HR. At-Tirmidzi : "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak."
Alamat Akun
http://12345.kotasantri.com
Bergabung
23 April 2009 pukul 03:58 WIB
Domisili
Jakarta - DKI Jakarta
Pekerjaan
Penulis Freelance
Penulis buku Bela Diri for Muslimah : Siapa Bilang Perempuan Makhluk yang Lemah. Untuk bersilaturrahim, silakan kunjungi : http://sebuahrisalah.multiply.com atau FB / Imel : bujangkumbang@yahoo.co.id
Tulisan Fiyan Lainnya
Sebatas Kotak Amal
11 April 2010 pukul 15:15 WIB
Ketapel Husen
28 Maret 2010 pukul 17:15 WIB
Menutupi Aib
23 Maret 2010 pukul 16:00 WIB
Kantong Ajaib
31 Januari 2010 pukul 17:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 16 Mei 2010 pukul 18:45 WIB

Ada Khadijah di Hatimu, Mbak

Penulis : Fiyan Arjun

Aku menaiki sebuah bus yang sesak dan sumpek dengan penumpang. Aku menumpangi bus itu bersama kawanku untuk menghadiri sebuah launching buku dari seorang penulis wanita yang beberapa kali mengantongi penghargaan dalam dunia tulis menulis. Ya, di sana nanti kami berdua akan menemui penulis itu sesuai harapan kami masing-masing.

***

Aku malu, Mbak, ketika kau berbicara kepadaku tentang kegigihanmu dalam pencariaan Tuhan yang hakiki di hatimu di saat itu. Sungguh, aku benar-benar malu sama diriku saat kau menceritakan kegigihanmu itu. Aku malu, Mbak? Malu sekali.

Kau ceritakan betapa susahnya dirimu dalam pencarianNya yang benar-benar kau yakini, saat kau tahu bahwa agama yang kau temui di hatimu adalah din yang tepat di hatimu. Kau ceritakan dari bibirmu yang tanpa polesan lipstik. Pucat pasi. Dengan tenang dan sesekali kau membetulkan jilbab birumu, menambah anggun parasmu dan seakan kau ragu untuk menceritakan lebih lanjut untukku. Mungkin bagi kau itu privacy, hal yang tak boleh semua orang mengetahuinya, termasuk aku ini. Ya, itu aku maklumi.

Seandainya aku jadi Mbak, aku juga harus berhati-hati membicarakan hal yang menurut Mbak sangat rahasia. Hanya Mbak seorang diri yang patut mengetahui saja. Bukankah begitu, Mbak? Apalagi mau berbagi dengan orang yang belum begitu dikenal semacam aku ini. Aku pasti berpikiran yang sama kok.

"Maaf, Mbak, aku bukannya mau mengetahui masa-masa itu. Aku ingin belajar dari Mbak tentang pencarian Tuhan di hati Mbak. Karena aku malu sama diriku, Mbak, terlebih agama yang selama ini aku bawa sejak lahir. Aku malu sama agamaku," kukatakan sebenarnya apa yang ada di benakku bahwa aku sangat kagum dengan sikapnya itu. Tentang pencarian Tuhannya selama ini.

"Oh, nggak apa-apa kok. Bagi Mbak, yang penting kita harus ikhlas menjalaninya," jawabnya dengan senyuman teduhnya yang membuat aku tak enak untuk meneruskan lebih lanjut untuk menanyakan hal itu.

Aku diam sejenak.

Bus yang mengantar ke tujuan melaju dengan semestinya. Walau saat itu aku sudah gelisah dengan waktu yang terus saja berlalu dengan cepat. Aku takut acara itu usai. Dan akhirnya aku malah gigit jari jika orang yang akan aku temui nanti sudah meninggalkan lokasi acara. Tapi hal itu kuhalau dengan berbicara pada kawanku yang usianya lebih tua dua tahun dariku.

Aku melihat kegigihannya dalam pencarian Tuhan selama aku berbicara dengannya di dalam bus yang kami berdua tumpangi. Kernyit dahiku naik turun karena memastikan kapan bus yang aku tumpangi bisa secepat mungkin sampai tujuan.

Aku mendengus.

"Sudahlah, nggak usah dipikirkan. Nanti juga sampai kok."

