|
Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
|




Ahad, 24 Januari 2010 pukul 18:44 WIB
Penulis : Salman Rafan Ghazi
Udara pagi ini terasa dingin, padahal sekarang awal bulan Mei, membuatku malas untuk berlayar dan berburu ikan di laut. Teman-temanku yang lain sedang bersiap-siap dengan perahu mereka. Ahmed, Hasan, Ibrahim, dan Haykal. Aku hanya melihat mereka dari jauh sambil bersandar di salah satu dinding masjid. Setelah shalat shubuh tadi, mereka langsung menuju pantai.
Seseorang tiba-tiba menepuk pundakku, “Kau tidak berburu ikan, Man?”
Aku kaget. Hampir saja terjatuh dari posisi sandaranku. Ternyata Azis. “Aku sedang malas.”
“Oh. Kalau begitu aku berangkat dulu.” Aziz lalu menghambur ke arah teman-temanku yang lain.
Mereka melambaikan tangan ke arahku. Aku menggeleng dan melambaikan tangan menolak ajakan mereka. Seakan mengerti, mereka segera mengarahkan perahu ke laut lepas. Perlahan perahu mereka pergi menyongsong pagi di Laut Mediterania. Perahu mereka semakin kecil. Menjauh. Lalu hilang dari pandanganku. Allah, jagalah teman-temanku di lautMu.
Aku masih bersandar di dinding masijd. Menatap pantai dan laut yang mulai terang. Rasanya malas sekali beranjak pulang ke rumah.
Aku dan teman-temanku adalah nelayan. Di pantai Rafah, selatan Gaza kami tinggal. Kampung nelayan.
***
Pantaiku indah. Banyak tanaman perdu menghiasinya. Pohon kelapa berjajar rapi di tepiannya seperti pagar raksasa bagi kampungku. Membentang dari utara sampai selatan pantai. Perahu-perahu nelayan ditambatkan di tepinya.
Saat sore tiba, anak-anak kecil -termasuk ayahku- berlarian riang di pantai, bermain kejar-kejaran, bermain sepakbola, membuat istana pasir, ataupun mencari kepiting kecil.
Pantaiku tidak pernah sepi sejak zaman kakek dulu. Begitu kata ayah suatu ketika.
Sebagian besar penduduk kampungku bekerja sebagai nelayan. Yang lain berdagang di kota. Setiap pagi selepas shubuh, para nelayan berduyun-duyun menuju pantai. Menyiapkan perahu, menata jala dan keranjang untuk tempat ikan. Setelah itu, mereka akan melayarkan perahu mereka ke Laut Mediterania. Tempat di mana Allah menunjukkan kuasaNya, menundukkan kolam air maharaksasa untuk manusia mencari nafkah dan memakan hasil buruan mereka agar mereka bersyukur.
Tidak dengan bom atau peluru. Tidak pula racun. Begitulah cara nelayan kampungku bersyukur. Mereka hanya menggunakan jala sebagai alat untuk berburu ikan. Sejak dulu.
***
Pantaiku masih indah. Meski pagar pohon kelapa ditepiannya semakin sedikit, tumbang dihantam buldozer-buldozer yang entah dari mana asalnya, sehingga hanya menyisakan beberapa batang saja.
Tiap sore, anak-anak kecil -termasuk aku- masih berlarian, namun tidak lagi dengan riang. Mereka bermain dengan perasaan takut yang menghantui. Takut dengan suara dentuman yang memekakkan telinga yang akhir-akhir ini sering terdengar.
Buldozer-buldozer yang dulu menumbangkan pohon kelapa di pantai kini mulai mengarah ke arah kampungku. Sekarang penduduk kampung sudah tahu kalau itu buldozer milik Israel yang ditujukan untuk menghancurkan rumah-rumah penduduk. Mereka tahu dari penduduk yang berdagang di kota. Kata mereka, di kota juga banyak buldozer seperti itu dan menghancurkan rumah-rumah di sana.
Pantaiku mulai sepi. Ah, bukan, kampungku mulai sepi. Ini karena banyak penduduk kampungku yang pergi ke luar kota atau ke negeri sebelah. Mengungsi, kata ayah di lain waktu.
“Ayah kenapa tidak ikut pergi?” tanyaku saat itu.
Ayah menatap laut dan menggelengkan kepalanya. Tidak.
Penduduk kampung yang bertahan -seperti ayahku- tetap menjadi nelayan, berburu ikan. Setiap pagi sehabis shubuh, mereka masih setia dengan perahu-perahu mereka, menyiapkan jala dan keranjang sebagai tempat ikan. Setelah itu, seperti biasa, mereka mulai berburu ikan di Laut Mediterania. Hanya jala bekal mereka untuk menjaring ikan-ikan, bukan bom atau peluru juga racun.
Di tengah laut, mereka sering berpapasan dengan kapal yang lebih besar dengan suara yang menderum-derum. Kapal itu mungkin sedang berburu ikan juga di sini. Pikir penduduk kampungku. Ikan di perairan dalam mulai sedikit, jadi kapal itu beralih mencari ikan di sini. Pikir penduduk yang lain. Tapi aneh, kapal itu tidak memilik jala, kapal itu justru memiliki senjata di haluan dan buritannya, senapan mesin. Dan kapal itu sering menembaki perahu-perahu nelayan. Akhirnya mereka tahu, kapal itu milik Israel.
Apa salah kami sampai mereka menembaki kami? Kami hanya nelayan.
Laut ini milik Allah. Kami hanya berburu ikan untuk menafkahi keluarga kami. Memberi makan anak-anak kami. Kami tidak menyimpan peluru, tapi kenapa mereka menembaki kami dan perahu kami? Tanpa perahu, bagaimana kami bisa berburu ikan? Keluh ayahku pada kesempatan lain.
Mulai saat itu, ayahku tahu kalau Israel ingin mengusir kami pergi dari tanah kami.
***
Pantaiku tetap indah. Meski sudah tidak ada lagi pohon kelapa di tepiannya. Meski rumah-rumah penduduk kampungku telah hancur dihantam buldozer-buldozer Israel. Luluh lantak berkeping-keping.
Meski perahu-perahu kami banyak yang karam ditembak kapal-kapal Israel. Meski tidak ada lagi anak kecil yang berlarian riang atau bermain sepakbola. Namun pantaiku masih tetap indah. Akan tetap indah, tepatnya.
***
Sebuah ledakan membangunkanku. Suara itu, dentuman yang begitu keras telah membangkitkan kesadaranku setelah beberapa menit terpejam saat dzikir selepas shalat ashar tadi. Aku bermimpi lagi tentang kampungku.
Suara itu berasal dari utara. Ya, kampung sebelah utara tempatku berada sekarang sedang dibombardir oleh tentara Israel. Aku bangkit, bergabung dengan pemuda Palestina lain. Menyongsong senapan kalashnikov-ku. Kemudian menyusuri gang-gang di jalanan kota Rafah. Mencari tempat strategis untuk membidik tentara-tentara Zionis.
Takbir berkumandang di langit Rafah. We will not go down.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Salman Rafan Ghazi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.