|
Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
|
|
|
http://aishliz.multiply.com |
|
http://friendster.com/http://friendster.com/aishliz |





Ahad, 18 Juli 2010 pukul 18:00 WIB
Penulis : Lizsa Anggraeny
"Jiiii... Jiiiii... Aiii... Aiiiii..." Terdengar suara serak bersahutan dalam parau memecah hening. Mengiringi senja yang mulai merambat kelam. Meninggalkan semburat jingga pada gumpalan awan. Mengantarkan bayangan perempuan ringkih, tetangga tua datang menjelang. Menyeret kaki lemah membuka pintu pagar. Terhuyung menerjang senja, mengeluarkan panggilan mengoyak malam.
Selalu, di waktu yang sama, suara panggilan tetangga tua terdengar. Sesekali paraunya bagai sayatan pilu. Melolong menghujat rindu. Membuat bulu kunduk berdiri. Tak tahan ingin mengintip diam dari jendela seberang. Diiringi bungkahan penasaran.
"Jiiii... Jiiiii... Aiii... Aiiiii..."
Sesaat, lolongan suara serak parau mulai terdengar kembali. Panggilannya makin menyeruak tinggi. Tak peduli malam telah membalut senja. Hingga tak kuat diri menahan hati. Beranjak berlari menuju tetangga tua.
"Obaachan, dare wo sagashiteiru no? (Nenek, sedang mencari siapa?)" Tanya diri.
Sejenak perempuan tua menatap dan tersenyum. Keriput jari kurusnya menunjuk sosok-sosok kecil yang berlari menghampiri. Terlihat riang menghambur melepas rindu. Satu persatu sosok kecil mulai mengelus manja kaki tubuh tua. Mengikuti kemana langkah ia berjalan.
Hentakan tangan perempuan tua menarik jari-jemariku. Mengajaknya singgah pada rumah yang berbalut lumut dengan cat memudar. Diikuti dua sosok kecil berbulu belang tiga. Melangkahkan kaki memasuki bangunan kokoh yang nampak sudah tua.
Foto-foto pudar hitam putih menghias dinding. Ruang kecil nampak lenggang bagi tetangga tua yang hidup sendiri. Tercium bau tikar tatami, menyengat hidung. Meninggalkan kenangan indah sebuah keluarga. Ingin kukuak kebahagiaan dalam bingkai tua di dinding.
Seolah mengerti, tetangga tua mulai bicara. "Yang berdiri tegap itu adalah suamiku," sahut tetangga tua menunjuk bingkai pudar hitam putih. Wajahnya terhias senyuman, memandang pria gagah dalam bingkai.
"Laki-laki kecil di sebelah kanan, adalah Koji, anak laki-lakiku. Aku memberinya nama Koji yang berarti anak matahari. Aku ingin kehadirannya membuat rumah ini bercahaya bagai matahari. Yang berada dalam pangkuan adalah Aiko, anak perempuanku. Nama Aiko berarti anak cinta. Aku ingin kehadirannya dapat memberi cinta pada rumah ini. Aku memanggil anak-anakku Ji dan Ai," suara tetangga tua sejenak tercekat. Entah oleh air ludah yang tertahan atau oleh kepedihan yang terpendam. Tetangga tua itu terdiam. Sesekali tangannya mengelus dua sosok kecil belang tiga yang sudah meringkuk dalam pangkuan.
"Suamiku meninggal beberapa tahun yang lalu dalam kecelakaan," parau suara tetangga tua. Mata beningnya nampak menahan riak.
"Sedangkan matahari dan cintaku. Mereka pergi entah kemana. Keluarga baru rupanya lebih berarti bagi mereka daripada aku, seorang perempuan tua tanpa daya," ucapnya lirih melanjutkan. Sesekali wajahnya menengadah ke arah bingkai pudar. Menatap nanar seolah mencari kebahagian yang dulu ada.
Tetangga tua beringsut menghidangkan minuman. Kemudian terduduk kembali menyeruput teh terhidang. "Si kecil belang tiga ini kupanggil Ji. Dan yang bertubuh sedang ini kupanggil Ai," ujar tetangga tua kembali melanjutkan sambil membelai dua kucing kesayangannya.
Semakin lekat aku menatapnya, semakin terasa ada keperihan menyabit hati. Aku tahu, ia merindu menahan sepi. Pada Koji, mataharinya dan Aiko, cintanya. Meski matahari dan cintanya tak pernah tahu dentuman rindu pilu seorang Ibu. Kubiarkan tetangga tua menghapus dukanya dengan bercerita. Menjemput malam yang kian merambat pelan. Lalu, kutinggalkan ia usai cerita, dengan dukanya yang tersisa.
***
"Jiiii... Jiiiii... Aiii... Aiiiii..."
Seperti malam-malam kemarin, hari ini kembali terdengar suara parau tetangga tua, memanggil dua kucing kesayangannya. Namun entahlah, aku merasa tetangga tua tidak sekedar memanggil dua sosok kecil belang tiganya. Di lubuk hati terdalam, pasti ia tengah memanggil matahari dan cintanya. Berharap Ji dan Ai yang sebenarnya, datang menghambur ke hadapan. Bergelendot manja bagai dua anak kucing belang tiga. Mengikuti setiap jejak langkahnya. Menghapus dentuman rindunya.
Kini, suara panggilan tetangga tua berusia 70 tahunan itu, terasa bagaikan lolongan rindu. Yang kadang membuatku iba, tak tega.
Sebersit pinta pada Illahi, "Ya Rabbi, ampunilah dosa kedua orangtua hamba. Kasihanilah mereka sebagaimana mereka mengasihi hamba sewaktu kecil."
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Lizsa Anggraeny sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.