"Nggak, Mbak, nanti kita takut terlambat. Mbak mau nanti di sana nggak ketemu orangnya?" kataku risau mengkhawatirkan tentang perjalananku apakah sampai di tempat sesuai waktu atau tidak. Itu yang aku pikirkan sejak ada di dalam bus bersama kawanku itu.

"Ya udah, daripada kamu senewen sendiri, lebih baik kamu dengar cerita Mbak lagi. Katanya mau dengar Mbak cerita lagi," tiba-tiba kawanku itu menetralisirkan kerisauanku sejak tadi.

Ia tersenyum. Aku jadi malu. Malu akan kerisauan yang menghujam di benakku sejak tadi. Dan ditambah lagi bus yang aku tumpangi jalannya seperti keong. Lambat sekali, membuat adrenalinku semakin tambah membucah.

"Nanti juga sampai kok. Kalo kita terlambat dan nggak sampai ketemu sama penulis itu, yang penting kita sudah usaha. Dengarkan Mbak cerita lagi aja ya."

Akhirnya kerisauanku terhenti ketika kawanku itu beberapa kali memendam rasa risauku dengan ucapannya yang membuat aku sadar, "Toh buat apa aku harus risau kalau memang Tuhan mau mempertemukanku dengan penulis itu. Kalau jodoh tidak akan ke mana," gumamku tak karuan.

Aku melanjutkan perbincangan dengan kawanku itu. Perbicangan untuk mengisi perjalananku selama di dalam bus.

"Dulu, waktu dalam pencarian Tuhan, Mbak mengalami banyak rintangan lho. Ya, namanya orang yang mencari hidayahNya tak selamanya mulus. Ada saja halangannya. Tapi untungnya, keluarga Mbak mendukungnya. Itu pun Mbak ikut dalam pencarian Tuhan karena melihat kegigihan ayah Mbak yang lebih dulu memeluknya. Selama pencarian itu, Mbak menemukan juga. Ternyata Tuhan masih sayang pada Mbak."

Begitu tuturnya panjang lebar. Menambah poin plus untuknya bila aku memberi nilai atas kegigihannya serta ketabahannya mencari Tuhan yang pantas untuk dirinya. Halnya Khadijah sebelum menjadi istri seorang Rasul di muka bumi ini. Ia takjub dengan sikap dan kesederhanaan sang Rasul itu. Dan akhirnya ia pun mengikrarkan Tuhannya sang Rasul untuk menjadi pegangannya.

Ya, seperti itu aku melihat sosok perempuan muda yang ada di hadapanku yang sejak tadi menjadi kawan bicaraku di dalam bus saat perjalanan menunju ke pusat perbelajaan untuk menghadiri sebuah event lauching buku.

"Eh, sudah sampai tuh. Kok malah bengong? Tadi risau, sekarang malah kayak ayam sakit gitu," goda kawanku itu saat aku menyadari bahwa bus yang aku tumpangi sudah sampai di tujuan.

Kawanku sudah lebih dulu turun dari bus. Tinggal aku seorang diri yang menyusul dari belakang. Dengan langkah gontai, aku menuruni anak tangga bus yang aku tumpangi hingga hati terbersit sebuah gumaman atas orang yang selama di perjalananku telah membuat aku sadar akan hal yang selama ini aku lakukan. Ia tunjukan sikap-sikapnya kepadaku di dalam perjalanan itu. Ia begitu teduh dalam memberikan sebuah oase di dalam hatiku. Sejuk dan damai.

"Lagi ngelamun apa?"

Aku tersentak ketika ia mengetahuiku sedang melamun saat usai menuruni anak tangga bus yang aku tumpangi.

"Ah, nggak ada apa-apa ko, Mbak," jawabku menutupi lamunan yang terbersit di benakku.

"Mbak, di hatimu ada seorang Khadijah. Semoga Mbak yakin dan bisa mejalani setulus mungkin atas pilihan Mbak. Do'aku buat Mbak," gumamku. Dan tanpa sengaja, aku pun melihat ia tersenyum manis.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fiyan Arjun sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Hamzah | Wiraswasta
KotaSantri.com, sejukkan hati!!! Peace ah. SaLam ukhuwwah wat hamba Allah se-alam dunia.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1163 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels