|
QS. An-Nahl : 97 : "Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
|





Ahad, 31 Januari 2010 pukul 17:00 WIB
Penulis : Fiyan Arjun
Blepp!!
Tiba-tiba tubuhku terlempar jauh dan jatuh ke dunia yang tak aku kenal. Asing. Dan aku pun tak menyadari hal itu ketika tempat itu sudah kupijak. Yang kuketahui saat itu, aku berada di depan komputer sedang menulis sebuah cerita. Namun entah kenapa, saat sedang menulis, ada sesuatu yang menarik tubuhku hingga membuat aku ada di dunia ini. Ya, seperti sengatan listrik yang aku rasakan saat itu ketika tubuhku tertarik.
Entah kenapa hal itu bisa terjadi, aku sendiri tak tahu. Dan yang lebih mengejutkan adalah ketika aku siuman dari tidur suriku. Di hadapanku sudah berdiri tegak makhluk aneh. Yakni, berupa boneka hidup yang menyerupai seekor kucing raksasa besar tanpa ekor telinga sedang menghadangku!
Ya, sekarang aku baru ingat, bukankah makhluk yang ada di hadapanku ini Doraemon, kartun yang tiap pekannya ditonton oleh sepupuku yang masih duduk di bangku SD itu. Pasti ini tokoh kartun lucu itu.
"Hei, kenapa kamu bengong saja. Apa kamu terkejut melihat aku?" ujar makhluk yang ada di hadapanku. Ternyata makhluk itu bisa berbicara seperti halnya aku sebagai manusia.
Aku hanya terdiam. Membisu. Tak dapat satu pun kata yang ke luar dari mulutku. Kelu. Seakan-akan aku dihadapkan oleh hal yang mustahil. Sulit aku nalar. Apalagi untuk aku ceritakan lebih lanjut kepada kalian.
"Ya, aku sengaja membawa kamu ke dunia ini. Agar kamu melihat bagaimana negeri kamu sekarang ini," lanjutnya semakin aku tak mengerti ketika ia berbicara tentang negeriku.
"Tahu apa dia tentang negeriku," gumamku ketus ketika mendengar ucapan makhluk itu mengenai negeriku.
Tak lama kemudian, saat aku ingin menjawab pertanyaan darinya, aku dikejutkan lagi. Di depanku terpampang sebuah layar hidup yang menggambarkan negeriku yang sedang malang dan juga sedang menangis. Mau tak mau, akhirnya aku melihat juga yang ditayangkan oleh layar hidup itu. Ternyata benar, negeriku sedang malang dan menangis. Di mana-mana rakyat di negeriku sedang porak-poranda. Tertimpa landa kelaparan, kekeringan, pengangguran, serta kenaikan harga BBM. Dan masih banyak lagi. Itu pun aku tak sanggup lagi melihatnya. Itu sama saja membuat aku di hadapannya semakin merasa dipecundangi dan tak bisa berkutik. Mati kutu.
"Oh, kamu sengaja membawa aku ke duniamu hanya mentontonkan rakyat di negeriku saja yang sedang porak-poranda itu. Maksud kamu apa, hah!" seruku membuat bibirku mengerucut menggertak makhluk yang sejak tadi memamerkan segala kecanggihan yang ada pada dirinya.
"Bukan! Aku bukan mentontonkan rakyat di negeri kamu. Aku hanya memberikan kamu sebuah pelajaran berharga untuk kamu."
"Ah, aku tak butuh pelajaran dari kamu. Biar jelek-jelek begini, pelajaran yang aku dapati sudah melebihi dari cukup," jawabku lagi hingga puncak dari naik pitamku semakin tak terkendali.
"Oke, sekarang apa mau kamu dengan aku?" tiba-tiba makhluk yang memiliki kantong ajaib yang dapat mengabulkan segala permintaan Nobita, kawannya itu, menawarkan bantuan kepadaku.
"Ya, aku ingin kamu membantu rakyat di negeriku agar makmur, sejahtera, dan tak ada lagi kelaparan. Aku ingin kantong ajaib kamu itu menolong negeriku."
Makhluk yang menyerupai kucing itu tak langsung menjawab. Terdiam sejenak.
"Apa yang kamu pikirkan lagi! Bukankah kawan kamu yang bodoh itu, Nobita, sering memafaatkan kantong ajaibmu?" timpalku lagi dengan kata-kata yang membuat ia semakin tersudut.
"Apa hubungannya dengan anak bodoh itu. Kamu jangan selalu menilai, kalau ada aku, pasti ada anak itu. Itu salah besar. Sekarang aku sedang tak sejalan dengan anak itu. Baiklah, aku akan membantu kamu."
Belum usai aku menjawab, dari dalam kantong ajaibnya itu ia mengeluarkan sebuah benda yang tak aku ketahui apa kegunaannya untukku. Selintas aku lihat, benda itu seperti benda pencetak uang. Dengan berbagai fasilitas yang komplit dan serba ada, membuat benda itu semakin canggih di hadapanku. Tapi kenapa ia mengeluarkan itu? Bukankah benda itu amat berharga bagi dirinya. Aku semakin tak mengerti dibuatnya.
"Ya, ini benda yang akan kamu bawa nanti ke negeri kamu. Agar rakyat di negeri kamu tak seperti yang kamu lihat di layar hidup tadi. Sungguh membuat aku merasa iba terhadap negeri kamu. Tapi dengan satu syarat, kamu jangan lagi menghubung-hubungkan aku dengan anak Sekolah Dasar itu, Nobita namanya. Aku tak ingin kamu kait-kaitkan dengannya lagi. Maukah kamu mengikuti pesyaratanku itu?" panjang lebar makhluk seperti kucing itu memberitahukan persyaratannya agar ia mau memberikan batuannya kepada rakyat di negeriku nanti.
Usai memberitahukan persyaratan itu, aku pun tak langsung mengiyakan. Aku berpikir keras. Apakah aku pantas menerima bantuannya? Dan apa itu jalan terbaik untuk rakyat di negeriku? Kalau aku menuruti kemauannya, apa kata dunia? Ia makin seenaknya mengejek rakyatku dengan bantuannya itu nanti. Aku pun terus bertanya-tanya dalam hati. Antara menerima bantuannya atau tidak dari mahkluk itu.
"Terima kasih atas bantuan kamu. Tapi dengan berat hati, aku tak dapat menerima apa yang kamu berikan kepadaku. Biarlah rakyat di negeriku porak-poranda, asal harga diri tetap terjaga. Untuk apa menerima bantuan dari kamu, jika nanti di belakang kamu tertawa terbahak-bahak menertawai rakyat di negeriku."
"Dasar manusia bodoh. Tak mau untung! Sudah aku bantu masih tak mau juga. Mungkin lebih baik aku kembalikan saja ke asal kamu itu. Negeri yang membuat aku muak dengan segala kelakuan rakyat-rakyat di negeri kamu itu. Sudah miskin, banyak korupsi!"
"Biarlah rakyat di negeriku porak-poranda. Asalkan negeriku tak seenaknya kamu lecehkan. Terlebih bila mendapatkan bantuan dari kantong ajaib kamu itu. Kantong ajaib yang hanya membuat kawan kamu itu, Nobita, semakin bodoh oleh kamu sendiri. Biarkan di negeriku hujan batu daripada hujan emas di negeri kamu hingga membuat rakyatku semakin sengsara."
Tiba-tiba tubuhku seperti tersengat listrik lagi. Tapi sengatan yang kurasakan kali ini lebih menyakitkan dari sebelumnya, membuatku terhuyung, dan membuatku tak sadar seakan-akan aku dibawa ke negeri lain. Ya, ternyata aku kembali ke negeriku sendiri. Makhluk aneh itu telah mengembalikan aku, tepatnya di depan komputerku saat aku sedang menulis. Aku menyadarinya saat monitor di komputerku berkedap-kedip menyilaukan mataku. Hingga aku tak ingat kembali dengan apa yang aku lakukan selama aku tidur suri. Tanpa sengaja, mata minusku melihat makhluk itu sedang menghasut salah satuh rakyat di negeriku yang terpampang di layar komputerku. Ia mengelabui dengan kantong ajaibnya yang akan memberikan segala apapun untuknya. Licik.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fiyan Arjun sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.