Tazakka : "Perjuangan itu artinya berkorban, berkorban itu artinya terkorban. Janganlah gentar untuk berjuang, demi agama dan bangsa. Inilah jalan kita."
Alamat Akun
http://271724.kotasantri.com
Bergabung
12 Oktober 2009 pukul 03:38 WIB
Domisili
Surakarta - jawa tengah
Pekerjaan
Guru Swasta
ana tlah lulus dari MTs N Jatinom, Klaten, dan pernah aktif di FARISKA (Forum Aktifis Rohani Islam SMA/SMK/MA se-Klaten) ketika msh kelas 3 MTs slama kurang lebih 7 bulan, karna stlh lulus MTs ana melanjutkan d ma'had Ibnul Qoyyim, Sleman, Yogyakarta dan tlah lulus pd tahun 2010. Dan skrg nie, …
farieka@gmail.com
farieka@gmail.com
Tulisan Naflah Lainnya
Berpikir Positif
8 Maret 2011 pukul 14:00 WIB
Menepis Kesombongan
24 November 2010 pukul 18:44 WIB
Memperingati Hari Jadi
6 Oktober 2010 pukul 18:55 WIB
Kata Mereka : Al-Qur'an Tidak Suci
10 Juli 2010 pukul 20:13 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 13 Juni 2010 pukul 17:00 WIB

Figur Seorang Ayah

Penulis : Naflah

Aku tak tahu apa maksud dari kata-kata itu. Karena aku memang belum mengenal ayahku sendiri. Pertemuan yang pertama kali antara aku dan ayahku ketika aku masih berumur kira-kira 1 tahun, dan aku juga tak bisa mengingatnya.

Hari-hari pun berlalu. Dari hari menjadi minggu, dari minggu menjadi bulan, dari bulan menjadi tahun, dan dari tahun menjadi windu. Kira-kira selama 3 windu 1 tahun, aku tak pernah bertemu lagi dengan ayahku. Aku hanya bisa memandangi fotonya yang masih tersimpan di rumahku.

Ketika masa kecilku, aku selalu menanyakan tentang ayahku kepada ibuku, namun setelah aku berusia kira-kira 9 tahun, aku tak berani lagi untuk menanyakan tentang ayahku lagi kepadanya. Aku takut jika rasa sakit di hati ibuku karena kepergian ayahku semakin bertambah. Dan hingga saat ini juga, aku belum pernah menanyakan tentangnya kembali.

Ketika ayah meninggalkan kami, ayah pernah meminta ibu untuk mengirimkan surat cerai kepada ayah yang saat itu tinggal di Malaysia untuk mencari nafkah. Ayah juga meminta ibu supaya ia merawat kedua kakakku, sedangkan aku dan juga kakakku yang nomor 3 dirawat oleh ibuku. Jika tidak, ayah tak mau lagi menafkahi kami. Tetapi, ibuku tak takut dengan ancaman itu dan tak mau memenuhi permintaan ayahku, karena ibu sangat sayang kepada kami berempat.

Sungguh, aku sangat sayang padamu, ibu. Begitu besar cobaan yang Allah berikan kepadamu. Namun ibu tetap tegar dan tabah menghadapi semua itu demi kami agar bisa tinggal bersama ibu dan ibu bisa membimbing kami dengan cara ibu sendiri. Semoga Allah SWT kan selalu melindungimu dan menyayangimu seperti engkau selalu menyayangi kami. Aamiin.

Setelah UNAS MTs tahun 2007, tepatnya tanggal 18 Juni 2007, ayah bersilaturrahim ke rumah saudaranya di Kartasura, Sukoharjo. Kakakku yang pertama dan kedua pergi menemui ayahku di sana. Ayah telah menikah lagi dengan wanita lain, asli dari Jember. Ayah berkunjung bersama istrinya yang sedang hamil dan juga putranya yang pertama serta mertuanya. Aku tak bisa bertemu dengan ayahku saat itu, karena aku juga ada kepentingan di luar sekolah dan aku juga tak tahu jika ayah berkunjung ke rumah saudaranya.

Kemudian ketika 19 Juni 2007, aku berniat untuk menemui ayahku di Kartasura sehabis rapat FARISKA (Forum Aktivis Rohani Islam SMA/SMK/MA se-Klaten). Tapi, ayahku telah pulang ke Jember pada 18 Juni 2007 sore. Aku sedih sekali tak bisa bertemu dengan ayahku. Ternyata rinduku pada ayah belum juga membuahkan hasil bagiku.

Oh ayah, aku rindu padamu, aku ingin kita semua bisa berkumpul dalam keluarga yang utuh. Tapi itu semua memang harapan yang bagiku sangat mustahil untuk tercapai. Ayah telah menyakiti hati ibu dan telah menikah lagi dengan wanita lain, tapi rinduku padamu tak pernah hilang dari hatiku. Sulit bagiku untuk menghilangkan semua perasaan itu. Ayah, kembalilah!

Itulah sebagian dari do’a yang sering kupanjatkan kepada Rabbku. Namun Allah masih belum mempertemukan kami.

Setiap kali aku melihat temanku yang berkasih mesra dengan ayahnya, aku selalu cemburu padanya. Bahkan, pernah suatu kali aku dan temanku, Hema duduk di samping masjid dan aku melihat temanku, Suryani sedang berkasih mesra dengan ayahnya, tiba-tiba aku menitikkan air mata dan menangis di pelukan Hema. Dan aku belum bisa melupakan kejadian itu.

Tapi, kemarin aku sempat berbicara dengan ayahku lewat telepon. Beliau memintaku untuk tinggal bersamanya. Tapi aku tak bisa memenuhi permintaannya karena ibu tak tahu kalau aku pernah telepon ayahku, karena aku melakukan semua itu secara sembunyi-sembunyi dan kakakku juga tak rela jika aku tinggal bersamanya. Dan aku sendiri juga tak mau meninggalkan ibu yang telah sekian lama membimbing dan merawatku dengan penuh kasih sayang dan juga cobaan sejak aku masih dalan rahim ibu, karena waktu itu ayah pernah meminta ibu untuk menggugurkanku. Tapi, tak tahu kenapa aku juga masih merindukan ayahku.

Ketika aku berbiara dengan ayahku saat itu, aku meminta ayahku untuk membiayaiku ketika UN tahun ini. Dan Alhamdulillah ayah bersedia. Ternyata beliau juga belum melupakan kami. Dan yang ada di pikiranku saat itu, “Kenapa ayah menikah lagi, sedangkan ayah masih ingat dengan kami dan menginginkanku untuk tinggal bersamanya? Apakah itu semua sebagai tanda permintaan maaf ayah kepada kami yang telah meninggalkan kami sekian lama?”

Allah, aku ingin mempunyai seorang ayah yang selalu membimbingku dan selalu ada di sekeliling kami, tapi aku tak mau mempunyai ibu tiri, karena aku lebih sayang kepada ibuku sendiri. Tapi, kalaulah Engkau belum mengaruniakanku seorang ayah, biarkan aku bersama ibu dan ketiga saudaraku hidup dalam ketenangan dan kebahagiaan.

Dan Allah telah mengaruniakan kami kebahagiaan, hingga dari hari ke hari kakakku semakin sayang kepadaku, sehingga rasa rinduku kepada ayah telah luntur tanpa ada keinginan dari hatiku sendiri. Tapi yang masih ada di pikiranku, “Siapa yang akan menjadi wali untukku ketika aku menikah besok?”, sedangkan aku sudah hilang kontak dengan ayah dan tak pernah tahu tentang alamat rumahnya.

Ayah, aku ingin engkau bersatu kembali dengan ibu. Berbalam sosok itu dalam angan-angan dan impianku, laksana lembah dan gunung pada sebuah negeri asing. Namun, tatkala aku tiba pada titik didih kerinduan, diriku merasa tak berhak pula untuk menghukum orang itu. Sesosok figur yang seyogyanya patut dipanggil “Ayah”. Seorang pria yang pernah menitipkan benih jantannya di rahim ibunda. Entah atas nama cinta atau nafsu. Toh, antara cinta dan nafsu hanya dibatasi seutas benang yang amat tipis, sangat sulit dibedakan.

Bersyukurlah jika masih mempunyai orangtua yang utuh, dan masih selalu dalam bimbingan mereka. Jangan pernah sia-siakan mereka, dan berbaktilah kepada mereka yang telah membesarkan kita hingga beranjak dewasa.

Mereka merawat kita dengan penuh kasih sayang dan ketabahan. Mereka tak pernah mengeluh ketika kita meminta sesuatu kepada mereka. Maka, buatlah mereka bahagia dan raihlah keridhaan dari mereka, karena Rasulullah SAW bersabda, “Keridhaan Allah terletak pada keridhaan kedua orangtua, dan kemurkaan Allah terletak ada kemurkaan kedua orangtua.”

Suka
bambang dan Naflah menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Naflah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Arry Rahmawan | Penulis dan Trainer
Subhanallah, akhirnya KotaSantri.com semakin berkembang. Artikelnya bagus dan dapat menambah wawasan kita semua. Maju terus KotaSantri.com... ^^
KotaSantri.com © 2002 - 2020
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0521 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels