Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
Alamat Akun
http://nafiadina.kotasantri.com
Bergabung
30 September 2010 pukul 03:38 WIB
Domisili
Jakarta Pusat - DKI Jakarta
Pekerjaan
Sahaya Alloh
Seorang muslimah yang mencintai Allah Azza wa Jalla sebagai Tuhannya,Rasulullah sebagai suri tauladannya,ayah-bunda sebagai permata jiwanya,saudara-saudari sebagai mutiara hatinya,sahabat-sahabat sebagai pelangi kehidupannya,dan saudara/saudari di jalan ALLOH sebagai kekuatan dakwah dijalanNYA..
http://nafiadina.multiply.com
fitrianinaa@yahoo.co.id
http://facebook.com/nafiadina
Tulisan Nina Lainnya
Karena CINTA Lahirkan TAQWA
7 Desember 2010 pukul 18:00 WIB
Di Atas Menara Cahaya, Menjemput Cinta
23 November 2010 pukul 04:30 WIB
La Tahzan, Duhai Jiwa
16 November 2010 pukul 17:45 WIB
Syukur dan Malu Jiwaku
28 Oktober 2010 pukul 18:40 WIB
Katakanlah : Cukup Bagiku Allah
26 Oktober 2010 pukul 18:55 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 26 Desember 2010 pukul 17:50 WIB

Setia pada Satu Nama

Penulis : nina fitria

"Menangislah Ukhti, jikalah dengan sapuan airmata itu dapat membuat hatimu lebih lapang dari himpitan lara yang membenam hati."

Khansa memandang lurus menyusuri paras sahabat di hadapannya, "Wanita Mentari" itu kini sedang meredup, sesosok wanita yang amat disayanginya, yang dikenalnya sebagai pribadi yang anggun dan menawan dengan keteguhan hati memanggul risalah dakwah, yang tak pernah kehilangan seulas senyuman, meski sekelilingnya kehilangan alasan untuk tersenyum, wajahnya senantiasa bercahaya, memancar energi kasih dan semangat yang rasanya tak pernah surut dari keseharianya, ia wanita pemalu yang teguh menjaga rasa malu, yang sangat ramah dengan saudari-saudarinya, dan terjaga dari interaksi yang tidak diperlukan dengan yang bukanlah mahramnya.

Namun, Mentari itu kini tersudut dalam lara, wajahnya tertunduk dalam, khansa dapat menangkap kesedihan yang menghinggap di kantung kantung jiwa wanita yang sudah bagaikan saudara nya ini, ketegarannya sungguh sedang di uji,

" Semoga Alloh Menguatkanmu saudariku, bersabarlah....", khansa tak lepas bermunajat untuk saudarinya dalam bisik hatinya..

Athifa, sahabatnya itu kini tampak mengengam erat mushaf kecil di tangannya, jemarinya bergetar, khansa dapat menangkap kegetiran Athifa, hatinya tak tahan pula melihat kesedihan yang mendera saudarinya, 
 
perlahan Athifa mengangkat wajahnya yang sejak beberapa waktu lamanya , tertunduk dalam, ia menatap khansa, sebuah senyuman sederhana tampak menghias wajahnya yang terlihat sangat letih dalam guratan kepiluan, Subhanalloh senyuman itu tetap terhias di wajah nya yang begitu menawan....
 
" Sejak awal, aku menetapkan hatiku untuk setia pada satu nama, yang ALLOH telah torehkan di lauhul mahfudz nya, untukku di sisi-NYA, saudariku sayang....."

"dan aku ingin tetap setia..", Athifa terbata, suaranya tertahan....

Di luar hujan turun dengan sangat derasnya, sesekali gemuruh bersahutan membuat gentar tiap hati yang mendengarnya, bahkan angin pun kencang bersuara , udara semakin dingin menusuk pori-pori, seakan cuaca menggambarkan kondisi jiwa athifa kini, seperti deras rinai yang kini membasahi hatinya.....

Athifa terhenti dalam ujarnya, menghela nafas yang tampak amat berat, bola-bola mata nya nan jeli , kini tampak sayu dan mulai membendung genangan yang jelas membayang di pelupuk mata.....

Khansa mendekati Athifa, meletakkan telapak tangannya di kedua belah pipi saudarinya, lembut membelai nya,
 
" Athifa saudariku yang tegar jiwanya, jangan berhenti menguntai kesabaran itu dalam hati mu ya sayang, Alloh sungguh memiliki rencana terindah di dalam setiap catatan Takdir-NYA, semoga Alloh memberi limpahan kebaikan padamu, bersama kesulitan ada kemudahan sayang..", begitu saja kata-kata itu meluncur dari lisan khansa, menyuarakan hatinya yang terenyuh dalam nuansa pilu saudarinya....
 
Tiba-tiba saja Airmata itu tertumpah, menderas, seakan tersimpan begitu lamanya, khansa pun terkejut kala beningan kaca itu membasahi kedua telapak tangannya yang masih melekat di wajah saudarinya , sekejap khansa mendekap tubuh saudari di hadapannya itu,
 
" Yakinlah saudariku, dari setiap bulir yang tertumpah dari matamu, menyimpan berjuta hikmah yang indah, setiap tetes nya akan menjadikan taman jiwa mu tumbuh dalam kesuburan iman, ya, di setiap tetesan airmata keikhlasan mu, akan membuahkan anugerah cinta-NYA...latahzan Ukhti, Innalloha ma'ana.."

Khansa membisikkan kata-kata penguat untuk Athifa, kini wajah nya tak jauh dari daun telinga saudarinya itu....

