QS. Al-Hujuraat : 13 : "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Alamat Akun
http://ao_zora.kotasantri.com
Bergabung
24 Juni 2009 pukul 00:55 WIB
Domisili
Pekanbaru - Riau
Pekerjaan
Student and Author
...a cocoon becomes a beautiful butterfly. just like the butterfly's metamorphosis, i wanna become the extraordinary girl not just ordinary girl anymore..
aozora_hime@yahoo.com
yuki_sakamoto@rocketmail.com
aozora_hime@hotmail.com
Tulisan Aozora_hime Lainnya
Ujian dan Kematian
4 Juli 2010 pukul 17:10 WIB
Islamic New Year, New Schedule
21 Desember 2009 pukul 16:09 WIB
Aku Orang yang Beruntung
22 Agustus 2009 pukul 16:00 WIB
Say I don't Know, Why Not?!
15 Agustus 2009 pukul 20:00 WIB
The Real Happiness
26 Juli 2009 pukul 15:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 13 Februari 2011 pukul 11:00 WIB

United 93

Penulis : aozora_hime

11 September 2001, United 93 Airlines

“Ini sarapan pagi pesanan Anda. Selamat menikmati.” Seorang pramugari menyerahkan sebuah baki yang berisi makanan pagi yang aku pesan. Dua buah roti, semangkuk bubur dan segelas jus jeruk. Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepadanya. Perutku sudah mulai keroncongan sedari tadi. Hanya sepuluh menit aku membutuhkan waktu untuk menghabiskan semua makanan ini. Pagi ini aku akan pergi ke kota San Fransisco. Mengunjungi orang tua dan kedua adikku. Karena selama dua minggu ini libur, aku mempunyai kesempatan untuk mengunjungi mereka. Tahun lalu, aku tidak ada waktu untuk pulang karena sibuk dengan tugas-tugas kuliahku yang menumpuk.

Aku melihat seorang laki-laki berwajah Arab memakai kaca mata hanya diam duduk sendirian seperti patung. Ia menolak makanan yang ditawarkan oleh pramugari. Mungkin dia sedang berpuasa atau memang tidak ingin makan. Entahlah, aku sama sekali tidak mau memikirkannya. Tapi, aku penasaran dengan orang ini. Dia hanya duduk sendirian di bagian tempat duduk paling depan. Sedangkan jarakku dengan dia hanya berjarak dua bangku. Diseberang tempat dudukku ini ada dua orang yang juga berwajah Arab, mungkin mereka berdua adalah temannya. Karena sebelum pesawat ini akan take-off, aku melihat mereka bertiga sempat berbicara sebentar.

Aku membuka buku kedokteranku dan mulai membaca. Aku akan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya untuk belajar. Ayah dan Ibu sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk membiayai kuliahku di Universitas Harvard. Sebuah universitas swasta yang menjadi incaran orang-orang di seluruh dunia untuk memasukinya. Para penumpang masih sibuk dengan makanan mereka. Denting piring dan sendok bersahutan-sahutan mencoba melawan suara bising mesin pesawat ini. Aku melihat sekilas seorang pramugari membawa makanan untuk pilot dan co-pilotnya di ruangan kokpit.

Tiba-tiba konsentrasiku pecah karena adanya suara-suara bisikan yang cukup mengangguku. Suara ini berasal dari arah seberang tempat dudukku yaitu dua orang Arab tadi yang merupakan teman si laki-laki kacamata. Aku tidak bisa menangkap perkataan mereka dengan jelas karena mereka berbicara dengan bahasa Arab yang sangat cepat. Terdengar sangat serius dan rahasia. Aku mengalihkan kebisingan di dalam pesawat ini untuk mendengarkan musik melalui ipod. Aku tidak bisa belajar jika ada suara-suara yang menganggu di sekitarku.

Sepuluh menit berlalu, mataku mulai mengantuk membaca deretan-deretan kalimat yang tampak seperti bayang-bayang tidak jelas di depan mataku. Tanpa ragu lagi, aku pergi ke toilet dan mencuci muka. Wajahku kembali segar. Ketika aku kembali ke tempat duduk, tanpa sengaja aku berpapasan dengan salah satu laki-laki Arab yang duduk di seberangku. Wajahnya terlihat tegas dan tidak ada senyuman. Tiba-tiba, wajahnya mengingatkanku dengan seorang aktor India, Sharukh Khan. Aku sedikit takut melihatnya. Laki-laki itu juga ke toilet. Aku mulai membaca bukuku lagi.

“Tetap di tempat duduk kalian. Dan jangan ribut!” Laki-laki Arab yang masuk ke toilet tadi segera berteriak kepada seluruh penumpang pesawat. Aku sedikit terkejut. Beberapa penumpang berteriak ketakutan melihat di pinggang laki-laki itu ada sebuah bom. Di tangan kanannya ada sebuah pemicu. Jika pemicu itu dilepas maka dalam beberapa detik pesawat dan seluruh penumpangnya akan tewas seketika. Aku tidak menyangka laki-laki itu adalah seorang teroris. Jika dugaanku benar mungkin kedua temannya juga sama dengan dia.

Dugaanku tidak meleset. Karena setelah si Sharukh Khan berteriak, teman yang duduk sebangku dengannya--seorang lelaki berkepala botak--berdiri dan segera menyuruh semua penumpang untuk diam. Kemudian, laki-laki botak itu berkata pada temannya yang duduk sendirian di bangku depan. Aku melihat dia menyuruh laki-laki berkaca mata untuk segera bertindak sesuai yang telah mereka rencanakan. Laki-laki berkacamata segera mengangguk.

Aku tidak bisa berkonsentrasi untuk membaca lagi. Disaat ini, aku hanya bisa duduk tenang dan diam seperti patung dan menunggu kejadian apa yang akan selanjutnya terjadi. Apakah aku akan selamat sampai di tempat tujuan atau malah sebaliknya? Mataku tidak bisa lepas dari bom di tubuh Sharukh Khan. Aku tidak yakin bom itu adalah bom asli. Karena pasti sudah ketahuan saat pengecekan tas di bandara. Pikiranku mulai berpikir macam-macam. Apakah aku akan mati di dalam pesawat ini bersama penumpang lainnya? Aku menoleh ke belakang. Aku bisa melihat para penumpang menunjukkan wajah cemas dan tidak sedikit ada yang menangis ketakutan. Beberapa orang penumpang mencoba menelepon keluarga mereka melalui pesawat telepon yang terletak di bagian belakang tempat duduk. Sedangkan para pramugari sibuk berbicara satu sama lain di bagian ruangan pramugari yang terletak di bagian belakang.

Aku melihat lagi ketiga orang teroris yang tampak sibuk berdiskusi. Kemudian, Si botak mengetuk pintu ruangan kokpit. Seorang co-pilot keluar dari ruangan, dan dalam sekejap mata aku melihat sang co-pilot sudah terkapar tak sadarkan diri. Si botak menusuk perut co-pilot dengan sebuah pisau. Dan si laki-laki berkaca mata masuk ke dalam ruangan kokpit. Ada suara-suara ribut di dalam ruangan tersebut, mungkin dia melakukan hal yang sama seperti yang terjadi pada co-pilot. Melihat keadaan itu, tanganku gemetar saat menekan tombol-tombol di telepon yang akan menghubungkanku dengan telepon rumah keluargaku. Aku ingin menceritakan apa yang sedang terjadi di dalam pesawat kepada ayah. Dengan begitu, ayah segera menghubungi 911.

“Halo, ini rumah keluarga Smith,” sebuah suara terdengar di seberang. Ini pasti suara ayah. Aku mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Aku berusaha untuk tidak terlihat gugup dan cemas.

“Ayah, ini aku. Alan,” jawabku dengan suara pelan. Aku berusaha bersembunyi agar Sharukh Khan tidak melihatku sedang menelepon.

“Alan?! Kau sudah sampai di San Fransisco?” tanyanya dengan penuh semangat. Mendengar ini aku terharu. Seluruh keluarga pasti sangat rindu padaku. Dua tahun aku tidak bisa pulang ke rumah. Terlebih lagi ayah yang selalu mendesakku untuk pulang.

“Ayah, tolong dengarkan baik-baik. Saat ini aku masih di dalam pesawat. Sekarang pesawat sedang dibajak oleh tiga orang teroris. Pilot dan co-pilot telah mereka bunuh. Salah satu dari mereka membawa bom. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Setelah ini Ayah harus segera menghubungi 911 dan katakan semua informasi yang aku jelaskan ini.”

“Oh, Rabbi! Baiklah, aku akan menghubungi 911. Tolong beritahu nama pesawat dan tujuan penerbangannya.”

Setelah memberitahu itu, aku mengambil napas dalam-dalam. “Ayah, jika aku tidak sempat bertemu kalian nanti, aku mohon maaf atas semua perbuatan yang kulakukan pada kalian. Dan bilang pada Ibu aku sangat menyanyanginya. Ayah, aku menyayangimu.” Tanpa terasa air mataku mengalir di pipi ini. Aku mendengar ayah juga menangis. Dia sangat sedih tidak bisa melihat anaknya menjadi seorang dokter sesuai yang ia inginkan. Untuk mewujudkan cita-citaku, ayah terpaksa menjual sebuah rumah dan tanah milik kakek. Ayah dan ibu ingin melihatku menjadi seorang yang sukses dan jangan sampai menjadi orang miskin seperti mereka berdua. Perjuangan dan pengorbanan mereka selama ini sangat besar untukku.

“Ayah, maafkan aku! Selamat tinggal.” Aku menutup telepon dan mengusap air mataku. Aku berdoa dalam hati. Dan hanya bisa menunggu dan bersiap jika memang ajal akan menjemputku beberapa menit lagi. Teriakan cemas dan suara tangis terdengar dari arah bagian belakang. Mereka pasti sangat sedih memberitahu kepada keluarga mereka bahwa waktu yang mereka miliki tinggal sedikit. Dan mereka sedih tidak bisa menjumpai orang yang mereka sayangi.

Tiba-tiba seorang penumpang lelaki yang duduk di depanku menoleh ke belakang. Ia melambaikan tangannya, menyuruhku untuk mendekat padanya.

“Tolong informasi ini diberikan pada orang yang duduk dibelakangmu,” perintahnya. Aku mengangguk. Mungkin informasi ini ada hubungannya dengan kejadian yang terjadi di dalam pesawat.

“Dua buah peswat telah menabrak gedung World Trade Center di New York. Lalu, ada lagi sebuah ledakan di Pentagon yang diperkirakan juga karena sebuah pesawat. Tiga pesawat tersebut juga dibajak oleh para teroris. Mungkin pesawat ini ada hubungannya dengan tiga pesawat itu.”

Aku menganggukkan kepala dan melakukan perintah si laki-laki tadi, menyampaikan pesan tersebut kepada seseorang yang duduk di belakangku. Berita ini akan disampaikan secara berantai dan akan sampai pada para pramugari. Mungkin, seorang pramugari akan menelepon pihak penerbangan. Jantungku berdegup kencang, tanganku gemetar dan aku merasa tubuh dan dahiku mulai berkeringat sehabis mendengar berita yang sangat mendadak tersebut. Rabb, aku serahkan semua keadaan ini pada-Mu. Karena Kau Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Ampunilah dosa-dosa hamba-Mu selama ini.

Dua orang teroris yang memasuki bagian kokpit tidak kembali lagi. Hanya si Sharukh Khan yang masih bersiap siaga dengan bom dan pemicu di tangan kanannya. Mungkin dia hanya menunggu perintah kapan bom tersebut akan diledakkan. Seorang pramugari berjalan ke depan dan berusaha berbicara baik-baik dengan Sharukh Khan yang menanggapinya dengan bentakan dalam bahasa Arab.

“Saya hanya ingin melihat keadaan sang co-pilot. Tolong, izinkan saya,” ucap pramugari dengan nada sedikit bergetar.

“Yallah! Yallah!1” jawab Sharukh Khan dengan nada membentak.

Aku melihat sang pramugari membalikkan tubuh co-pilot yang masih sadarkan diri. Perut yang terkena pisau itu mengeluarkan banyak darah. Jika tidak segera ditolong, ia bisa meninggal karena kehabisan darah. Pramugari itu segera meminta tolong pada penumpang siapa diantara kami seorang dokter. Tanpa pikir panjang lagi aku segera berdiri dan membantu pramugari untuk menghentikan pendarahan di tubuh co-pilot. Walaupun, aku bukan seorang dokter tapi lebih tepatnya mahasiswa kedokteran yang tahu bagaimana cara menangani luka tersebut.

“Nyonya, apakah pihak penerbangan telah diberitahu tentang keadaan pesawat yang sedang dibajak?” tanyaku dengan suara pelan agar si Sharukh Khan tidak menangkap maksud pembicaraan kami.
“Sudah. Tapi, kita hanya bisa menunggu apa yang akan dilakukan oleh mereka.”

Menunggu bantuan sekaligus ajal yang akan menjemput kami semua. Aku segera membalut luka tusukan ini agar darah tidak banyak yang keluar. Dari bagian belakang pesawat aku mendengar ada suara-suara ribut. Sharukh Khan agak sedikit terganggu. Ia segera berjalan ke belakang pesawat untuk menenangkan para penumpang yang ribut. Saat aku kembali ke tempat dudukku, seorang penumpang memukul kepala si Sharukh Khan dengan sebuah tabung gas pemadam api. Penumpang lainnya segera menghajar dia sampai babak belur. Bom itu memang palsu. Buktinya si Sharukh Khan sudak tak sadarkan diri.

Pintu kokpit terbuka. Laki-laki botak sedikit heran dengan suara-suara keributan di bagian belakang pesawat. Beberapa penumpang laki-laki yang menghajar habis Sharukh Khan lalu berlari dan menyerang si botak. Perkelahian pun tidak dapat dielakkan. Aku hanya bisa menonton, tidak ingin ikut-ikutan. Si botak pun lumpuh. Mereka segera memasuki ruangan kokpit. Terdengar suara-suara keributan. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Yang kurasakan adalah pesawat oleng ke kanan dan menukik ke bawah. Teriakan dan tangisan kembali terdengar menghiasi keadaan pesawat yang semakin tidak terkendali keadaannya.

Aku merasakan tubuhku sebentar lagi akan jatuh dari ketinggian lebih dari seribu kaki dan tubuh ini akan meledak menjadi keping-kepingan yang tidak bisa disatukan lagi. Aku memejamkan mataku dan terus mengagungkan asma-Nya di dalam hati. Pesawat semakin lama semakin meluncur ke bawah. Teriakan dan tangisan semakin keras terdengar. Tidak sampai beberapa menit lagi pesawat ini akan jatuh dan meledak. Takdir sudah ditetapkan, tidak ada satupun yang mampu mengubah atau melawan takdir-Nya.

***

Dari empat pesawat yang dibajak dihari itu, United 93 tidak sampai target yaitu gedung White House. Pesawat itu jatuh dekat Shanksville, Pennsylvania pukul 10.03. Tak ada yang selamat.

***

Pekanbaru, 15 Januari 2009

Glosarium
1. Yallah! Yallah! : Cepat! Cepat!

Suka
Nurfitri Rahmawati dan yantie menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan aozora_hime sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Nurudin | Swasta
Sekilas KSC memiliki apa yang dimiliki facebook yang membuat banyak orang 'kecanduan'. Tapi bila dicermati, facebook tidak memiliki apa yang dimiliki KSC. Maaf facebook, tak lama lagi aku akan meninggalkanmu, aku mendapatkan apa yang tak aku dapatkan darimu.
KotaSantri.com © 2002 - 2020
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0531 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels