Anis Matta : "Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis."
Alamat Akun
http://tofan.kotasantri.com
Bergabung
13 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Tegal - Jawa Tengah
Pekerjaan
-
Tulisan Salman Lainnya
Sepotong Matahari dan Awan untuk Ibu
21 Juni 2009 pukul 18:30 WIB
Konvensional Man
17 Mei 2009 pukul 17:25 WIB
Gadis Berkerudung Ungu
12 April 2009 pukul 17:44 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 26 Juli 2009 pukul 18:00 WIB

Ambang Pintu

Penulis : Salman Rafan Ghazi

Zainab masih saja berdiri mematung di depan sebuah toko buku, dengan wajah mulai memucat dan bibir mengatup rapat. Tak percaya akan pemandangan yang sedang ia lihat di depannya. Seorang pria sedang menggandeng tangan perempuan lain di seberang jalan sembari menggendong seorang gadis kecil berumur tiga tahunan. Pria yang begitu dikenalnya sepuluh tahun terkahir ini. Pria dengan kulit sawo matang, rambut hitam ikal, dan mata khasnya itu. Dia adalah suaminya. Ya, suami Zainab.

Ah... Tega sekali kau mengkhianati cinta kita, Mas. Apakah kurang apa yang selama ini aku lakukan untukmu, Mas? Ghasal dan Zahra, apa kau tidak kasihan pada mereka? Sungguh tega. Kau jahat, Mas.

Dengan mata kepalanya sendiri, dia melihat pengkhianatan seorang suami terhadap istri. Pengkhianatan yang teramat sangat dibenci dan ditakuti oleh perempuan mana pun. Ya, dimadu dengan perempuan lain. Bendungan air matanya jebol. Meski sudah berusaha ditahan. Butir-butir hangat mulai menetes pelan di pipinya.

Kau bahkan tidak canggung dan malu menggandeng perempuan lain di tempat umum seperti ini, Mas.

***

Desas-desus itu ternyata benar. Setelah setengah tahun berlalu, akhirnya kabar itu menjelma nyata. Selama setengah tahun itu, teman-teman kantor sering bercerita melihatmu dengan perempuan lain. Entah di rumah makan, di tempat parkir sebuah mal, di supermarket, di toko baju. Ah... Bodohnya aku, tidak mempercayai mereka. Seharusnya aku mulai menyelidiki saat itu juga. Aku terlalu percaya kepadamu. Tapi kenapa kau berpaling? Apa salahku? Begitu mudahnya kau mencintai perempuan lain.

"Seminggu yang lalu aku melihat mas Yusuf di toko buku dengan perempuan lain," ujar Nana.

"Iya, aku juga. Dua hari yang lalu aku melihat mas-mu sedang berbelanja di supermarket dengan perempuan lain. Entah itu perempuan yang sama yang dilihat Nana atau bukan," tambah Ida.

"Ah, mungkin mereka teman kerja mas Yusuf atau saudaranya saja," bantahku.

"Sebaiknya kau tanyakan pada mas Yusuf saja, Nab."

Tapi itu setengah tahun yang lalu. Dan aku tidak mempedulikan perkataan mereka. Sore ini, seakan kejadian ini telah membenarkanku akan ucapan mereka. Bagai tertusuk beribu panah tepat di bagian tubuhku yang paling sensitif. Bagai tertimpa berton-ton beban berat yang meremukkan tulang. Hancur berkeping sudah kepercayaan yang telah kubangun. Luluh lantak karena tiupan badai "madu". Runtuh jatuh diterjang ombak pengkhianatan. Pintu ini diambang keretakan.

Kenapa pria tidak bisa seperti perempuan? Yang tetap setia, walaupun suami mereka bertambah gemuk dengan perut membuncit, kepala membotak dengan rambut yang mulai beruban, wajah terlihat lebih tua dan jelek, bahkan jika suami sudah tidak bisa memenuhi kewajiban suami-istri. Apakah kami akan berpaling? Tidak! Berbeda dengan pria yang selalu mencari-cari alasan untuk berpaling agar mereka bisa memenuhi hasrat mereka pada perempuan lain
.

***

"Kita cerai saja, Mas."

"Maafkan aku, Dhek. Apa tidak ada jalan lain? Kita bicarakan baik-baik. Kasihan anak-anak. Biar aku jelaskan dulu yang sebenarnya terjadi."

"Kasihan katamu, Mas? Masih bisa kau mengasihani mereka setelah kau mengkhianati kami?"

Tubuh Zainab bergetar. Dia tidak bisa menahan air mata yang sudah sedari tadi mengantri panjang untuk ke luar. Anak-anak. Hanya mereka yang dikhawatirkannya. Mereka selalu bemain dalam pikirannya. Keceriaan, kebahagiaan, kelucuan, dan kecerdasan mereka. Tapi, harus bagaimana lagi. Ketika hati telah terbagi, masihkah ada kasih sejati? Lebih baik berpisah walaupun harus mengorbankan anak-anak. Air matanya semakin deras meluncur melewati kedua pipinya.

"Kasihan mereka, Dhek. Mereka pasti membutuhkan sosok ayah."

"Aku bisa mengurus mereka sendiri, Mas."

Sesenggukan Zainab menahan tangisnya. Hancur sudah semua bahagia yang dia harapkan bisa kekal sampai ajal datang. Perceraian. Kata yang juga dibenci oleh perempuan mana pun. Dan juga dibenci Tuhan meski dibolehkan. Zainab belum bisa membayangkan bagaimana jika ia memang harus hidup sendiri dengan dua anak. Berperan sebagai ayah dan ibu sekaligus. Rasanya ia tidak akan sanggup. Tidak akan sanggup.

Seandainya kau bisa menahan dirimu, Mas. Mungkin kita masih limbung dalam balon kebahagiaan. Berdua. Selamanya. Tanpa perlu membaginya dengan perempuan lain. Namun ternyata...

***

Rima, perempuan yang menjadi madu Zainab. Perempuan yang lebih muda tujuh tahun darinya, hampir mencapai angka tiga puluh usianya. Rambut hitam legam panjang sebahu, kulit kuning langsat, hidung sedikit mancung dengan bibir merah tipis meski tanpa lipstik, cantik, manis, ayu. Mungkin itulah gambaran dari Rima saat pertama kali orang melihatnya. Tapi, ada satu hal yang tidak bisa dilihat orang secara kasat mata. Meski matanya tampak normal, namun sesungguhnya Rima tuna netra dan memiliki sedikit masalah dengan kecakapan bicaranya. Itulah alasan kenapa Yusuf menikahinya, selain Rima adalah anak Yatim dengan seorang ibu yang sudah renta. Dan Indra -anak Rima- adalah hasil dari perbuatan keji seorang pria tak dikenal.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Salman Rafan Ghazi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

mang_unus | Wiraswasta
Semoga dapat menjadi wasilah untuk semua; berbagi ilmu, memupuk ukhuwah, mengokohkan keimanan, menopang keistiqamahan.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1024 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels