|
HR. Muslim : "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada sosokmu dan hartamu, tetapi Dia akan melihat kepada hatimu dan amalanmu."
|

Ahad, 13 Desember 2009 pukul 18:15 WIB
Penulis : Puri Kusuma Dwi Putri
Mata Putri menerawang keluar jendela menatap langit. Ia duduk manis di dekat jendela, tak lama Adzan Ashar berkumandang memanggilnya. Setelah ia shalat ashar, segera ia melipat mukena dan sajadah, kemudian bersiap-siap pergi.
Tepat 10 Muharram, hujan membasahi kota di mana Putri dibesarkan. "Semoga Allah memberkahi bumi ini," batinnya pelan. Ia jadi teringat tausyiah dari Ust. Mun'im, banyak sekali peristiwa penting yang terjadi pada hari Asyura, di antaranya adalah pertama kali rahmat Allah SWT turun ke dunia dan pertama kali hujan turun dari langit.
Tampak Putra, saudara kembar Putri, yang sedang membaca majalah. Lalu ia menyapa Putri, "Gimana, neng, jadi ke panti asuhan nggak?"
"Iya dong, jadi, insya Allah," kata Putri tegas.
"Kan ujan tuh?"
"Ya gak masalah. Kita bawa mobil aja. Hari ini kan lebarannya anak yatim," ucap Putri sambil menatap mata Putra. "Buruan yuk, ntar keburu buka puasa."
Mereka sudah duduk manis di mobil, Putra segera menyetater mobil dan kemudian mengendarainya dengan pelan.
"Kita ke panti asuhan yang di mana?" tanya Putra.
"Panti Asuhan 'Putri Mulia' aja yang ada di jalan Bulu Stalan," jawab Putri.
Hujan tetap setia membasahai kota Lumpia. Tetapi mereka tetap semangat mencari panti asuhan 'Putri Mulia'. Rumah nomor 20 tampak asri dari luar.
Putri segera keluar dari mobil.
"Assalamu'alaikum... Assalamu'alaikum..." sapa Putri sambil mengetuk pintu.
Tak lama kemudian suara kaki terdengar dari dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam..." jawab seorang anak sambil membukakan pintu.
"Ibu ada, dek?" tanya Putri.
"Ada, mbak. Tunggu sebentar ya."
Adek kecil itu mempersilahkan Putri dan Putra untuk duduk.
Sambil menunggu Ibu pemilik panti asuhan tersebut, mereka duduk di kursi tamu sambil ngobrol. Tiba-tiba muncul putri-putri kecil lainnya dari dalam kamar. Usia mereka sekitar 6 tahunan, sedangkan yang paling besar ada yang sudah kuliah.
Mereka segera bersalaman kepada Putra dan Putri. Wajah anak-anak di panti asuhan itu bercahaya dan jilbab menghiasi kepalanya. Putri tak sanggup menahan butiran yang keluar dari pelupuk matanya. Ia merasa bersyukur masih ada Bunda dan Ayahnya yang menemani sampai sekarang, yang men-support-nya, yang memberikan kasih sayang, yang mendirikan istana untuknya. Ia hanya bertanya dalam hatinya, "Bagaimana dengan putri-putri kecil itu? Mereka juga buah kasih sayang dari kedua makhluk Allah, mereka hanyalah anak kecil tak berdosa."
Mereka mungkin tak tahu siapa orangtuanya dan bagaimana bentuk wajah orangtuanya. Wallahu a'lam. Jelas terukhir wajah dari putri-putri kecil itu, betapa mereka butuh kasih sayang, cinta, belaian, dan segalanya, tetapi mereka tetap tersenyum manis.
Tak lama Putri mengusap air matanya, wanita berusia 70-an tahun muncul dari balik tirai, beliau tampak anggun dengan balutan jilbabnya yang lebar muncul menemui mereka. Putri dan Putra hanya ingin melihat bagaimana kehidupan di panti asuhan dan ingin bersalaman dengan anak-anak yatim piatu tersebut.
Sabda Rasulullah, "Barangsiapa mengusap kepala anak yatim atau berbuat kebaikan kepda mereka pada hari Asyura, maka sepertinya ia telah berbuat baik kepada segenap anak yatim keturunan Nabi Adam AS."
Setelah berpamitan dengan Ibu pemilik yayasan panti asuhan, Putri dan Putra segera pulang ke rumah.
Putri merenung. Ia tenggelam dalam lagu "Untuk Rena" yang dinyanyikan oleh Mocca.
Hanya satu pintaku
Melihat langit biru
Di pangkuan
Ayah dan ibu
Cinta untuk Bunda dan Ayah
Terima kasih atas istana yang dibangun untuk kami
16 Muharram 1427 / 4 Februari 2007
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Puri Kusuma Dwi Putri sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.