QS. Al-'Ankabuut : 64 : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."
Alamat Akun
http://12345.kotasantri.com
Bergabung
23 April 2009 pukul 03:58 WIB
Domisili
Jakarta - DKI Jakarta
Pekerjaan
Penulis Freelance
Penulis buku Bela Diri for Muslimah : Siapa Bilang Perempuan Makhluk yang Lemah. Untuk bersilaturrahim, silakan kunjungi : http://sebuahrisalah.multiply.com atau FB / Imel : bujangkumbang@yahoo.co.id
Tulisan Fiyan Lainnya
Mahasiswa Ampas
28 Oktober 2009 pukul 16:30 WIB
Miyabi dan Otak Nakal Lelaki
17 Oktober 2009 pukul 16:09 WIB
Usah Kau Lara Sendiri, Ukhti
4 Oktober 2009 pukul 15:00 WIB
Lebaran Tidak Lewat Sini
13 September 2009 pukul 15:45 WIB
Berbuka atau Pesta?
4 September 2009 pukul 16:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 6 Desember 2009 pukul 17:00 WIB

Emak

Penulis : Fiyan Arjun

Ah, Emak! Semua kenangan manis itu membuatnya sedih. Siapa yang dapat disalahkan, kalau seorang manusia yang dikandung selama sembilan bulan lamanya, ternyata watak dan karakternya sangat berbeda dengan Rosma. Bagai langit dan bumi!

Dengan gontai, Rosma berlari-lari kecil menerobos gelapnya terowongan kecil di rumah sakit. Paras cantiknya berubah menjadi pucat. Pandangannya nanar seperti menyimpan sebongkah penyesalan. Setelah sampai di salah satu ruang rawat, ia terkejut ketika di ruang rawat ada seseorang yang akan meregang nyawanya. Ia terus memandangi ruang rawat. Ruang di mana seorang perempuan tua terkulai lemas tanpa daya. Emak. Ya, Emak!

Ruang rawat itu terasa suram. Menyerupai suasana hati Rosma kala itu. Betapa bedanya ruangan itu. Di mana Emak dirawat dengan tempat Rosma bekerja. Wangi dan ber-AC, semua menyiratkan aura kebahagiaan dan kesuksesan seorang Rosma. Tidak seperti tempat Emak dirawat. Berbagai bau obat-obatan dan tabung-tabung oksigen yang berjajar menjadi penopang hidup. Begitulah Rosma berdesah ketika mereka memasuki ruangan yang ia benci.

Di hadapannya terbaring lemah sosok yang sangat familiar. Dan bagian itu merupakan dari gambaran Rosma. Bentuk wajahnya yang tirus selalu ia lihat jika Emak bercermin, jari-jari yang dimilikinya juga ia miliki. Begitu pun bibirnya yang pucat adalah bibir milik Rosma. Sosok itulah yang membuat dirinya marah, sekaligus sedih. Rasa rindunya yang membuncah sehingga Rosma putus asa untuk melupakannya. Dialah orang yang selama ini membuat dirinya menjadi seorang wanita sukses dalam karirnya. Emak!

"Nduk, kamu nggak kerja," lirih Emak pelan ketika terbangun lalu membelai rambut Rosma dengan lembut.

"Rosma kerja kok, Mak! Tapi hanya separuh hari," jawab Rosma setelah menatap Emak yang pucat pasi. Bagai orang terkena anemia.

"Emak nggak usah banyak bergerak. Biar Rosma saja yang mengambil apa yang Emak mau," ujar Rosma berusaha menenangkan hati Emak.

***

Rosma tak habis mengerti kenapa ia selalu bertengkar dengan Emak. Segala sesuatu yang akan dilakukannya seakan salah di mata Emak. Begitu juga sebaliknya. Apa pun yang Emak katakan, bagi Rosma tidak logis, tak masuk akal. Semua peraturannya kolot, kuno, dan mengekang. Tapi Emak yang ada di hadapannya kini berbeda sekali.

Setiap hari, Rosma terus berdebat panjang lebar. Perdebatan itu hampir sering berakhir dengan tangisan dan permusuhan. Di mata Emak, mungkin Rosma sudah dicap anak durhaka. Sedangkan di mata Rosma, Emak adalah orangtua yang mau menang sendiri. Egois!

Ugh! Rosma dongkol setengah mati. Kolot, kuno, dan ungkapan-ungkapan yang tidak pantas dilontarkan ke luar dari bibir mungil Rosma.

"Emak sudah bilang jangan! Jangan! Sebab kamu bukan muhrimnya bergaul dengan siapa itu?"

"Raja, yang Emak maksud?"

"Ya, benar!" jawab Emak ketus kepada Rosma.

"Padahal teman-teman Rosma tidak seperti itu, seperti yang dikatakan Emak, selalu ke luar malam tanpa tujuan dan sebagainya."

Dua jam sudah waktu Rosma habis untuk berdebat kusir dengan Emak. Entah melantur ke mana-mana. Akhirnya Rosma berhenti bertengkar setelah dirinya marah, ketika Emak menyebutnya dengan anak yang tidak bisa diatur.

"Pasti kamu nanti tidak akan menjadi apa-apa. Hanya jadi anak liar!" kata-kata Emak kasar. Menyakitkan.

***

"Tidak Emak, tidak Mbak Siska, semua sama saja. Apakah begitu sikap orang dewasa? Selalu menasehati. Dan selalu inilah-itulah," gerutu Rosma sambil masuk ke kamar lalu menangis sambil membenamkan wajahnya ke bantal.

"Sudahlah, Ros, Emak pasti lagi capek. Mungkin hari ini dagangannya kurang laku," hibur Mas Arya, kakak Rosma yang paling sulung sambil membelai rambutnya.

"Tapi semua kata-kata Emak, tidak adil, Mas!" kata Rosma berapi-api. Sesak oleh emosi.

Tapi kapan Rosma bisa meraih kebebasan seperti wanita lain. Apakah sayang itu membelenggu? Bukankah sayang itu artinya memberikan kepercayaan penuh. Apakah karena Emak pernah ditinggal sama bapak, sehingga dia tidak pernah mempercayai orang lain.

"Bukan salah aku, Mas, kalau Bapak meninggalkan Emak. Kenapa aku yang tersiksa tidak pernah merasakan kebahagiaan?" isak Rosma lagi kepada kakaknya. Mas Arya, kakak pertama dari keluarga Rosma itu hanya terdiam melihat Rosma tak seperti biasanya.

Rosma sedang kesal pada orang rumah. Tak peduli siang dan malam selalu begitu kebiasaannya. Entah sudah yang keberapa kalinya Rosma memberikan penjelasan kepada Emak tentang hubungannya dengan Raja. Raja, cowok yang baru sebulan Rosma kenal lantaran Aisah, teman baiknya itu, memperkenalkannya pada saat di kampusnya mengadakan acara bazaar peduli kemanusiaan. Itu pun Rosma hanya menganggapnya sebagai teman biasa. Tidak lebih dari itu.

Ini terhitung sudah ketiga kalinya Rosma mendapatkan larangan dari Emak maupun Mbak Siska, kakak kedua darinya.

"Ros, seharusnya kamu pikirkan kuliahmu. Bukannya keluyuran ke mana yang tidak ada gunanya," ujar Emak saat Rosma masih di bangku kuliah.

Apakah Rosma salah kalau mencintai masa remaja saat itu? Apakah salah Emak, sebagai orangtua yang melindungi anaknya, sedangkan anaknya semakin besar dan mulai memilih keinginannya sendiri? Terkadang Rosma suka berkhayal tentang hubungannya dengan Emak rukun. Nyatanya sulit bagi Rosma menyatukan persepsi antara dirinya dengan Emak. Dan semakin banyak tanda tanya. Mengapa? Rosma semakin sadar.

***

"Emak, saat ini Rosma sudah di sisimu, sementara kau tertidur tak berdaya dalam mimpi-mimpimu dan rambut putihmu melekat di dahimu menyatu dalam peraduan," lirih Rosma.

Di salah satu ruangan di rumah sakit itu, Rosma melihat Emak kembali. Tubuhnya yang kurus dan raut wajahnya yang tirus, membuat hati Rosma hancur dan menyesal. Rosma kembali memegang tangannya yang sudah berkerut. Emak hanya diam seribu bahasa yang membuat tak mengerti apa yang diisyaratkan padanya. Dan sorot matanya yang kosong menggambarkan bahwa Emak sangat mencintai dirinya. Sehingga setiap detik demi detik, bunyi pendeteksi detak jantung membuat Rosma selalu bertanya-tanya. Tetapi kekerasan di hatinya masih menyirat di sana. Dan mulut Emak belum mampu mengucapkan sepatah kata. Sedangkan airmata yang bersumber dari muara mata, tak sengaja mengalir di pipi Rosma. Entah airmata kerinduan atau penyesalan? Rosma mengusap. Pertahanan Rosma berusaha menahan isak tangis yang mendesah dari tenggorakannya. Tapi tidak bisa! Airmatanya terus mengalir tak terbendung lagi.

"Rosma sayang Emak!"

Akhirnya Rosma hanya mampu mengucapkan kalimat itu sambil kembali menggenggam tangannya yang dingin sedingin salju. Emak tak menolak saat Rosma memohon maaf padanya. Ia tetap membisu biru. Lalu nafasnya berlomba-lomba dengan kehidupan nyata. Lalu genggaman tangannya terlepas dari tangan Rosma.

Sebelum Emak menutup matanya, Rosma masih ingat saat Emak mengatakan sesuatu padanya, "Emak percaya, kamu bukan wanita cengeng. Hampir sebulan kita menangis bersama-sama. Tidak perlu diperpanjang lagi. Kita sudah berusaha menemukan jawabannya. Tapi itu semua percayakan saja kepada Yang Mahakuasa. Mungkin di sana nanti tempat Emak lebih lapang dibanding saat ini dan juga kamu tak lagi memikirkan Emak, Ros," lirih Emak.

Saat itu, Emak memandang Rosma tidak seperti biasanya. Tidak ada kemarahan dalam kata-katanya. Seakan-akan Emak sedang menceritakan kegiatan sehari-harinya. Begitu datar, hati Rosma semakin miris mendengarnya.

"Emak akan pergi selama-lamanya hari ini. Sebelum Emak tak kuasa memandang Rosma, Emak percaya kamu akan sanggup menghadapi hari depanmu kelak tanpa Emak."

Begitulah nasehat yang disampaikan oleh Emak kepada Rosma sebelum kelopak mata Emak tertutup. Sungguh, bagi Rosma, bagai pemandangan yang sangat menyakitkan sekaligus menyedihkan.

***

Di pemakaman Emak, semilir angin dan semerbak bunga kamboja terasa lebih kuat. Daun-daun serta rerumputan di sekitar pemakaman itu bagai tangan-tangan tengadah mengharapkan ampunan Emak dari Yang Mahakuasa. Ya, siapa lagi kalau bukan untuk Emak. Tapi kini, Emak...

"Sudahlah, Ros, tabahkan hatimu. Mungkin ini jalan terbaik untuk Emak."

Rosma mendengar samar-samar suara dari belakang ketika memanjatkan do'a di atas makam Emak. Lalu Rosma menoleh mencari asal suara itu.

Ternyata suara itu berasal dari teman baiknya, Aisah, dan seorang lelaki berbaju koko warna hitam gelap yang tak lain adalah Raja. Ya, Raja. Cowok yang ia kenal atas jasanya di kampus. Sudah hampir tiga tahun mereka tak pernah bertemu dengannya. Semenjak Rosma mendapatkan gelar sarjana di kampusnya.

"Sori ya, Ros, kita-kita baru tahu," kata Aisah mewakili.

"Sudahlah, Ros, kita yang masih hidup sekarang ini harus menjalani segala apa yang almarhumah wasiatkan padamu," timpal Raja memberikan semangat kepada Rosma.

Ucapan Raja seakan-akan membuat Rosma berpikir untuk melakukan suatu hal terhadap maksud Emak.

Emak memanglah seorang istri dan juga seorang ibu yang benar-benar patuh pada suaminya serta adat yang selama ini mereka tanamkan pada diri Rosma. Walau sebenarnya Emak pernah disakiti oleh seorang laki-laki yang tak lain Bapaknya sendiri. Entah di mana keberadaan Bapaknya. Rosma tidak pernah mengetahuinya, di mana lelaki itu berada. Ia tahu bapaknya masih hidup. Itu pun dari pemberitahuan tetangga dekatnya yang melihat Bapaknya bersama wanita lain. Tak lain istri keduanya dan bersama seorang anak kecil.

Adzan Maghrib membuyarkan segala kenangan Rosma bersama Emak. Saatnya Rosma kembali menunaikan perintahNya. Bermunajat atas kekuasaanNya. Hanya do'a-do'a yang ia haturkan kepada Sang Khalik untuk disampaikan kepada Emak yang ia cintai.

Rasanya Rosma berat untuk melangkahkan kakinya meninggalkan Emak di sana. Dilewatinya tapak demi setapak di sekitar pemakaman Emak bersama Aisah, Raja, dan teman-temannya semasa kuliah dulu yang sedari tadi menemani Rosma. Hanya kebisuan yang tampak di mata Rosma ketika ia meninggalkan makam Emak.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fiyan Arjun sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Syahroni | Swasta
Subhanallah, KSC sangat bermanfaat bagi seorang hamba yang ingin menjalin silaturahim guna mencari keberkahan hidup. Saya juga berharap kiranya media ini bisa membantu saya dalam mengelola panti pendidikan anak-anak yatim.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1012 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels