
Pelangi » Pernik | Ahad, 27 Desember 2009 pukul 18:05 WIB
Penulis : Dikdik Andhika Ramdhan
"Akulah laki-laki paling bahagia!"
Andainya tak kusadari kalau kamar kontrakan kami bersebelahan dengan kamar-kamar lainnya, ingin rasanya aku berteriak lantang kepada dunia bahwa, "Akulah laki-laki paling bahagia!"
Seakan berada dalam mimpi, aku masih menepuk-nepuk wajahku sesaat setelah tadi dokter itu menyampaikan ucapan selamatnya kepada kami.
Ya, lima tahun berada dalam jalinan suci sebuah ikatan rumah tangga, tanpa kehadiran seorang buah hati di antara kami, kadang menjadikan diri ini lupa mensyukuri semuanya. Kami merasakan kehampaan dalam melalui hari-hari bagai berada dalam sebuah kebahagiaan yang semu.
Matahari senja di hari kedua Ramadhan itu kini mulai beralih ke ufuk sana. Lembayung jingga menyinari dunia, menyeruak di balik awan. Sinar keemasannya mengintip kebahagiaan kami dari balik celah pintu kamar kontrakan ini.
Bagai sebuah istana yang gemerlap dengan berjuta cahaya, itulah kini sebuah ruangan yang tak lebih dari hanya berukuran 3x6 meter itu menjelma. Berbalut bahagia di setiap sisi daripadanya. Permadani kebahagiaan terhampar di setiap jejak yang kami pijak.
Seorang putri nan cantik jelita yang duduk di singgasana itu kini tersenyum kepadaku. Sungguh, ia bagai bidadari dari surga yang hadir di dunia.
Alhamdulillah, ya Rabb.
Berkali kulafadzkan syukur atas segala karuniaMu yang begitu luar biasa ini. Sebuah jawab atas selaksa pinta untuk waktu yang sekian lama. Kini semua terjawab sudah. Insya Allah tidak kurang dari tujuh purnama lagi ruangan ini akan bertambah ceria dengan kehadiran buah hati kami yang pertama.
Raut bahagia tak lengkang dari pesona paras bidadariku. Tak mampu aku merasakan betapa bahagianya ia, menjadi seorang wanita paling sempurna yang tak lama lagi akan menjadi seorang ibu dari anak kami.
Aku raih ponselku, kukabarkan kebahagiaan ini pada ibu dan mertuaku. Sesaat kemudian mereka menghubungi kami, menyampaikan ucapan kebahagiaan yang tak pernah kami dapatkan sebelumnya. Subhanallah, betapa bahagianya mereka. Seorang cucu pertama mereka kelak akan melengkapi suasana bahagia setiap kami berada di sana.
Untuk sekian waktu lamanya, kami seakan merasakan kehadiran surga dalam kehidupan kami.
Aku kecup kening istriku dengan penuh mesra, ia membalasnya dengan sebuah senyuman tulus yang terlahir dari kesucian hatinya. Sungguh, akulah laki-laki paling bahagia!
***
"Astaghfirullah!"
Aku tersentak kaget. Untuk sekian waktu aku terdiam, dan mengingat semuanya.
Rupanya aku tertidur selepas tarawih tadi. Aku masih mengingat-ingat semuanya. Dan...
"Istriku?"
Serentak aku meraih sebuah amplop di atas meja di sudut ruangan ini. Aku buka sebuah kertas di dalamnya dan kuyakinkan untuk kubaca satu-persatu dari huruf-huruf yang tertera padanya.
"Alhamdulillah, ini memang bukan mimpi," gumamku.
Aku pandang wajah ayu yang terlelap di atas sehelai kasur lipat itu. Ada tetes basah di ujung pelupuk mata ini.
Seorang mantan mahasiswi teladan di kampusnya, namun ia rela menjadi seorang istri dari seorang yang kini tak lebih dari seorang pengangguran sepertiku. Seorang istri yang dengan keikhlasannya mengarungi hari-hari dengan segala keterbatasan kami melewatinya.
Hampir saja aku mengeluh dan bertutur, mengapa Allah mengkaruniakan ia, buah hati kami, disaat aku seperti ini?
Jarum jam baru bertambat di angka satu. Dini hari kini menjelma. Sepi, hanya suara jengkrik dan binatang malam terdengar di kejauhan sana.
"Belum tidur, kak?"
Tiba-tiba tangan lembut itu berlabuh di pundakku. Aku menolehkan wajahku. Aku hanya tersenyum menjawab tanya dari ia, sang bidadari.
"Ada apa?" ia kembali bertanya.
"Entahlah, kakak takut, Rin. Kakak takut nanti tak mampu membahagiakan buah hati kita disaat ia hadir di tengah-tengah kita," jawabku.
Ada yang terasa berat aku rasakan saat itu dalam dada ini. Hanya sebuah helaan nafas panjang yang tercipta sesaat kemudian.
"Kak..."
"Kehadiran buah hati kita kelak tak akan Allah sia-siakan, Insya Allah ia hadir seiring dengan rezekinya juga."
Aku bangga memiliki istri seperti Arini. Memang garis-garis keshalihan yang berbalut kecerdasan masih nampak jelas dalam setiap tutur, ucap, dan sikapnya. Aku tidak akan pernah khawatir jika kelak buah hati kami berada dalam bimbingan serta kasih dan sayangnya. Sungguh aku sangat menyayanginya.
***
5 Ramadhan 1428 H,
Entah harus gembira ataukah aku harus bersedih. Ketika temanku mengabari aku lewat SMS, bahwa aku diterima bekerja di perusahaannya. Hari ini pula aku diminta untuk segera bergabung dengan mereka menjadi seorang tenaga pemasangan listrik di beberapa daerah pelosok yang sampai saat ini belum terjangkau aliran listrik.
Jika aku menerima pekerjaan itu, berarti aku harus rela berpisah dengan istri dan calon buah hati kami untuk sekian waktu lamanya ketika tugas mengharuskan aku ke luar kota. Aku sampaikan kabar ini pada istriku. Namun sekali lagi, ia memang seorang istri yang bijak.
"Insya Allah, di mana pun kita berada, Allah akan senantiasa melindungi hambanya, kak," ujarnya.
Bagai embun di pagi hari, dalam setiap kata yang terlontar daripadanya, aku rasakan kesejukan yang sangat berarti.
Sampai akhirnya, hari itu pula kami harus berpisah, aku lafadzkan do'a di dekat calon buah hati kami.
"Ayah pergi dulu ya, nak. Jaga ibumu." Istriku tersenyum. Sebuah do'a mengiringi kepergianku dari ia, sang bidadari hatiku.
***
10 Ramadhan 1428 H,
Mentari pagi mulai menyinari hari di ujung kota Tasikmalaya. Ini adalah hari kelima ku berada di sini. Entah, sampai lima hari ini aku masih belum bisa merasakan ketenangan hadir dalam hati ini. Selalu ada tanya bagaimana kabar istri dan calon anakku saat ini?
Temanku mencoba menghiburku dengan berujar bahwa katanya wajar hal itu aku rasakan, karena memang ini kali pertamaku untuk berpisah dengan ia disaat kebahagiaan menyelimuti kami.
"Berdo'a saja, titipkan ia kepada yang Maha Memilikinya," katanya.
Aku tahu hal itu, namun konsentrasiku benar-benar belum bisa diajak kompromi.
Hingga tiba-tiba sebuah kabel yang tadi belum sempat aku sambungkan jatuh dan menimpa tepat di tubuhku.
Sekejap aku merasakan kejang yang tak terkira. Malaikat Izrail seakan menampakkan wujudnya di hadapanku. Berjuta perasaan mengingat dosa hadir saat itu, "Ya Rabb, ampuni aku, ya Rabb,"
Aliran listrik itu masih menyengat tubuhku. Aku teringat calon buah hatiku, "Aku tak ingin ia hadir tanpa pernah merasakan belai kasih sayangku, ya Rabb."
Seluruh tubuhku terasa kaku, tak mampu aku gerakkan sedikit pun, sampai akhirnya, "Bukkkkk!!!"
Sebuah batang kayu itu membuatku terpelanting dan jatuh. Aku tak sadarkan diri untuk beberapa hari.
***
21 Ramadhan 1428 H,
Aku memang tak ingin istriku mengetahui tentang apa yang telah terjadi padaku. Aku khawatir akan mempengaruhi pada janin yang sedang ia kandung di rahimnya.
Namun, sesaat kemudian ponselku berdering.
"Istrimu masuk rumah sakit, nak," ujar ibuku di ujung sana.
Sungguh, tubuh ini terasa lunglai, dunia serasa dalam guncangan yang mahadahsyat. Aku terjatuh.
***
29 Ramadhan 1428 H,
Mata ini terasa penat, namun aku tak mampu memejamkannya. Di hadapanku terbaring lemah sesosok bidadari. Sebuah jarum infus menancap di lengan kanannya. Hanya tetesan air infus yang masih mampu masuk dan meresap ke dalam tubuhnya.
Sudah sembilan hari ini kesehatannya menurun drastis. Dokter mengatakan ia menderita komplikasi beberapa penyakit yang ternyata kondisinya sudah cukup kritis.
Sembilan hari ini aku merasakan satu persatu penurunan kondisinya. Dari mulai pudarnya keceriaan dari wajahnya, kemudian ia tak mampu menggerakkan tubuhnya sendiri, lalu pandangannya yang mengabur, sampai akhirnya saat ini, ia tidak mampu lagi berkata, entahlah, sepertinya kini ia pun tidak lagi mengenali kami.
Aku masih memohon kepadaMu, ya Rabb. Karena jauh dalam lubuk hati ini, aku yakin, Engkau-lah Yang Mahasegalanya. Jika tak sulit untukMu membalikkan dunia ini, maka aku pun yakin bahwa tak akan sulit untukMu mengembalikan kesehatan pada ia, bidadariku.
***
30 Ramadhan 1428 H,
Sinar matahari kini menerobos dari balik jendela rumah sakit.
Aku menatap bisu perubahan dalam wajah istriku. Subhanallah, wajahnya kini mulai kembali berseri. Ia sungguh cantik. Aku bersyukur padaMu, ya Rabb. Ia kembali.
Matanya seakan menangkap gerak tubuhku, aku mendekatinya. Kubelai rambutnya, dan kuberucap di dekatnya, "Kau kembali, sayang."
Bibir manisnya bergerak dan berkata, meski terbata, "Maafkan Rini, kak."
Aku raih tangannya, kupegang erat. Ia pun mencengkeram erat tangangku pula.
Namun...
Sedikit demi sedikit cengkeraman tangannya mulai melemah, sampai akhirnya...
Aku tak mampu menahan tangis ini, "Inna lillaahi wa inna ilaihi raa'jiuun..."
***
Gema takbir masih membahana di seluruh persada. Namun aku hanya terdiam, kaku, dan bisu. Seonggok tanah merah bertabur bunga kini tersungkur di hadapanku.
"Ya Rabb, aku yakin sebesar apa pun rasa sayangku padanya, namun kasih dan sayangMu lebih pantas untuk memanggilnya kembali berada di sisiMu. Namun, izinkanlah hati ini berharap dan meminta, aku titipkan ia padaMu, ya Rabb. Terimalah ia dalam balutan rahmat dan ampunanMu. Kuatkan hati ini menerima semuanya, dan izinkanlah kami untuk kembali bersatu kelak di surgaMu. Aamiin."
***
Kupersembahkan untuk kakak sepupuku, Dani Hamdani. Semoga engkau tabah menerima ujian ini.
Jakarta, 7 Syawal 1428 H
Dikdik Andhika Ramdhan
KotaSantri.com © 2002-2012