HR. Ahmad & Al Hakim : "Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya. "
Alamat Akun
http://vivi_hn.kotasantri.com
Bergabung
7 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Hadano - Kanagawa
Pekerjaan
IRT
Keluarga adalah tempat untuk mencurahkan kasih sayang, menaburkan asa, dan menumpahkan keluh kesah. Keluarga bisa menjadi syurga dunia, bila diisi oleh orang-orang yang sholih dan sholihah. Keluarga adalah impian setiap insan, tempat berkembangnya putik-putik bunga..hingga mekar dan menebarkan wangi ke selilingnya..itulah keluarga barokah...
http://hifizahn.multiply.com
Tulisan Hifizah Lainnya
Ikigai (Semangat Hidup)
7 Agustus 2009 pukul 15:45 WIB
Menikmati Perbedaan
8 Juli 2009 pukul 16:49 WIB
Duhai Bunda, Kasihilah Anakmu!
20 Juni 2009 pukul 17:39 WIB
Jodoh
5 Juni 2009 pukul 16:09 WIB
Ja'im (Jaga Imej)
30 Mei 2009 pukul 20:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 16 Agustus 2009 pukul 18:00 WIB

Mama

Penulis : Hifizah Nur

Ada pelangi di mata mama ketika sampai di apatoku yang mungil. Binar-binar bahagia yang jarang kutemui di sepanjang masa-masa aku kecil sampai menikah. "Lelah tapi senang bisa berkunjung ke Jepang, mengunjungi anak, cucu, dan calon cucu," begitu kata mama. Kedatangan mama memang dalam rangka menyambut kelahiran cucu keduanya dariku, anak perempuan satu-satunya di keluarga kami. Sekaligus menjaga cucu pertamanya selama aku di rumah sakit dan suamiku bekerja di kantor.

Tepat setahun yang lalu, tidak terasa. Kedatangan yang hanya satu bulan itu mampu menguak kembali kenangan-kenangan indah berbaur pilu dalam kehidupan keluarga kami. Jenak-jenak yang sudah lama terkubur dalam memori mama, memendam banyak duka. Tapi tak pernah membuat mama kehilangan rasa syukur kepada Allah.

Aku lahir dari keluarga sederhana. Papa seorang guru sekaligus kepala sekolah di yayasan keluarga. Mama seorang guru agama di SD negeri di dekat rumah kami. Aku anak kedua dari empat bersaudara, semuanya laki-laki kecuali aku. Kehidupan kami sangat bahagia sampai cobaan itu datang, dan hampir merenggut seluruh asa dalam diri mama. Ya, cobaan berupa perginya papa keharibaan Yang Mahakuasa ketika aku dan ketiga saudaraku masih kecil-kecil.

Aku kelas empat SD waktu itu. Kakakku kelas lima, sedangkan adik-adikku masih balita. Aku sendiri tidak memahami bagaimana akhirnya mama bisa bangkit dari cobaan itu. Yang aku tahu, kehidupan kami bisa berjalan, meskipun dengan sangat sederhana. Aku, kakakku, dan adik-adikku bisa terus bersekolah tanpa memikirkan banyak hal, kecuali kami terbiasa hidup prihatin. Kami selalu menahan diri untuk tidak memberatkan mama, yang gajinya hanya cukup untuk makan sebulan.

Sehari-hari kami terbiasa makan dengan tempe dan kangkung. Terbiasa untuk mencari beasiswa sekedar untuk menambah ongkos ke sekolah atau ke kampus. Aku sendiri merasa ringan menjalaninya, meskipun terkadang tetap ingin seperti teman-teman yang bisa membeli apa pun yang mereka mau, atau ikut kursus apa saja yang mereka suka. Aku tahu keterbatasan mama dalam masalah keuangan ini, jadi aku jalani apa yang bisa aku jalani.

Kedatangan mama kali inilah yang telah membuka semuanya. Semua rahasia keluh kesah yang disimpan mama selama bertahun-tahun. Sekarang, bukan lagi keluh kesah, tetapi tinggal berupa memori yang pahit, namun terasa manis di akhirnya.

Aku baru tahu kalau di awal-awal meninggalnya papa, mama sempat stress. Berbulan-bulan lamanya seperti kehilangan pegangan hidup. Pergi ke sana ke mari tanpa tujuan. Kepiluan karena ditinggal pergi papa dengan empat anak yang masih kecil-kecil. Kesepian dan kerinduan akan sosok yang sangat dicintai mama, membuat beliau tertekan. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Sampai akhirnya, nasihat seorang saudara mengingatkan mama, betapa perjalanan ini masih panjang. Ada amanah yang harus dijalankan. Membesarkan anak-anak yatim yang ditinggalkan.

Mama pun bangkit. Mengais serpihan-serpihan asa yang masih terserak. Terus berusaha melawan ketakutan, kesepian, dan kesedihan. Mengumpulkan semua kekuatan yang terberi dari Sang Pemberi Kekuatan. Waktu pun berjalan terus menghantarkan buah kesabaran.

Tapi tetap tidak mudah menjalani hari-hari kala itu. Ada saja badai yang lewat, dan membuat limbung pendakian. Saat itu mama adalah kembang yang muda dan cantik. Kesendirian mama sering menimbulkan fitnah yang tak berdasar. Bahkan dari famili kami sendiri. Hal yang menyakitkan untuk mama, tapi tak pernah mama biarkan kami mengetahuinya. Semua sembilu, ditelannya sendiri.

Waktu pun berjalan, kami pun besar. Masing-masing meniti jalan kesuksesan sendiri. Alhamdulillaah, Allah menjaga kami dari pengaruh-pengaruh buruk lingkungan. Satu hal yang membuat mama bahagia dan bersyukur.

Aku sibuk dengan aktivitas di kampus, begitu pun kakak dan adik-adikku. Sering kami tak punya waktu untuk berbagi dengan mama. Kadang kesibukan kami malah mengalahkan perhatian mama. Sesuatu yang sangat aku sesali saat ini. Meskipun demikian, lantunan do'a keselamatan dan kesuksesan senantiasa mengalir dari mulut mama.

Mama, aku bersyukur masih bisa berbagi kembali tentang kehidupan. Mengetahui bagian-bagian dari diri mama yang tak pernah kutemui sebelum ini. Menguak memori untuk menguatkan asa. Membandingkan kepedihan masa lalu dengan kehidupan saat ini yang bahagia. Mama pantas mencicipi kebahagiaan ini. Kebahagiaan yang dibayar dengan kerja keras bertahun-tahun.

Mama, aku ingin melantunkan bait-bait cinta ini kepadamu. Sebagai bakti dari jasa yang tak pernah bisa terbalas. Aku ingin memelukmu mama, menemanimu menyembuhkan luka-lukamu yang telah mengering. Membayar waktu yang telah lewat, tanpa kisahmu. Mama, aku ingin belajar dari kegigihanmu mengarungi kehidupan. Do'akan aku, mama.

http://hifizahn.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Hifizah Nur sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Andree | Karyawan
Walaupun saya baru di KotaSantri.com, tapi saya sangat puas, karena penuh dengan ilmu agama, dan penggunaannya pun sederhana gak seperti yang lain, yang penuh dengan instruksi bahasa orang kafir, kasihan kan yang ingin ikut silaturrahmi tapi gak ngerti bahasanya seperti saya.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1072 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels