Pelangi » Pernik | Ahad, 30 Agustus 2009 pukul 17:00 WIB

Takut Fitnah Karena Berjilbab

Penulis : Nurfaridah

"Di mana? Yang jelas lah!" terdengar suara kak Dela dari Ponselku meminta rute menuju rumahku saat ini.

"Depan gedung pertemuan, kak. Bilang aja sama Abang becak begitu. Insya Allah nyampe." jelasku panjang lebar.

Kantuk masih menyerangku. Kulirik jam. Jarum pendek di dalam lingkaran putih itu menunjukkan pukul 05.00 WIB. "Masih terlalu pagi," bathinku.

Handphone-ku berdering lagi.

"Aku dah nyampe neh."

Kakakku itu sebenarnya adalah teman akrabku semasa masih SLTP dulu. Tapi keakraban itu terus berlanjut hingga kini, saat aku telah berkeluarga. Kali ini ia datang ke kotaku hanya untuk berlibur, dan aku pun membuka pintu lebar-lebar atas kedatangannya.

Aku sangat bahagia berteman dengannya. Dia bisa mengerti aku dan tidak mempersoalkan dengan jilbab lebar yang mulai menutupi auratku. Perdebatan kecil kerap mewarnai percakapan kami, toh akhirnya lenyap dan menguap begitu saja untuk kemudian kami mulai lagi dengan perdebatan-perdebatan berikutnya.

Suatu kali, perdebatan kami mengena pada hal yang paling prinsipil, yakni jilbab yang sebenar jilbab. Aku tahu kalau dirinya menggunakan jilbab pada saat-saat tertentu saja dan dengan jilbab yang biasa-biasa alias cepak.

"Kak, kapan kakak mau istiqamah berjilbab?" tanyaku.

"Aku belum siap, Da. Hatiku belum terpanggil, shalatku masih nggak karuan!" jawabnya enteng.

Debat itu makin seru. Kak Dela mengatakan, dia malu jika ia berjilbab dengan rapih, namun kelakuannya tidaklah seperti jilbaber pada umumnya. Dia masih suka duduk-duduk di kafe, masih suka jalan bareng sama laki-laki bukan muhrim, bla... bla... bla....

"Kak, jilbab itu wajib, harus. Kalau menunggu terpanggil, kapan? Mending kalau dipanggil, kalau tidak?! Bukankah perbincangan kita ini juga (bukan) sebuah kebetulan, bisa jadi ini bentuk panggilan yang kak Dela tunggu itu?

"Entahlah, yang pasti, aku gak siap bertambah dosa dengan jilbabku nanti. Da, niat berjilbab itu ada dalam benakku dan itu akan aku laksanakan ketika nanti aku sudah bersih," katanya lagi membela diri.

"Apa?! Bertambah dosa? Dari mana datangnya dosa itu, kak? Coba jelaskan padaku! Lagian pake menunggu bersih. Kapan, kak Dela? Kakak pun tahu, aku ga bersih-bersih amat. Iya kan? Tapi kita perlu usaha, kak! Usaha memperbaiki diri. Ingat, "Sesungguhnya Allah tidak merubah suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. 13 : 11 ), begitu kan?" aku semakin semangat.

"Coba sekarang kita hitung dosa orang yang pakai jilbab dengan yang tidak pakai jilbab ya? Pake jilbab = Pahala. Pacaran = Dosa. Boncengan dengan lain muhrim = Dosa. Jalan-jalan pakai jilbab = Terjaga. Sekarang yang nggak pakai jilbab; Nggak pakai jilbab = Dosa. Pacaran = Dosa. Boncengan dengan lain muhrim = Dosa. Jalan-jalan gak pakai jilbab = Dosa dan tak terjaga. Nah, coba hitung mana yang lebih banyak dosa? 2 banding 4, kak," aku semakin menggebu-gebu.

"Kamu tahu bagaimana masyarakat kita, dik? Kita tahu kalau ada orang yang berjilbab, lantas ia berpacaran, apa nantinya aku tidak menjadi bahan fitnahan orang, yang akhirnya membawa dosa bagi orang lain? Apalagi orang kita sekarang makanannya gosip setiap hari. Iya kan?" dia tetap keukeuh membela diri.

"Jadi, kakak mau bilang kalo jilbaber itu gak pantes pacaran dan yang gak pakai jilbab boleh pacaran? Nggak lagi! Pacaran bagi yang pakai ataupun yang tidak pakai jilbab, itu sama-sama dosa kak. Trus, yang kakak takuti, kalo kakak pakai jilbab lalu pacaran, lantas kakak jadi bahan gosip? Gak, kak! Orang yang tanpa jilbab lalu pacaran juga kena gosip, karena orang-orang kita sudah kena virus gaya barat dan terlanjur melegalkan pacaran. Bukankah itu lebih berdosa, kakakku?"

"Iya juga seh. Tapi aku tetep belum bisa menggunakan penutup itu saat ini," ujarnya lemah.

"Ya sudah, pembahasan ini tak akan pernah berujung jika tidak dimulai dari hatimu, kak. Yang pasti, aku masih punya argumen yang bisa memukulmu telak!"

"Apa itu?" masih dengan nada lemahnya.

"Maaf, shalat lima waktu itu wajib, dan kak Dela melakukannya? Berjilbab juga sama wajibnya, kenapa kakak tak lekas melakukannya?" tanyaku.

Ia terdiam.

"Ah, sudahlah, terserah padamu. Aku cuma bisa berharap, semoga Allah berkenan membagikan cahaya itu."

Aku bangkit dan menarik tangannya.

"Yuk cari makanan, yuk! Dah laper neh."

Sejurus kemudian ia memandangku untuk kemudian kami tertawa tak mengerti.

KotaSantri.com © 2002-2012