Di kecup nya ubun saudari nya dengan penuh cinta dan kelembutan....

perlahan khansa melepaskan dekapan erat nya dari tubuh Athifa....

Khansa amat memahami betapa ini bukan hal yang mudah bagi saudarinya, untuk menghapus lara yang menyergap hatinya, harapan-harapan itu, yang seakan amat dekat di tatapan hari,yang selayaknya sejengkalan kan terengkuh, seketika luluh lantak, semua rencana- rencana indah itu terkubur dalam keheningan jiwa....

Senja kemarin , menghantar sejumput duka,

Senja itu, menepis satu rencana kehidupan yang telah terbangun,
 
Senja itu menjadi senja yang buram bagi Athifa, kala berita itu ia dapatkan, berita duka "kepulangan" ke pangkuan Rahmat Alloh, lelaki yang tujuh hari lalu telah mengkhitbahnya, yang akan mengikrar akad suci bersamanya di lepas tujuh hari mendatang.....
 
Sekelebat sosok lelaki itu memenuhi benaknya, lelaki yang sangat bersahaja, begitu kuat dalam pesona keimanannya, lelaki yang tampak tak pernah terlelah dalam nafas da'wah, yang pribadinya menebar aura kharisma seorang muslim yang ber ahlaq mulia, yang rasanya akan menjadi idaman hati bagi setiap muslimah yang mengharapkan Imam yang sholih di dalam kehidupannya, sosok yang dalam diam Athifa, dalam upaya menjaga hatinya, tak pelak hadir di dalam asa jiwanya, namun Athifa tak pernah terlalu berharap, terlebih memberikan ruang untuk berkembangnya rasa yang belum lah halal di hatinya, ia selalu berusaha setia, pada satu nama......
 
Tak terpungkiri, saat lelaki itu menyampaikan itikad menjadikan Athifa bidadari dunia nya, menjadikan Athifa "partner hidupnya", menjadikan Athifa pelengkap ketaatannya, Jiwa Athifa sulit untuk percaya, serasa sedang dalam mimpi yang indah, jiwanya bak taman bunga bermekaran kala itu, hatinya tersipu, dan merekah bahagia.... dan hanya Alloh lah yang tahu bahagia jiwanya, ia membuat Rahasia yang indah Bersama Tuhan nya...

seketika, Athifa menengadah tangan, menyitir sejumput syukur yang mewarna jiwa,

" Ya Robbana, Jikalah dia adalah yang baik untuk agama, dunia, dan akhirat hamba, maka dekatkanlah ya robbi, namun jikalah bukan ia yang terbaik yang Engkau pilih kan untuk hamba, jagakanlah sekeping hati ini di genggamMU duhai pemilik hati, hantarkanlah ia pada satu nama yang telah Engkau tetapkan untuk hamba..."...

Athifa mencoba bahagia sekedarnya, ia tak ingin terlupa segala nya Alloh lah yang akan menjadi Sebaik-baik penentu Jalan kehidupan, namun ia tak ingin henti dalam syukur, setiap gerai hari membuatnya bertambah yakin, bahwa Alloh sebaik-baik tempat bergantung, tak akan kecewa jika DIA menjadi tempat sandaran jiwa...

dan saat ini, keyakinan nya sedang di uji.....
keteguhan iman nya sedang di uji......
 
" Alloh sungguh sedang menguji kesetiaan ku, saudariku sayang...."
Athifa lembut bertutur....."
 
Khansa mengangguk pelan, " dan saudariku insya Alloh akan mampu melewati semua ini, dan lulus dari ujian cinta-NYA.."
 
perlahan mentari itu mulai terbit kembali di bias wajah athifa, cahaya yang selalu dirindu khansa, yang seringkali menjadi transfer energi dan inspirasi bagi hari-harinya, yang seringkali menjadi sandaran hati kala ia melemah dalam terpa ujian, wajah yang selalu mengulum doa kebaikan untuknya, wajah yang nyaris tak terlihat kelemahan di dalamnya, wajah itu anggun dalam pesona kecantikan yang terlahir dari ruh jiwa yang penuh dengan senandung dzikrulloh.....
 
hari ini, adalah kali pertama wajah mentari itu redup tertangkap mata khansa, dan dalam keteguhan jiwanya, tetap berusaha menghidupkan prasangka terbaiknya pada ALLOH yang maha kuasa.....
 
" Doakan aku saudariku, semoga aku akan selalu setia pada ALLOH di atas segalanya, dan pula setia pada satu nama yang DIA telah tetapkan untukku..."
 
Athiffa mengenggam telapak tangan khansa, khansa mengurai senyuman....
 
" Insya Alloh sayang.... karena ALLOH akan mengaruniakan yang terbaik bagi jiwa yang sungguh sungguh mencintai-NYA, bersabar untuk meraih ridho-NYA..."

" Setia pada Satu Nama, yang Engkau torehkan di Lauhul Mahfudz..", keberkahan jalinan hati, lahir dari hati yang terjaga. Karena DIA akan menjodohkan sepasang jiwa yang baik dan Sepadan dalam ketaatan... Tuk berjuang menuju syurga "
bathin Athifa menguatkan bangunan jiwanya....

Apabila Allah telah menetapkan suatu takdir, maka yang paling dicintai-NYA adalah meridhai takdir-NYA" (Abud-Darda' Radhiyallahu anhu)

http://nafiadina.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan nina fitria sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Syahroni | Swasta
Subhanallah, KSC sangat bermanfaat bagi seorang hamba yang ingin menjalin silaturahim guna mencari keberkahan hidup. Saya juga berharap kiranya media ini bisa membantu saya dalam mengelola panti pendidikan anak-anak yatim.
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1209 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels