Ibn. Athaillah : "Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjuangan adalah berserah diri kepada Allah sejak permulaan "
Alamat Akun
http://hari.kotasantri.com
Bergabung
8 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Kairo - Kairo
Pekerjaan
Mahasiswa Universitas Azhar
Tulisan M. Lainnya
Kenangan Terbaik
14 Juni 2011 pukul 11:22 WIB
Tetaplah Berazam, Adikku
8 Juni 2011 pukul 09:30 WIB
Pak Tua Itu
2 Juni 2011 pukul 08:00 WIB
Ridha dengan Apa yang Ada
24 Mei 2011 pukul 10:30 WIB
Muhasabah Pagi
23 Juli 2009 pukul 16:09 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 19 April 2009 pukul 18:31 WIB

Sunset di Sudut Menara Tafahna Al-Asyraf

Penulis : M. Harmin Abdul Aziz

Alam kembali menutup mata untuk sementara waktu. Ciapan anak-anak ayam berangsur-angsur lenyap. Beburungan yang tadinya berkicau-ria menikmati hijaunya padi, kini ikut jejak-langkah 'ammu petani sawah yang juga beranjak-alihkan arah menuju kediaman.

Oh, begitu berharganya sebuah gubuk mungil. Disaat waktunya tiba, semua mendapatinya sebagai tempat berteduh dari dingin dan panas, dari terpaan hujan-badai. Ladang dan sawah serta semua tempat bertebarnya penghuni bumi, suatu waktu akan ditinggalkan. Sang Pencipta sudah aturkan letak-duduk itu semua. Adakalanya semua pernak-pernik itu harus ditinggalkan dan kemudian menggantikannya dengan yang lain.

Penghuni bumi 'seribu menara pun tak ubahnya seperti kawanan beburungan. Satu-persatu meninggalkan 'ruang', pindah ke 'ruang' yang berbeda. Untuk suatu peristirahatan sementara. Waktunya bercanda-tawa serta bertatap wajah dengan segenap keluarga. Rajutkan kembali cinta-kasih. Tebarkan senyum-merkah. Subhanallah wa alhamdulillah! Engkau masih berikan kepada mereka waktu untuk dapat kembali berkumpul.

Sunset di sudut menara Tafahna. Ia membuatku harus menggoreskan tinta di buramnya kertas ini. Selain sebagai tanda berubahnya rotasi alam dari siang menjadi malam-gelap, ia juga cerminan dari suatu peristirahatan yang disediakan. Siang-terang terbentang. Allah SWT telah berikan ia sepenuhnya untuk siapa saja yang berhasrat menjadikannya indah dan berarti. Sama-sekali bukan untuk secuil karya yang hanya berpotensi mengundang murkaNya.

Lihat para petani. Lihat juga siapa saja yang menikmati asyiknya takdir. Yang tenggelam dalam cintaNya. Ia mengalir bagai air Sungai Nil. Tenang. Meski ada riak-riak kecil, menjadikannya bertambah asri dan indah. Nil kan terus mengalir sampai ke muara. Terkadang ia terkesan terlampau cuek. Meski halang-rintang berusaha menghalangi, tapi ia terus melaju. Mengalir dan terus mengalir.

Maaf, tidak ada diskriminasi di sini. Kita boleh melihat apa saja yang dapat dilihat. Seterusnya kita juga bebas memberikan kritik. Setelah sebelumnya melakukan otokritik. Aku melihat negeri yang dulu pernah berperadaban fir'auniah ini terdapat keunikan. Di samping ornamen-ornamen sebagai saksi bisu sebuah peradaban terbilang tua, juga tingkah-laku penghuninya yang sarat dengan pelajaran. Di samping pemandangan tidak mengenakkan juga tidak alfa.

Hingga suatu hari, di sebuah gambar di komputer teman. Aku melihat cantiknya sore di gambar itu. Bagai Ceoleopatra. Sunset di sudut menara Tafahna, tempat di mana temanku akan meneruskan studinya setelah berhasil lulus di Tsanawiyah Al-Azhar. Aku berikan apresiasi setinggi-tingginya. Aku katakan dia juga seorang yang tangguh. Setelah begitu lama mengukur jalanan Kairo, ia tetap mempunyai emosional yang tinggi untuk berkarya. Dan nanti ia akan terus dapat melihat sunset di sudut menara Tafahna.

"Suasana di Tafahna sangat baik untuk studi," tuturnya setelah sehari semalam surfei melihat suasana perkuliahan di sana. "Apalagi setelah malam datang, dunia senyap tanpa suara," tambahnya, sambil memperlihatkan kepadaku foto-foto. Termasuk di antara foto-foto tadi yang paling kusuka adalah pemandangan indah warna kuning-kegelapan dengan sebelah mentari tampak tenggelam. Menyisakan sinar dan tatapan berpilosofis tinggi.

Aku sering utarakan padanya, temanku, aku menyukai pemandangan ini. Bukannya putus asa dengan nikmatNya atau tidak bersyukur, tapi hanya rindu mendengar dan melihat suasana natural yang sudah sejak lama seakan raib dari pandanganku. Apalagi hingga hari ini, awal Desember 2008, umurku di Negeri Para Nabi mencapai kurang-lebih lima tahun. Sudah lumayan kaya dengan budaya dan carut-marut Egypt. Suasana kota Kairo sebagai Ibu Kota Mesir semakin membisingkan. Meski tinggal di Asrama, keadaan itu tidak jauh berbeda. Dimulai dari suara lalu-lalang pengendara, hingga ke moralitas anak-anak yang ternyata semakin merosot jauh terbelakang. Meskipun menurut mereka penghamba 'zaman edan' itulah yang disebut kemajuan.

Aku rindu dengan sengatan sang surya yang senantiasa mengintipku mandi setiap pagi di tepian-sungai Batang Tembesi, Jambi. Di sela-sela daun Terap di seberang sungai kampungku. Kangen melihat tarian daun kelapa di atas bubung rumah, pohon Durian bersama lebat buahnya terkadang membuat dahan tak kuasa bertahan dan runtuh, memancing ikan Baung dengan almarhum bapak, dan sebagainya. Itu semua dapat aku jawab di Tafahna. Sebuah daerah perkampungan di sudut Mesir. Di sana, aku dapat mengganti tarian daun kelapa yang kurindukan dangan tampian pelepah Kurma dengan buahnya yang terurai memerah dan menguning. Ah, rasanya tak tahan lagi aku ingin membangun gubuk di sini. Di tengah persawahan, bersama temanku tadi. Ajad, (bukan nama aslinya).

Lain dengan suasana Tafahna, seperti dikisahkan Ajad. Kendaraan yang mereka punya tidak bersuara, apalagi memecah angkasa seperti suasana Kairo yang dini hari mulai dipadati Honda yang bercorak rupa. Dengan mengendarai Keledai, Kuda, dan Onta, bagi mereka itu sudah lebih dari cukup. Pemandangan itu juga yang membuat suasana Desa bertambah asri dan alami.

"Nanti lah, setelah kau selesai S1, kita bisa tinggal berdua di Tafahna," tambahnya, menutup kalam. Aku hanya tersenyum kecil, karena aku juga tidak tahu mau nerusin di mana nanti setelah selesai S1 di Al-Azhar. Karena saya juga mendapat nasehat berharga dari salah seorang Abang (bukan abang kandung) untuk nyambung di Malaysia. "Bagus kau masuk UII di Malaysia bae, Min, karena metode pembelajarannya bagus. Dosen-Dosennya banyak dari luar, seperti dari Arab, kemudian di situ digalakkan diskusi kampus," begitu mahasiswa S3 di Malaysia ini sering menyarankan ketika kami chat.

Tapi, nantilah, semua ada dalam gengamanNya. Makhluk dha'if bernama manusia hanya bisa sebatas ikhtiar, selanjutnya terserah Dia. Yang bisa hanya menatap masa depan dan meraihnya dengan usaha. Tidak tinggal diam. Tidak berbuat apa-apa. Lumpuh. Karena itu juga jauh dari konsep Islam.

Aku teringat perkataan seorang penulis Inggris, Sumert Mom dalam sebuah artikelnya, "Semasa muda aku hidup mengembara, menjelajahi alam, bersua orang-orang, hari ini aku mendekati tua–renta, aku berharap dapat kembali melihat dunia dengan sepasang mataku yang renta ini."

Secarik hikmah mungkin dapat dipetik dari kalam Sumert, bahwa hidup memang harus bergerak dan terus bergerak. Menoleh alam dengan mata hati yang bersih akan hadirkan mimpi untuk menjadi ksatria-penakluk. Kita juga dapat tarik benang merah dari pemandangan yang tadi kukisahkan, bahwa menara dan dunia tak baik untuk dipisahkan. Rotasi dunia harus selalu ada di samping menara. Agama dan segala macam drama di pentas dunia harus singkronging-sejalan. Bagai kawanan burung Pipit yang beterbangan di sawah 'ammu petani tadi.

Mutsallats, 02 Desember 2008

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan M. Harmin Abdul Aziz sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Dradjat | Pegawai
KotaSantri.com memang pas menjadi tempat mangkalnya para santri yang ingin mengikuti jejak nabinya. Semoga penulisan-penulisan di KotaSantri.com yang penuh keteledanan dan pelajaran adalah wajah kehidupan santri sebenarnya.
KotaSantri.com © 2002 - 2022
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0523 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels