Pelangi » Pernik | Ahad, 14 Februari 2010 pukul 18:33 WIB

Cinta Mayada

Penulis : Puri Kusuma Dwi Putri

Musim semi kini telah tiba
Bunga-bunga bermekaran (harum mewangi)
Di sepanjang jalan warna mengganti
Segar asri berseri (di hati)
Kuntum yang layu
Kuncup yang beku
(Suara Persaudaraan)

"Endlich kommt die Fruehling," jeritku dalam hati. Warna-warni bunga yang bermekaran menghiasi hampir seluruh sudut kota Muenster. Aku berjalan menyusuri Aase di dekat Mensa. Bunga-bunga, pepohonan, dedaunan menyapaku malu-malu. Kuyakin mereka pasti sedang berdzikir mengeja nama sang Khalik. Subhanallah... Semesta bertasbih kepadaMu, ya Rabb.

Setelah pulang dari kampus, aku sengaja tidak segera pulang ke Studentenwohnheim. Aku hanya mengikuti ke mana kakiku melangkah. "Ah, coba naik Bus di depan Mensa," batinku saat itu. Biasanya aku tak pernah naik bus di depan Mensa. Tapi karena hati ini tidak bisa dibohongi, aku harus naik meskipun aku tak tahu ke arah mana bus yang akan membawaku.

Kemudian mataku menyapu bus yang aku naiki, aku langsung duduk manis sendiri. Aku lebih suka mencari bangku kosong dan menyisakan bangku kosong yang ada di sampingku.

"Ist hier Platz noch frei?" seorang wanita berjilbab bertanya padaku.

"Ja natuerlich."

"Bitte schoen," kujawab sambil tersenyum

Lalu kami memulai percakapan. Wanita berjilbab itu bernama Mayada. Seorang wanita blasteran, ayahnya berasal dari Irak dan Ibunya asli orang Jerman. Aku kira ia Jerman tulen. Mayada adalah mahasiswi Medizin di Universitas Muenster. Ia telah menyelesaikan kuliah jurusan kedokteran gigi di Irak. Umurnya sekitar 30-an tahun.

Begitu Mayada melihatku, ia langsung menebak bahwa aku berasal dari Indonesia. Sebelumnya ia mengenal juga gadis asal Indonesia yang pernah tinggal di Muenster.

Kami langsung berbagi nomor HP dan e-mail, agar silaturrahim tetap terjaga. Pada waktu itu liburan akan tiba, Mayada akan mengundangku ke Apartemen-nya. Aku boleh kapan saja main ke Apartemen-nya.

Sebentar lagi bus yang membawa kami akan berhenti di pertigaan jalan, aku harus turun dan ganti bus.

"Mayada, ich muss hier umsteigen," cepat-cepat aku mengatakannya.

"Alles klar, ich warte auf dein SMS," tak lupa ia mengigatkanku

"Insya Allah..."

Setelah pertemuanku dengannya, Mayada kirim SMS dan e-mail, kami saling bercerita satu sama lain. Aku juga belum sempat main ke Apartemen-nya.

Alhamdulillah setelah liburan tiba, aku segera menghubungi Mayada.

Mayada tinggal di Apartemen, jaraknya tidak begitu jauh dengan Wohnheim-ku. Kira-kira aku harus jalan 20 menit dari rumah. Itung-itung sambil rihlah kataku, dan mengenal Muenster lebih dekat.

"Yang mana ya Apartemen-nya?" aku berjalan sambil mencari alamatnya.

"Beep.. beep.." SMS dari Mayada, "Ich werde dich in der Haltestlle abholen. Warte auf mich."

Mayada kemudian muncul dengan berbalut jilbab putihnya. "Komm schwester," sambil cium pipi kanan-kiri.

Mayada bercerita banyak tentang dirinya, begitu juga aku, kami saling bercerita tentang latar belakang kami masing-masing. Seru mengenal sosok Mayada. Mayada punya hobi bikin kue, menjahit, belajar, memelihara ikan, dan lain-lain.

"Jilbabmu bagus, Mayada," aku lihat jilbab putih Mayada seperti berasal dari Indonesia. Aku hanya menebak dalam hati.

"Jilbab ini berasal dari Malaysia, dari temanku dulu yang juga kuliah di Uni Muenster," kata Mayada.

Jilbab putihnya bersandar di dekat Heizung, kemudian Mayada memberikan jilbab putih kesayangannya yang dari temannya kepadaku.

"Kau tidak perlu memberikan jilbab ini padaku," jilbab putihnya segera kukembalikan.

"Ambil saja, ini untukmu!" dengan tegas dia menjawab.

Tak lama kemudian, aku bertanya kepada Mayada tentang sepasang kaos kaki rajut. "Kaos kakimu berasal dari Turki ya?" sambil aku menunjuk ke arah kaos kaki.

Ternyata benar dugaanku, kaos kaki itu berasal dari sahabatnya, orang Turki.

"Kaos kaki ini kuberikan kepadamu," Mayada segera mengambil kaos kaki itu dan memberikannya kepadaku. Aku sudah menjelaskan kepadanya, untuk tidak memberikan barang-barangnya.

Tak sengaja, aku memegang kaset Murattal juz 30 Milik Mayada. Hanya memegang. Aku tak berani bertanya lebih jauh tentang barang miliknya. Tiba-tiba Mayada memberikan kaset murattal-nya kepadaku.

"Ambil saja, ini buat kamu," kata Mayada.

"Terima kasih."

Waktu begitu cepat berlari. Aku segera pulang ke Wohnheim.

"Mayada vielen dank," sambil aku memeluk Mayada erat-erat dan mencium pipi kanan-kiri.

"Insya Allah werde ich wieder zu dir kommen."

Bertemu Mayada serasa telah lama mengenalnya. Cinta karena Allah begitu dahsyat. Islam begitu indah, meski baru mengenalnya, rasa persaudaran itu telah mengakar di hati kami.

Cinta Mayada kepada Rasulullah juga sangat murni. Mayada berusaha untuk mengamalkan sunnah Rasulullah, yaitu dengan memberi barang-barang kesayangannya kepada orang lain. Aku berbeda dengan Mayada. Aku sangat sayang sekali terhadap barang milikku dan berusaha menyimpan baik-baik barang itu. Terutama barang yang penuh makna yang berasal dari orang lain. Tetapi Mayada berbeda, dengan senang hati ia akan memberi barang-barang miliknya, jika terucap pujian dari orang lain terhadap barang miliknya yang paling dicintai.

Berikanlah harta yang paling kamu cintai. Dalam sebuah ayat, "Sekali-kali kalian tidak akan memperoleh kebaikan sehingga menginfakkan harta yang kalian sukai."

"Dan nafkahkanlah (harta) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan (dirimu sendiri) dengan tanganmu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah; karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Baqarah : 195).

***

Mayada uhibbuki fillah

Vermisse euch so sehr

Adzan maghrib,
Semarang, 22 November 2006

Catatan
Aase : Nama danau buatan di tengah kota Muenster.
Mensa : Kantin.
Studentenwohenheim : Tempat tinggal mahasiswa-mahasiswi.
Wohnheim : Tempat tinggal.
Ist hier Platz ist noch frei : Apakah bangku (tempat) ini masih kosong?
Ja natuerlich : Ya, tentu saja.
Medizin : Kedokteran.
Ich muss hier umsteigen : Saya harus turun di sini.
Alles klar, ich warte auf dein SMS : Ok, saya tunggu SMS darimu.
Ich werde dich in der Haltestlle abhollen : Saya akan menjemputmu di halte bus.
Heizung : Pemanas suhu di dalam ruangan.
Komm schwester : Ayo saudaraku.
Vielen dank : Terima kasih banyak.
Werde ich wieder zu dir kommen : Saya akan mengunjungimu kembali.
Vermisse euch : Merindukan kalian.

KotaSantri.com © 2002-2012