HR. At-Tirmidzi : "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak."
Alamat Akun
http://idaernawati.kotasantri.com
Bergabung
7 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Yogyakarta - DI Yogyakarta
Pekerjaan
PNS
Aku adalah muslimah biasa yang selalu merindukanNya..... : merindukan cintaNya... BerkahNya.. RahmatNya... HidayahNya... dan ingin berjumpa denganNya....
http://dhidaerna.multiply.com
Tulisan Ida Lainnya
Jika Ada Tawaran Cinta
13 April 2009 pukul 17:34 WIB
Cinta itu Hanya dari Allah Semata
26 Maret 2009 pukul 18:11 WIB
Sudah Seminggu Ini Aku Tidak Makan
19 Maret 2009 pukul 17:01 WIB
Laki-laki Lebih Cepat Meninggal Dunia?
7 Maret 2009 pukul 18:22 WIB
Ketika Cinta Mengguncah Kalbuku
5 Maret 2009 pukul 19:43 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 10 Mei 2009 pukul 17:54 WIB

Pisang Kepok Ini Untukku?

Penulis : Ida Ernawati

"Sudah pukul 7.45 nih. Aku bisa terlambat nyampe kantor," pikirku. Aku pacu Mio-ku dengan kecepatan 80 km/jam. Wus... Wus..., akhirnya nyampe perempatan lampu bang-jo Jombor. Kucari dengan ekor mataku si mbah-mbah yang biasanya nongkrong di sini. Umurnya kira-kira sekitar tujuh puluh lima tahunan. Sudah kelihatan tua sekali, tetapi dia selalu ramah dan kelihatan masih sehat.

"Sesekali memang merasa pusing, karena selalu duduk di perempatan ini pada saat matahari sedang galak-galaknya bersinar. Tetapi itu tidak akan bertahan lama, kalau sudah minum bodrex," katanya, "Kemudian sehat seperti sebelumnya." Dan dia bekerja lagi untuk minta sedekah kepada pengendara yang lewat. Kadang pengendara mobil, atau pengendara motor. Yang aku perhatikan sih, dia lebih suka mendatangi pengendara mobil yang kira-kira mampu memberi sedekah.

Banyak hal yang kudapatkan dari dia, kalau uang yang kuberikan agak lumayan, atau terlalu sering menurutnya, dia menegurku, "Mbok jangan setiap hari," atau "Jangan banyak-banyak ngasihnya," dan aku selalu tersenyum setiap mendengar tegurannya, "Inggih, mbah." Kemudian kami mengobrol apa saja. Kadang aku tanya apa si mbah suka berdo'a, suka makan pake apa, kenapa kemarin dia nggak "masuk kantor", dan lain sebagainya yang membuat kami nyambung.

"Wah, iya jelas to mbak. Setiap habis maghrib ada pengajian di mesjid dekat Tamansari, dan aku selalu mengikuti pengajian itu. Cuma kemarin aku merasa pusing," begitu ceritanya. Hari-hari diluar jam kerjanya, dia melakukan aktifitas seperti biasa. Ya beribadah dan bermuamalah. Kurasa dia mempunyai kemampuan emosional yang tinggi, ketika pernah dia kuingatkan akan satu hal, dia mengucapkan terima kasih dan selalu menepati kata-katanya sendiri. Si mbah, aku begitu kagum padanya.

Tapi ketika kali ini dia tidak ada di perempatan ini, aku seperti merasa kehilangan. Ada rasa sedih, karena aku membayangkan jika nenekku masih hidup tentu seumuran dia. Apakah dia sakit, atau jangan-jangan dia meninggal? Uf, astaghfirullah. Jangan dulu, aku merasa belum mau berpisah dengannya. Dia sangat baik padaku, selalu menganggapku orang yang baik, padahal apa yang kuberikan padanya sering membuatku malu sendiri. Sangat sedikit, dibanding apa yang diberikan Allah padaku.

Umurnya yang sudah sangat tua, bahkan mungkin siapapun yang melihat dia, akan setuju kalau sebaiknya dia tinggal di rumah saja. Kasihan melihatnya. Tetapi dia sendiri merasa tidak perlu dikasihani, karena dia begitu sehat dan kuat. Dia tidak pernah memaksa orang untuk memberikan uang kepadanya. Dia sangat pengertian. Ketika orang pura-pura tidak melihat dia, dia tidak akan mendatangi, tetapi melewati saja dan mendatangi orang yang mau melihat ke arahnya atau memberikan sinyal panggilan.

Aku masih melamun, memikirkan si mbah itu, aku takut dia meninggal dunia sebelum aku berbuat banyak kepadanya. Di mana ya dia, apa ada yang peduli padanya? Ketika aku ingat dia pernah cerita, "Banyak kok teman saya," aku cukup lega. Tetapi sekarang ini, apa yang terjadi padanya? Di tengah lamunanku, tiba-tiba ada yang mencolekku dari samping. Ya Allah, si mbah itu. Dia membawa tas plastik hitam dan mengulurkannya padaku. "Ini pisang kepok buat mbak," katanya. Subhanallah, aku senang melihat dia kembali, bahkan sangat trenyuh atas ketulusannya membawakan pisang untukku.

"Untukku, mbah?" tanyaku tidak percaya. "Iya, mbak," jawabnya sambil memperlihatkan gigi ompongnya. Kemudian dia banyak berdo'a untukku. Dengan bahagia aku taruh pisang itu di motorku dan bersyukur pada Allah. Terima kasih, ya Allah. Engkau memberikan aku saudara yang begitu tulus. Di tengah ketidakmampuannya, dia telah memberikan pelajaran padaku tentang perhatian dan kasih sayang.

Engkau Maha Pengasih dan Penyayang, ya Allah. Hamba percaya itu. Engkau telah memberikan kasih sayangMu kepadaku melalui saudara-saudara semuslimku, termasuk melalui si mbah itu. Terima kasih, ya Rabb...

http://dhidaerna.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ida Ernawati sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Lina | staff adm
Subhanallah... Ingin sekali bisa bergabung, berbagi cerita, dan bertanya. Artikelnya bagus-bagus.
KotaSantri.com © 2002 - 2022
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0470 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels