie berada di sampingnya. Zie begitu terpukul, kehilangan semangat hidup. Zie merasa hidupnya tak berguna lagi, berbulan-bulan Zie larut dalam keterpurukan.
Namun Zie yang tegar kembali bangkit, dia harus membuktikan pada ayahnya kalau dia bisa mewujudkan mimpinya. Akhirnya permintaan Zie untuk bisa kuliah dikabulkan oleh ibunya, walau dengan syarat Zie harus cari biaya sendiri. Zie cukup senang dan yakin kalo Zie bisa kuliah.
Ternyata semuanya gak semudah yang Zie kira. Zie gak dapat ijin dari perusahaan tempatnya bekerja dan zie harus keluar, artinya Zie harus nganggur. Bagaimana biaya kuliahnya? Untuk beberapa bulan Zie hanya menggantungkan ongkos sehari-harinya pada ibunya, karena Zie cuma seorang penjaga wartel dengan penghasilan 200 ribu rupiah sebulan. Zie juga ingat komitmennya untuk membiayai kuliahnya sendiri, Zie terus berusaha dan Alalh selalu memberinya jalan.
***
Sekarang Zie adalah mahasiswa tingkat akhir di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta, Zie juga seorang karyawati di sebuah perusahaan cukup ternama. Usaha zie mulai menuai hasil. Tapi keberhasilan yang sangat disyukuri Zie adalah penemuan dirinya atas identitasnya. Dulu Zie gak tahu apa itu Islam. Dulu Zie gak tahu harus mengadu kemana ketika sedih, karena zie gak begitu kenal dengan Tuhannya.
Kini Zie merupakan seorang muslimah yang taat juga seorang aktifis dakwah. Zie yakin bahwa inilah anugerah terindah dalam hidupnya, bukan keberhasilannya di bangku kuliah, tapi perjalanan yang begitu panjang dan berliku yang telah membawanya ke identitas sejatinya, menemukan kekasih sejatinya. Zie tidak pernah sedih lagi karena Zie tahu kemana harus mengadu. Zie tahu, Dia selalu bersama Zie, Dia selalu menyayangi zie.
Zie juga tak pernah lagi menyesali penderitaannya, keluarganya, dan apa yang pernah terjadi dalam hidupnya, karena Zie yakin itulah caraNya untuk merengkuhnya. Itulah kasih sayingNya untuk membuatnya tegar dan kuat. Zie yakin takdirNya Mahacantik. Kini Zie hidup bahagia, karena dengan penderitaannya Zie telah menemukan kekasih sejatinya. Dia-lah yang Mahaindah rencanaNya.
***
Pesan : Terkadang kita baru menyadari hikmah dari suatu kejadian setelah kita mengetahui ujung nya. Percayalah, bahwa takdirNya adalah yang terbaik untuk kita. Jangan pernah mengeluh dengan ujian-ujian yang diberikanNya.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sri Mulyani sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.