QS. Al-Hujuraat : 13 : "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Alamat Akun
http://12345.kotasantri.com
Bergabung
23 April 2009 pukul 03:58 WIB
Domisili
Jakarta - DKI Jakarta
Pekerjaan
Penulis Freelance
Penulis buku Bela Diri for Muslimah : Siapa Bilang Perempuan Makhluk yang Lemah. Untuk bersilaturrahim, silakan kunjungi : http://sebuahrisalah.multiply.com atau FB / Imel : bujangkumbang@yahoo.co.id
Tulisan Fiyan Lainnya
Menutupi Aib
23 Maret 2010 pukul 16:00 WIB
Kantong Ajaib
31 Januari 2010 pukul 17:00 WIB
Jodoh Bukan di Tangan Mak Comblang
19 Desember 2009 pukul 20:31 WIB
Lelaki Sejati : Talk Less Do More
13 Desember 2009 pukul 15:20 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 28 Maret 2010 pukul 17:15 WIB

Ketapel Husen

Penulis : Fiyan Arjun

Lelaki tanggung itu terus saja mengutuk setiap kali ia melihat burung-burung besi yang sedang mengangkasa membabi buta ketika mengeluarkan rudal-rudal kematian. Hingga dari kejauhan terlihat lengannya yang menganga lebar. Terluka. Terkoyak. Lantaran terkena puing-puing ketika akan menolong ibunya di rumahnya yang telah luluh lantak dibombandir tentara Israel.

"Tuhan akan melaknat kaliaaaaannnnnnn...!!!" ceracaunya membahana ke langit kelam yang penuh dengan asap pekat yang ke luar dari kotoran burung-burung besi yang masih menari-nari di angkasa. Hingga menyelumbungi kesedihan di hatinya saat itu. Meratap atas kepergian orang yang sangat dikasihinya. Menangisi kematian ibunya yang tewas dalam pemboman tak berperikemanusiaan itu.

"Cudahlah Kak Abir, biar nanti Hucen yang balas. Biar ketapel yang Hucen kalungi ini yang membalasnya," ujar Husen, adik kecilnya yang selamat dalam tragedi yang sudah merenggut nyawa ibunya itu. Tragedi yang menyulutkan kobaran api bagi siapa pun yang memandangnya. Lalu mengutuknya.

Begitu mahadahsyatnya saat tragedi itu terjadi. Pun bagi yang menyaksikan dengan mata telanjang ketika tragedi itu terjadi di hadapan lelaki tanggung itu. Lelaki yang disebut Kak Abir itu hanya bisa memulaskan senyuman haru kepada anak berusia empat tahun, Husen, namanya. Menggebu-gebu di dalam sanubari kecilnya untuk membalas kematian ibu mereka.

Lelaki itu masih tetap tak menjawabnya. Ia malah memeluk erat-erat tubuh kecil adiknya itu. Betapa ia sangat menyayangi adiknya itu, terlebih azzam-nya yang begitu berapi-api ketika mendengar dari mulutnya yang belum fasih mengucap itu.

"Lho, Kak Abir kok tidak menjawab pertanyaan Hucen?" tukas anak kecil itu yang di lehernya tersematkan sebuah ketapel buatan lelaki itu. Tak lain kakaknya yang amat mencintai dirinya itu.

"Nanti saja ya kalau Husen sudah sebesar kakak. Sekarang ini yang Husen harus lakukan adalah banyak berdo'a dan belajar. Do'akan ibu di surga ya," begitu yang terlontar dari mulut lelaki itu. Lelaki itu tak mau orang satu-satunya yang ia miliki nanti akan senasib seperti ibunya. Tewas dalam kekejian perang.

"Ya sudah, sekarang kita makamkan ibu dulu! Sebentar lagi malam tiba," lanjut lelaki itu lagi sambil membopong ibunya yang telah bermandikan darah menuju bukit. Dan adik kecilnya itu mengekor di belakangnya. Langkah kecilnya pun terus menjejak di tanah yang sudah berbau anyir. Bau darah para manusia yang tewas terkena rudal. Saat kedua kakak-beradik itu menuju suatu bukit untuk memakamkan ibunya, senja sudah tersaput malam.

***

Seminggu sudah mereka bermalam di pengungsian. Pengungsian bagi mereka-mereka yang merupakan korban kekejian perang antara dua negara. Lelaki itu masih saja mengingat kepergian ibunya itu. Padahal orang yang mereka cintai itu sudah pergi selama-lamanya bersama para mujahid yang telah gugur di tanah penuh kedamaian itu. Lelaki itu tak mengira kalau kepergian ibunya itu sangat cepat dan sekaligus begitu amat tragis. Lelaki itu masih mengingat kronologis ketika sebuah rudal meluncur bebas menghantam rumahnya itu. Luluh lantak. Peristiwa itu telah memakan korban. Tak lain ibunya sendiri.

Tragedi itu membuat relung hatinya sesak untuk mengingat kembali peristiwa itu dalam siluet bayangan di benaknya. Apalagi ketika pesan terakhir mendiang ibunya sebelum matanya tertutup rapat. Ibunya itu telah berpesan untuk menjaga Husen, adik kecilnya yang sangat belia dan juga tak tahu apa-apa tentang kejadian yang dialami di tanah kelahirannya itu. "Ah, jika itu terulang kembali, ia ingin sekali menukar dirinya dalam tragedi itu. Menggantikan posisi ibunya kala itu." gumamnya. Tak terasa air matanya telah medanau kecil.

"Kakak nangis ya?" tiba-tiba suara lugu Husen menghentikan lamunan lelaki tanggung itu.

"Ah, tidak kok! Mata Kak Abir sedang kemasukan pasir saja," jawabnya menutupi kegalaunnya.

"Husen sekarang tidur di dalam tenda, sudah malam. Nanti kalau Husen tidak tidur, besok kita kesiangan. Bukankah kita besok harus bangun pagi-pagi dan pindah lagi. Mencari tempat untuk mengungsi?"

Anak kecil tak berdosa itu menuruti perkataan kakaknya. Di luar pengungsian, masih terdengar dentuman rudal. Ia terus memikirkan kelanjutan hidupnya bersama adik semata wayangnya itu. Lelaki itu tak tahu apakah esok hari ia bisa menatap mentari pagi bersama adik kecilnya itu. Atau, ...

Dheurrr!!!

Terdengar keras bunyi sebuah letupan. Ternyata itu suara letupan rudal yang jatuh tepat di hadapan lelaki itu. Ia tak tahu kalau tempat pengusingan yang ditempati oleh adiknya saat itu sudah luluh lantak. Porak-poranda akibat dijatuhi rudal oleh para tentara yang berhati iblis.

"Allahu Akbar!!! Husen, Husen di mana engkau, adikku? Husen di mana? Maafkan Kak Abir ya, Husen. Kak Abir tak mau ditinggal Husen. Husen..." Lelaki itu baru menyadari apa yang telah terjadi di hadapannya itu. Dengan gontai, lelaki itu terus mencari adik semata wayangnya. Ia terus saja menyesal diri. "Kenapa saat itu aku melarang adikku untuk tidur bersamaku?" teriak batinnya. Menyesali apa yang telah terjadi. Kini ia menyadari bahwa ia benar-benar orang yang patut dipersalahkan dari semua yang dialami orang-orang yang ia cintai. Ibunya dan adik kecilnya, Husen!

Lama. Ya, lama lelaki itu mencari jasad adiknya, tetapi ia belum juga menemukan jasad mungil adiknya itu. Yang ia dapat temui hanya ketapel yang masih tercampur bercak darah segar. Dan lelaki itu masih tak percaya bahwa yang ada di hadapannya adalah benda yang sering dikalungi oleh Husen, adiknya itu. Terlebih ketapel itu mengingatkan semangat yang bergelora di dada kecil adiknya itu. Lelaki itu masih ingat benar dengan apa yang pernah dilontarkan dari bibir kecil adiknya itu, ia ingin membela tanah airnya, Palestina.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fiyan Arjun sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Angga Ciptadi | Karyawan
Sering-sering maen ke web ini, biar terus dapat insiprasi + motivasi dalam menjalani hari. Mudah-mudahan berkah.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1005 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels