|
HR. At-Tirmidzi : "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak."
|





Ahad, 27 September 2009 pukul 18:00 WIB
Penulis : Puri Kusuma Dwi Putri
Pabila kuberada
Di kejauhan
Adakala kesepian
Asyik terkenang kampung halaman
Dan jua teman-teman
Dikala itu kan kurasa
Agak kelemahan
Untuk berjuang
Melihat mereka berbahagia
Di samping
Yang tercinta
Kegembiraan ku
Kesepian
(Brothers - Sepi Perantau)
Suasana Munster sepi, tenang, dan pagi itu sangat dingin sekali. Aku berdiri di depan jendela sambil melempar pandangan ke luar melihat pohon-pohon, ranting yang mengering satu persatu. Betapa indahnya mereka menghiasi alam ini. Aku ditemani alunan musik dari "Brothers" yang membuat hatiku mengharu biru. Mataku tertuju pada sebuah pohon yang sangat tinggi, tiba-tiba aku teringat lebaran dua tahun yang lalu bersama keluargaku di Indonesia. Saat ini aku tak bersama mereka, sangat jauh beribu-ribu kilometer dari mereka.
Ya, saat ini aku berada di salah satu kota Pak Hitler. Munster adalah salah satu kota kecil nan tenang di negeri Mr. Hitler yang terletak di Jerman Barat. Aku pun dapat menghitung dengan jari berapa jumlah orang Indonesia yang berada di Munster dan berapa jumlah orang Indonesia yang beragama Islam. Dua hari lagi aku akan menyambut hari Raya Idul Fitri, hari kemenangan umat Islam, hari yang aku tunggu-tunggu.
Sehari sebelum Lebaran, aku mendapat SMS dari keluarga Pak Wawan di Munster. Mereka memberitahukan bahwa di Gymnasium akan diadakan shalat Ied. Walaupun sudah 11 bulan aku di Munster, tapi aku belum pernah dengar di mana letak Gymnasium tersebut. Kuputuskan keesokan harinya untuk berangkat bersama mereka menuju ke tempat shalat Ied. Shalat Ied diadakan di Polynom Gymnasium.
Hari yang dinantikan tiba. Suara Handy membangunkan tidurku. Aku melihat layar Handy, ternyata kakakku. Ooohhh, Kakakku yang berada di belahan bumi Jerman bagian Selatan menelponku, "Mohon maaf lahir bathin, neng," kata kakak yang berbicara dengan nada bahagia.
"Iya, sama-sama. Maaf lahir bathin. Dan maaf, aku tak bersamamu Lebaran kali ini," jawabku terbata-bata karena aku menahan butiran-butiran hangat yang membasahi pipi.
Terdengar 'backing vocal' dari suara handy kakakku, betapa ramainya di sana, dan aku mengenal suara-suara itu. Iya, suara teman-temanku seiman yang ada di Darmstadt. Aku yakin, mereka sedang menunggu kawan-kawan lainnya dan menuju ke Frankfurt am Main untuk shalat Ied bersama yang diadakan oleh kaum muslim Indonesia. Benar-benar heboh! Suara canda tawa kudengar dari kejauhan.
Setelah HP kumatikan, aku siap-siap menuju rumah keluarga Pak Wawan. Kuraih sepeda berwarna pink milikku yang tersandar manis di tempat parkir dan cepat-cepat aku mengayuh sepeda hingga sampai di kediaman Pak Wawan. Kuhirup udara segar yang menari-nari di sekelilingku. Hawa dingin tak hanya menusuk tulangku, bahkan menusuk relung hatiku. Kangen... Kangen... Kangen...
Pikiranku terlintas. Ingin rasanya kupeluk Mama, Papa, Eyang Ti, Adik-adik, dan si mbak. Sembari mengayuh sepeda, aku bertanya dalam hati, "Lebaran kali ini aku tak bisa berkumpul bersama mereka." Merasakan mudik bersama dan tradisi kami yang selalu lebaran di Solo. Meskipun aku besar dan berkembang di Semarang sejak kecil, tetapi sekali saja belum pernah aku lebaran di Semarang. Entah ada hikmah apa yang tersimpan, aku tak berlebaran bersama dengan salah satu anggota keluargaku.
8 menit berlalu. Alhamdulillah, aku sampai di Wohnung Pak Wawan. Beberapa saat kemudian, Bu Wawan, Pak Wawan, dan dua anaknya yang masih kecil segera mengambil sepeda. Kami segera berangkat menuju tempat shalat Ied. Perlahan-lahan kukayuh sepedaku, kutunggu Fifi, putri pertama Pak Wawan yang masih berumur 6 tahun yang ada di sampingku.
Pagi itu Munster benar-benar masih "tertidur" pulas. Sepi. Belum tampak orang-orang beraktifitas dan tak banyak kendaraan yang lalu lalang, hanya beberapa bus yang melewati Haltestelle.
Di perempatan jalan, aku bertemu Schwester, sudah lama aku tidak berjumpa dengannya. Kami saling pandang dan melempar senyum. Dia cantik sekali dengan jilbab merah maronnya dipadukan dengan gamis berwarna hitam. Aku melambaikan tangan ke arahnya, muslimah itu bernama Rhadiyah, berasal dari Portugal. Rhadiyah membalas senyum dan lambaian tangannya kepadaku, ia berjalan sambil mendorong Kinderwagen bersama suaminya.
Tak lama kemudian, kami sampai di tempat shalat Ied. Bangunan itu bukan mesjid, tak ada menara dan kubah. Kemudian kami kunci sepeda masing-masing. Setelah itu, kami segera masuk ke Gedung. Kami disambut dengan suara takbir yang menggetarkan hati kami. Damainya hati ini mendengar ayat-ayat cintaMu, ya Allah.
"Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar..." gema takbir terdengar dari luar. Damainya hatiku. Kau selalu menemani hambaMu di mana kami berada.
Bu Wawan, Fifi, Fadlan yang masih kecil, dan aku menuju ke lantai satu, tempat shalat untuk kaum wanita, sedangkan kaum pria melaksanakan shalat Ied di lantai dasar. Aku segera mencari tempat kosong. Kutemui Schwestern-ku lainnya.
"Ied Mubarak!!!! Wie geht es dir?"
Kami saling cium pipi kanan dan pipi kiri. Kujumpai teman-teman seimanku yang berasal dari Bumi Syria, Portugal, Afrika, bahkan kutemui teman-temanku orang Jerman. Mereka masih mengingatku, meskipun sudah lama aku "menghilang" dari mereka, karena amanah dari kampus yang harus kuselesaikan. Tampak keceriaan menghias wajah mereka. Melihat mereka, aku ikut larut bahagia bersama.
Terima kasih, Ya Allah. Aku bisa lebaran bersama mereka. Aula Gymnasium mayoritas diwarnai dengan wajah-wajah saudara-saudara kita dari Afrika, tak banyak wajah Asia yang kutemui. Kedua bola mataku mencari-cari wajah teman-teman dari Indonesia, sayang sekali aku tak menjumpai selain keluarga Bu Wawan.
Setelah shalat dan khutbah selesai, Scwestern dan Brudern membagi-bagi makanan manis-manis, permen, dan mainan untuk anak kecil. Lumayan untuk "menghibur" perutku yang kosong, lalu aku mengambil makanan manis khas Turki.
Lebaranku tahun ini telah berlalu, akankah kujumpai Lebaranku tahun depan?
"Dan orang-orang yang berjuang dalam (menunaikan hak) kami, niscaya kami tunjukkan mereka ke jalan kami, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Al-Ankabut ayat 69).
Munster, 2004
Alhamdulillah wa syukurillah...
Lebaranku kali ini tak bersama mereka
---
Keterangan
Gymnasium : SMU
Wohnung : Tempat Tinggal/Appartement
Schwestern : Sisters
Ied Mubarak : Selamat Hari Raya Idul Fitri
Wie geht es dir? : Bagaimana kabarmu?
Brudern : Brothers
Kinderwagen : Kereta dorong untuk balita.
Haltestelle : Halte bus
Handy : Handphone (HP)
Frankfurt am Main : Kota besar yang terletak di bagian selatan Jerman.
Darmstadt : Kota kecil di Jerman.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Puri Kusuma Dwi Putri sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.